Tuesday, March 31, 2026
Home > Cerita > Cerita Pendek > “Apa Maunya Bu Fat Ini?”, Cerpen Reva Dedi Utama

“Apa Maunya Bu Fat Ini?”, Cerpen Reva Dedi Utama

 “Pak Ali saya ijin sholat subuh dulu….,” pinta Burhanudin, lelaki 20 tahunan, kepada juragannya.

Perkara sholat lima waktu Burhan tidak pernah lalai. “Han sesibuk apapun wa-ang (kamu) jangan pernah tinggalkan sholat yaa,” begitu petuah Amaknya.

Burhan sudah dua tahun berkerja untuk Pak Ali, juragan sayur mayur di Pasar Kramat Jati, Jakarta Timur. Itu pasar tradisional yang menggeliat mulai tengah malam hingga pagi datang.

Burhan menangani semua proses jual-beli. Bersamaan matahari muncul dagangan habis terjual. Pak Ali menyadari sejak dibantu Burhan dagangan bertambah laku.

Pelangan banyak emak-emak, tua dan muda. Burhan jadi daya tarik, lantaran sopan, plus ganteng. Bu Ali yang berdarah sunda memangilnya, “Burhan kasep.”

Selesai berdagang Burhan kembali ke kontrakan rumahnya, di belakang pasar. Dia berbagi kontrakan dengan dua kawan seusia, Agus dan Markus.

Agus asal Sleman pegawai toko elektronik. Markus si anak Medan, tukang parkir di pasar Kramat Jati. Jam kerja Burhan, berbeda dengan kedua kawannya itu.

“Nah… si kalong baru pulang. Sesekali bawakanlah awak sarapan,” kata Markus bercanda. Agus tertawa, Burhan cuma menyeringai.

Kerjaan Burhan tidak cuma dagang sayur. Bada’ sholat dzuhur dia membantu Markus, memakir kendaraan, hingga senja datang. Tujuh hari sepekan, tak ada libur.

Alhamdulillah, sekitar delapan bulan lalu, saat tabungannya cukup, Burhan kuliah di Akademi Indonesia Maju, kampusnya di Cililitan. Kuliah malam, jurusan komunikasi. Dia ingin jadi wartawan.

++++

Sejak usia 18 tahun, sehabis lulus SMA (Sekolah Menengah Atas), Burhan sudah meninggalkan rumah, memilih tidak kuliah.

Itu bukan karena Burhan sulit menyerap pelajaran. Dia tidak mau membebani bapak-ibunya, yang kembang-kempis membiayai dia, dan dua adiknya.

Burhan sadar diri, mau mandiri. “Terserahlah, wa-ang kan anak laki, tentukanlah jalan hidup wa-ang surang (sendiri),” ujar Apaknya.

Sementata Amaknya tertunduk menghapus air mata, membatin, “tibo juo waktunyo.” (tiba juga waktunya)

Sepekan kemudian, Burhan berpamitan ke Apak-Amak dan kedua adiknya. Ke Anisa, pacarnya, dia menitip surat perpisahan, via Zainudin kawannya. Burhan memadamkan percik cintanya.

Tujuan Burhan cuma satu, ke Jakarta merantau. “Han mangaa (kenapa) jauaah…jauahh ka Jawa (Jakarta). Awak indak ado pamili di sinan (di sana),” lirih Amak Burhan.

Ke Jakarta impian Burhan sejak kecil. Dia takjub melihat gedung-gedung tinggi dan ramainya mobil hilir-mudik. Juga orang lalu lalang di jalan Husni Thamrin, yang dia lihat di televisi tetangga.

Burhan sudah mempelajari cara menuju Jakarta, dari kampungnya, di pinggiran Payakumbuh, Sumatera Barat. Uang ongkos bus dan biaya makan ada, hasil tabungan kerja serabutan.

Bus Mitra Andalas nyaman, lajunya kencang. Tapi bagi Burhan kurang. Setelah tiga hari, dua malam, bus sampaikan juga di Terminal Kampung Rambutan, saat azan subuh berkumandang.

Usai sholat subuh di mushola terminal, Burhan ingin ke Pasar Induk Cijantung. Dia berfikir, pasar adalah tempat paling mudah mendapat kerjaan. Tapi dia salah naik mikrolet, justru berlawanan arah ke Cililitan.

Melaju sekitar 10 menit, mikrolet terjebak macet. Burhan melihat keramaian, ada pasar tumpah hingga ke jalan. Seperti ada yang menuntun, dia turun dari mikrolet, jalan menyeberang.

Burhan melihat sepasang bapak-ibu pedagang sayur kewalahan melayani pembeli. “Pak… saya Burhanudin, bolehkah saya bantu?” ujar Burhan.

Mungkin rezeki anak soleh, mulai subuh itu Burhan berkerja membantu Bapak dan Ibu Ali berdagang sayur mayur. Pak Ali juragan baik, mengupah Burhan dengan cukup.

Bulan lalu, Burhan bisa beli kredit motor bekas, dari tabungan, sisa biaya hidup, biaya kuliah, dan kirim uang untuk Amaknya di kampung.

Burhan senang dan betah berkerja dengan Pak dan Bu Ali, sekalipun waktu hidupnya terbalik. Terjaga di malam, tidur di siang hari.
++++

“Burhan mengapa belum pulang?” Suara halus perempuan menyapa. Burhan reflek tengadah, di depannya berdiri dosen Fatimah, Burhan tergagap.

“Oooh Ibu Fat, maaf tak lihat. Aku istirahat, tadi pelajaran jurnalistik investigasi sulit banget, kepala berat,” Burhan beralasan. Kampus mulai sepi, hari beranjak malam

“Walah…jadi saya yang salah? Lain kali kamu ngak usah ikut,” balas Fatimah, dosen jurnalistik investigasi sumber Burhan mendapat ilmu.

“Ayukk pulang, kamu bisa antar saya.”

Burhan terperangah. “Ahh yang benarr…. trus mau naik motor Bu???

“Siapa takut, rumah saya di belakang gedung Nasional Gobel, di Jalan Dewi Sartika. Hanya sepuluh menitan dari sini,” balas bu dosen.

Burhan menghambur ke tempat parkir, menghidupkan mesin motor, bergerak menyemput Bu Dosen, yang menunggu, pakai celana jeans biru, dan kemeja putih. Sumpah cantik, modis, tentu seksi.

Motor melaju.. “Rumah mu di mana Burhan,” sayup terdengar suara Bu Dosen, berbaur dengan bisingnya jalan dan tiupan angin.

“Di Kramat Jati Bu.” Motor Burhan terguncang melindas jalan berlubang.” Reflek tangan dosen Fatimah memeluk pinggang Burhan.

“Maaf ya Bu, tidak lihat ada lubang .”

“Santai, tak apa apa, saya biasa naik motor koh,” jawab bu dosen, tangannya tetap memeluk pinggang Burhan.

Yang dipeluk pinggang, yang sesak justru dada. Sesak bertambah, begitu dosen Fatimah menempelkan badannya ke punggung Burhan.

“Apa maunya Bu Fat ini?” Burhan berkata dalam hati.

Dosen Fatimah jelang 30 tahun, tapi penampiannya lebih muda lima tahun. Dia dosen favorit, cantik dan cerdas. Burhan ngefans berat sama itu dosen. .

“Burhan bagaimana kalau kita makan dulu, kamu belum makan kan?”
“Apa Bu?”
“Kita makan, saya lapar. Itu di depan ada warung sea food. Saya yang traktir,” ujar bu dosen.

Ketika turun dari motor, Dosen Fatimah meraih lengan Burhan. “Aku maunya dipanggil mbak,” bisik bu dosen, lalu melangkah ke warung, tetap memegang lengan Burhan.

“Nah…kamu mau makan apa Burhan?”
“Ikut aja bu ehh …mbak.”
“Kita makan ikan baronang bakar ya, enak, kamu pasti suka,” suara bu dosen semakin merdu.

Hati Burhan kembali berbisik. “Apa maunya Bu Fat ini?”

“Maaf banget mbak, apa suaminya tidak jemput?” tanya Burhan pelan. Pertanyaan yang sejak tadi ingin disampaikan.

“Apa.. aku kurang dengar?”
“Mbak Fatimah sudah bersuami?”
“Hahhahaha… menurut kamu, sudah atau belum?” bu dosen mamajukan wajah cantiknya. Burhan berdegup.

“Tenang Burhan, aku belum menikah, tak punya suami,” ujar Bu Bu Dosen enteng.

Burhan lega, apalagi Dosen Fatimah tidak lagi pakai kata saya menyebut dirinya, tapi aku. Selalu menatap dengan mata sayu.

Hati Burhan kembali berbisik, “apa maunya Ibu Fat ini?” Apa Bu Fat penyuka brondong?”

Malam sudah lewat pukul sembilan. Motor Burhan sampai di depan rumah Dosen Fatimah.
“Mampir dulu ya Burhan, aku cuma bersama bibi di rumah. Kita ngobrol lagi,” suara bu dosen memohon.

Burhan tidak menjawab, tapi mematikan mesin motor. Dosen Fatimah menunggu, lalu mengandeng Burhan masuk ke dalam rumah..

Ini rumah kontrakan. Bapak-Ibu di Bandung.” ujar bu dosen tanpa ditanya. “Tunggu ya, aku salinan dulu.”

Sekejab, Dosen Fatimah kembali memakai daster batik, seksi tanpa lengan. Lalu duduk di sebelah Burhan. Kakinya putih mulus. Seksi banget, dan aromanya semakin wangi,

Dosen Fatimah lebih aktif bicara. Sampai suatu saat. “Burhan… belum punya pacarkan?” tanya bu dosen manja. Sungguh, Burhan ingin mendekapnya.

Apa yang dikhawatirkan, tapi diinginkan Burhan terjadi. Fatimah bergeser mendekat, mencium lembut pipi Burhan, lalu berbisik. “Burhan, aku mau disay….”

Kali ini, tak lagi dalam hati, tapi terucap kencang, “APA MAUNYA BU FAT INI?”

“Hoooiii… buyuuaang, bangun, sudah siang niihh, jaga parkir kau,” Markus menggoyang badan Burhan.

“Siapa itu Bu Fat?” Ngigau aja kerjaan kau,” semprot Markus, yang menyusul ke kontrakan karena Burhan belum juga ke keparkiran.

Burhan tersentak, dan menyambak rambut sendiri, “waalah… mimpi rupanya.”.

***

jakarta, januari 2026.

(Penulis, RDU (Reva Dedi Utama), saat ini menjabat Pemred di stasiun televisi ANTV dan Wapemred di tvOne. Memulai karir sebagai jurnalis tahun 1986 di Harian Umum Pelita.

Penulis orang minang, alumi Fakultas Hukum Universitas Kristen Indonesia tahun 1984. Ketika usia muda, penulis atlet sepak bola, dan sempat bermain untuk klub Persija Jakarta tahun 1978-1982)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru