Wednesday, June 10, 2026
Home > Cerita > Cerita Pendek > Pertemuan, Cerpen Hendry Ch Bangun

Pertemuan, Cerpen Hendry Ch Bangun

 “Kenapa harus terburu-buru. Aku ingin bercakap-cakap lebih lama, tapi kita hanya bertemu secara formalitas. Lalu kau seketika mau pergi, ingat tugas, ingat pekerjaan, ingat kemacetan, ingat dunia.”

“Maafkan aku. Itu kebiasaan sejak kecil. Selalu ingin serba cepat.”

“Hargailah pertemuan ini. Aku ingin kau menikmati perbincangan.”

“Aku tahu tapi kadang aku lupa seketika. Ah aku memang payah.”

“Aku ingin kau menghayati setiap kalimat yang kau ucapkan. Dalami. Renungkan, supaya masuk ke dalam batinmu dan tidak sekadar melepaskan kata-kata.”

“Aku faham”

“Kau tahu kan arti kata-kata yang kau ucapkan?. Makna dari kata-kata yang keluar dari mulutmu?”

“Ya aku tahu, walau kadang setengah-setengah menangkapnya.”

“Cobalah pikirkan lebih dalam. Rasakan.”

Langit mulai terang. Dia terkesiap begitu melangkahkan kaki ke arah luar dari masjid yang mulia itu. Bersama ratusan dan mungkin ribuan orang yang berjalan dengan mulut komat-kamit, mengesakan Dia, memuji namaNya, dan memohon ampun atas dosa-dosa yang dilakukan sepanjang hayat. Mengikuti arus, beraturan agar tidak terjerembab, dia melangkah dalam perasaan galau.
Dia merasa ada yang kurang, bahkan mungkin salah, dalam menjalankan kewajiban salatnya selama ini. Tidak menikmati, tidak menenggelamkan diri dalam kekhusukan, dan melupakan dunia sekelilingnya. Sekadar formalitas saja layaknya.

Bahkan ketika sujud, yang sering dikatakan sebagai wujud pertemuan Sang Pencipta dengan HambaNya, kadang ada saja ingatan dan pikiran yang melintas dan mengganggu. Padahal banyak anjuran, bercakap-cakaplah dengan Dia, sampaikan keluh kesah, sampaikan kegusaran, kebingungan, kekhawatiran, dan mintalah sesuatu. Apakah itu rasa tenang, kebahagiaan, hidup yang layak, dan apa saja, karena Dia lah Yang Maha Kuasa, Dia lah pemilik langit dan bumi, pemilik rezeki, yang menghidupkan dan mematikan.
Dia terus berjalan melewati lorong berlantai marmer yang dingin, dalam ruang besar ramai hiasan yang sepenuhnya diberi pendingin udara. Sambil memandangi alur manusia yang berjalan bersama, dia merasa menjadi orang yang paling rugi. Di peristiwa besar ini, sepertinya hanya dia yang tidak memanfaatkannya dengan maksimal.

Jam tinggi yang menjulang tinggi sudah terlihat. Clock Tower. Atau juga Zamzam Tower. Ikon penanda. Gedung-gedung tinggi, yang menjadi hotel-hotel, tempat perbelanjaan, toko oleh-oleh, dan banyak rumah makan terkenal. Melihat ke WC 3 yang menjadi tempat rendezvous, titik temu orang-orang berkumpul. Suami yang menunggu istri, kakek menunggu nenek, menunggu teman satu rombongan. Untuk pulang bersama-sama, entah dengan berjalan kaki ataupun naik bus, menuju hotel-hotel yang menampung jamaah yang ingin rehat sebentar.

Dia terus berjalan. Untuk rehat sejenak nanti, sarapan, dan kembali. Dalam perjalanan yang ramai, dan sebaliknya juga banyak orang yang baru berangkat ke masjid dengan suara merdu, “Labaik allahumma labaik. Labaik la syarika labaik.” Rombongan yang baru memulai proses umrah. Mereka sudah berpakaian ihram dan siap melakukan tawaf dan sa’i. Tidak pernah sepi jalanan ini. Selalu ada yang datang dan ada yang pergi.*

Banyak yang menangis ketika pertama kali melihat wujud ka’bah dan bersimpuh langsung karena begitu terharu. Dia hanya memandang dan memujiNya karena telah diberi kesempatan untuk datang ke tempat ini. Ada bahagia yang tidak terucapkan. Apalagi ini menjadi kesempatan yang sudah ditunggu sejak lama dan beberapa kali gagal berangkat, terakhir karena wabah Covid.

“Alhamdulillah sudah memperkenankan aku datang ke rumahMu. Jadikan aku orang yang pandai bersyukur atas nikmat-nikmatMu.”
Dia terus melangkah di jalanan yang cenderung menanjak beberapa derajat. Langkah sedikit berat tetapi tidak terasa karena keramaian jalan dua arah, yang kadang juga dipenuhi pedagang kagetan yang menjual, buah, kurma, baju, minyak wangi, baju muslim, dan baju perempuan.

“Aku harus lebih khusyuk,” katanya dalam hati, “Agar pertemuan-pertemuan menjadi lebih berarti dan tidak menjadi sekadar basa-basi dan kewajiban.”

Kata banyak ulama, dan juga cerita yang dia peroleh dari ahli agama, khususnya di salat tahajud, sujud menjadi titik paling penting.
“Kamu tidak perlu menyampaikan doa atau apa, sujud saja. Bayangkan Tuhanmu berada di hadapanmu, memandangmu dengan senyumnya yang indah. Dia mencatat kehadiranmu ketika orang lain tidur. Dia memahami semua isi hatimu. Apa yang engkau rasakan. Apa yang ingin engkau sampaikan. Dia merasakan ketakutanmu. Dia merasakan kekuranganmu,” kata seorang ulama target audiensnya kalangan muda dan professional.

“Diamlah dalam sujud sekitar 10 menit. Di tengah malam yang hening. Ketika hanya ada kau dan Dia, Yang Maha Agung, Yang Maha Kuasa. Lakukan terus. Dan pada akhirnya pertemuanmu dengan Dia akan menjadi kenikmatan. Ya seperti bertemu langsung dengan Dia Yang Maha Mulia, yang mengatur seluruh kehidupan manusia.”

***
Meskipun salat malam waktu pertemuan paling sakral karena dilakukan ketika suasana sunyi, hening, manusia pada umumnya tenggelam dalam tidur mereka, setiap pertemuan nilainya ya sama tingginya. Seperti subuh tadi.

Dia menyaksikan di masjid yang mulia itu, ada saja yang berdoa sambil menangis, seperti sedang berbicara sambil menengadahkan tangan, menggerak-gerakkan tangan dan kepala, dialog di tengah keramaian tanpa peduli penglihatan orang lain. Orang itu telah “bertemu” Yang Maha Kuasa dan berbincang-bincang dengan khusyuk.

Berjalanlah ke arahKu dan Aku akan berlari menyongsongmu, ada bunyi hadis seperti itu yang memperlihatkan terbukanya tangan Dia kepada hamba yang ingin berdialog, bahkan meminta sesuatu dari Nya. Luar biasa. Dia pemilik alam dan seluruh isinya. Dia yang menciptakan kehidupan dan kematian. Dia yang menentukan setiap kadar, termasuk nasib manusia. Tapi justru Dia lebih antusias dalam menyambut hambaNya yang ingin berbicara dan meminta. Maha Agung, Maha Perkasa, tetapi juga Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Meski kadang kita yang malas “bertemu” dan lebih memilih dan terperangkap dalam kejenuhan, egoisme, ketakutan, kebingungan, over thinking pada saat terlibat dalam suatu masalah.

“Betapa kelirunya aku selama ini. Ada tangan yang terbuka dan aku membiarkan diriku menjadi seperti orang yang sombong dan over confidence” katanya sesampai di kamar hotel yang sejuk dengan kasur empuk. Dia menyeduh kopi dan sebentar lagi akan sarapan dan rehat dua-tiga jam sebelum kembali ke masjid.

Tak lama dua orang teman sekamarnya juga datang. Keduanya langsung merebahkan diri di tempat tidur yang dingin. Wajah mereka kelihatan penuh peluh.

“Mau melempangkan pinggang dulu. Tadi jalan keluarnya disuruh muter oleh askar, jadi lebih jauh dari tempat kemarin,” kata seseorang.

“Saya mampir di apotek beli obat batuk,” ujar teman yang satu. “Mahal juga ya. Kena 22 riyal (sekitar Rp 100.000). Padahal di rumah paling mahal Rp 30.000.”
Mereka seperti mobil listrik yang charge sebentar untuk isi baterai. Setelah terisi penuh, mereka akan bergerak lagi ke tujuan yang sama. Tempat pertemuan yang dirindukan manusia di seluruh penjuru dunia.

***
Ciputat 14 Mei 2026

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru