Wednesday, October 21, 2020
Home > Berita > Deschamps torehkan rekor langka antar Prancis juara Piala Dunia 2018

Deschamps torehkan rekor langka antar Prancis juara Piala Dunia 2018

Didier Deschamps dielu-elukan para pemain setelah Prancis memenangi Piala Dunia 2018, Minggu malam. (bola.com)

MIMBAR-RAKYAT.com (Moskow) – Didier Deschamps, pelatih tim nasional Prancis, dengan mengesankan mengantarkan negaranya meraih gelar juara Piala Dunia 2018, setelah mengalahkan Kroasia 4-2 pada laga final yang berlangsung di Stadion Luzhniki, Moskow, Rusia.

Setelah kemenangan pada Minggu malam waktu setempat itu,  Deschamps tercatat dalam rekor langka sebagai individu yang berhasil memenangi Piala Dunia sebagai pemain dan pelatih.

Sebelumnya, pada Piala Dunia 1998, Deschamps yang kala itu mengemban tugas sebagai kapten, sukses mengantarkan Prancis meraih piala dunia pertama usai mengalahkan Brazil 3-0 di hadapan publik sendiri.

Deschamps merupakan individu ketiga yang berhasil mencapai prestasi tersebut, setelah Mario Zagallo dan Franz Beckenbauer.

Zagallo merupakan sosok pertama yang menorehkan prestasi tersebut dengan catatan menjuarai Piala Dunia 1958 dan 1962 bersama Brazil, kemudian menukangi negaranya saat menjadi kampiun Piala Dunia 1970.

Lantas pada Piala Dunia 1990, Beckenbauer mencapai hal serupa dengan   menduduki kursi pelatih Jerman Barat saat menjadi juara di Italia, setelah   sebelumnya ia mengangkat Piala Dunia 1974 sebagai kapten negaranya itu.

Satu nama lain, sosok ikonik sepak bola Jerman Rudi Voeller –yang di bawah asuhan Beckenbauer menjuarai Piala Dunia 1990– sempat berpeluang untuk mencatatkan rekor serupa kala membawa negaranya ke final Piala Dunia 2002, namun saat itu Jerman kalah 0-2 di tangan Brazil.

Laga menarik

Prancis menjuarai Piala Dunia untuk kedua kalinya dengan menghancurkan mimpi Kroasia untuk meraih gelar perdananya dengan kemenangan 4-2, banyak kalangan menganggap sebagai salah satu pertandingan final menarik dalam satu dekade.

Prancis memimpin 2-1 saat turun minum setelah gol bunuh diri Mario Madzukic dan penalti VAR Antoine Griezmann, di mana Ivan Perisic sempat menyamakan kedudukan untuk Kroasia.

Gol cepat dari Paul Pogba dan Kylian Mbappe pada pertengahan babak kedua membawa Prancis semakin jelas menuju gelar juara, namun Mandzukic sempat mengemas satu gol balasan dengan memanfaatkan kesalahan penjaga gawang Prancis Hugo Lloris, untuk membuat 20 menit terakhir berlangsung menegangkan.

Bagaimanapun, Prancis mampu meredam gempuran Kroasia untuk mengangkat piala untuk kedua kalinya, menyusul kesuksesan mereka di kandang sendiri 20 tahun silam, dan memastikan tidak ada ulangan dua tahun silam ketika mereka ditaklukkan Portugal di final Piala Eropa di Paris.

Kemenangan ini membuat Didier Deschamps, kapten tim 1998, menjadi orang ketiga yang menjuarai Piala Dunia sebagai pemain dan pelatih setelah Mario Zagallo asal Brazil dan pria Jerman Franz Beckenbauer.

Ini merupakan final dengan skor terbesar sejak Inggris menang 4-2 atas Jerman Barat setelah perpanjangan waktu pada 1966, dan skor tertinggi di waktu normal sejak Brazil menang 5-0 atas Swedia 50 tahun silam.

Kroasia memulai pertandingan dengan penuh energi namun tertinggal terlebih dahulu akibat gerakan salah Mandzukic.

Pemain yang mencetak gol penentu kemenangan pada masa perpanjangan waktu saat melawan Inggris di semifinal, melakukan gol bunuh diri ketika tendangan bebas Griezmann mengenai kepalanya sehingga masuk ke gawang sendiri pada menit ke-18. Itu merupakan gol bunuh diri ke-12 di turnamen akbar ini.

Hal itu berarti inilah pertandingan fase gugur untuk keempat kalinya secara beruntun di mana Kroasia kemasukan gol terlebih dahulu, namun Perisic, yang menyamakan kedudukan saat melawan Inggris, mampu menyamakan kedudukan sepuluh menit kemudian, dengan melepaskan tembakan keras mendatar setelah Sime Vrsaljko menyundul tendangan bebas Luka Modric di kotak penalti.

Namun kali ini Perisic berubah dari pahlawan menjadi pendosa ketika lengannya mengenai bola pada situasi tendangan sudut, setelah peninjauan ulang VAR, wasit asal Argentina Nestor Pitana menghadiahkan penalti ke-28 di turnamen ini, suatu rekor lain, yang sukses dikonversi Griezmann pada menit ke-38 untuk menjadi gol keempatnya di Rusia 2018.

Hal itu juga menjadikan ini merupakan babak pertama dengan gol terbanyak sejak 1974, ketika Jerman Barat unggul 2-1 atas Belanda — skor yang juga menjadi skor final saat itu.

Ini merupakan akhir yang pahit bagi Kroasia,  lansir antaranews, karena pemainnya lebih banyak berlari; namun mereka kembali menjadi tim yang tampil lebih baik setelah turun minum, terus-menerus memenangi duel-duel satu lawan satu di udara dan menggebrak kotak penalti Prancis dengan banyak variasi serangan.

Namun pertahanan Prancis, yang tampil begitu impresif sepanjang turnamen, mampu meredam serangan-serangan lawan dan mereka memimpin 3-1 pada menit ke-60 ketika Mbappe dan Griezmann bekerja sama untuk mengirimkan bola di tepi kotak penalti.

Tembakan kaki kanannya dapat diblok, namun ia sukses menyambut bola pantul dengan kaki kirinya.

Peluang tim Kroasia untuk bangkit terlihat masih besar namun mereka seakan kehilangan roh dan terkubur enam menit kemudian.

Lucas Hernandez menggebrak di sayap kiri untuk mengirimkan bola kepada Mbappe, yang melepaskan tembakan mendatar melewati kiper Danijel Subasic, melahirkan gol keempat pemain 19 tahun itu di turnamen ini.

Kesalahan yang dilakukan Lloris menghidupkan semangat Kroasia, ketika kiper Prancis berusaha untuk menggiring bola melewati Mandzukic untuk kemudian bola dapat dicuri sang penyerang untuk kemudian dimasukkan ke gawang yang kosong.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru