Pertama kali saya mengenal Pak Alex Noerdin ketika dipertemukan oleh Ketua Umum PWI Pusat 2003-2008, Tarman Azzam di rumah sebelah Pompa Bensin di Jalan Merdeka Palembang.
Saya lupa tahunnya, tetapi ketika itu saya diajak untuk mendengarkan komplain Pak Alex yang menjabat sebagai Bupati Musi Banyuasin soal pemberitaan. Dia mengaku banyak diberitakan secara negatif tanpa konfirmasi dan merasa ada itikad buruk.
Dalam diskusi saya menyampaikan gagasan yang bersifat normatif, saya katakan sebagai orang yang menonjol—karena prestasi Muba yang tercatat sebagai salah satu kabupaten dengan APBD tertinggi di Indonesia, mampu menyelip di antara Kutai Barat, Kutai Timur, Kutai Kartanegara di 5 besar, maka sudah pasti akan banyak yang tidak suka. Khususnya lawan politik dan konco-konconya. Semakin tinggi pohon, akan semakin besar tiupan angin.
“Bapak biarkan saja. Atau pakai hak jawab,” kata saya. Tampaknya beliau kurang puas dan ingin agar pemberitaan tidak berimbang hilang, yang saya jawab akan sulit sekali karena sejak Reformasi orang dapat semaunya menjadi wartawan atau membuat media. Tetapi Pak Alex memang sering mengundang berbagai wartawan dari media di Jakarta untuk datang ke Sekayu atau ke Palembang setelah dia menjadi Gubernur Sumsel.
Saya juga sempat berkunjung ke Sekayu untuk menyaksikan beberapa kemajuan kabupaten itu, bersama beberapa wartawan Jakarta. Di sana ada lapangan terbang kecil, yang digunakan Pak Alex untuk terbang kalau ingin cepat ke Palembang, mengatasi jalan darat yang bisa menempuh waktu sekitar 3,5 jam. Dia sempat menawari juga waktu itu,” Kalau mau ikut ayo,” ujarnya yang tentu saja saya tolak agar solider dengan teman lain yang diundang.
Pertemuan berikutnya terjadi ketika Palembang ditetapkan sebagai tuan rumah Hari Pers Nasional pada tahun 2010. Pada saat itu, sebagai Sekjen PWI Pusat, bersama Ketua Bidang Pendidikan Marah Sakti Siregar, dan Ketua PWI Sumsel, Oktaf Ryadi, kami menjajagi berdirinya Sekolah Jurnalisme Indonesia. Dengan berbagai upaya dan kerja keras maka Pak Alex setuju bertepatan dengan HPN SJI ditelorkan dan Palembang menjadi catatan sejarah sebagai kota yang menjadi pelopor SJI.
Yang luar biasa kuliah perdana SJI diberikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sekaligus membuka SJI, diikuti peserta yang sebagian besar dari Sumsel. Pengajar yang hadir waktu itu antara lain Rosihan Anwar, Sabam Siagian. Sampai tahun lalu, SJI dibuka pejabat tertinggi adalah oleh Menteri Pendidikan Nadiem Makarim di Bandung atau Plt Gubernur Sumut di Medan, Agus Fathoni. SJI lalu bergulir ke beberapa provinsi seperti Kalsel, Kalteng, Jateng, dll.
Pak Alex yang di puncak acara HPN 2010 itu diberikan Pena Emas dari PWI, juga setuju untuk membang Pusat Pelatihan Wartawan ASEAN. Di sana akan diadakan berbagai pelatihunan internasional dengan peserta dari negara-negara ASEAN, yang dengan sendirinya akan memberi kesempatan banyak bagi wartawan di Tanah Air. Dia kemudian menginstruksikan Pembangunan gedung di kawasan olahraga Jaka Baring, yang didisain ada kamar penginapan untuk peserta. Sayangnya setelah Gedung selesai, yang sekaligus akan dipakai sebagai kantor secretariat PWI Sumsel, karena tidak digunakan, beberapa waktu kemudian diambil alih oleh Pemprov Sumsel.
***
Kenangan lain bersifat pribadi. Saya diajak salah satu orang dekatnya bertemu di sebuah hotel bintang 5 di Jakarta, karena Pak Alex ingin mendirikan surat kabar, yang kemudian diberi nama Berita Pagi. Sebagai wartawan Kompas, dianggap saya mungkin mampu memimpin surat kabar. Tetapi dalam pertemuan itu saya mengatakan ingin bertahan di tempat kerja sampai pensiun dan mengajukan nama seoerang teman, Atal S Depari.
Dalam pertemuan berikutnya setelah disetujui secara umum konsepnya, ditetapkan time line agar koran bisa diterbikan dalam jangka waktu tertentu. Dan benar saja Atal dengan sebagian awak berpengalaman berhasil menerbitkan Berita Pagi, yang kemudian tumbuh menjadi media berpengaruh di Sumatera Selatan, bersama Sumatera Expres dan Sriwijaya Post. Saya sempat diundang waktu peringatan ulang tahun pertama media di hotel Swarnadwipa.
Saya juga ikut diundang untuk hadir dalam resepsi pernikahan anaknya di Palembang, yang tentu saya hadiri sebagai bentuk penghormatan.
Tidak hanya dengan Pak Alex, saya pun berkenalan dengan Dodi Alex Noerdin, yang waktu itu sudah terpilih sebagai Bupati Musi Banyuasin. Ayah dan anak adalah pribadi yang menyenangkan dan dekat dengan media, seperti tidak ada jarak antara wartawan dan narasumber.
Setiap kali ke Palembang, saya hampir selalu menggunakan MRT dari Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II karena cepat dan murah. Setelah itu saya turun di stasiun, tergantung akan menginap di mana, dan meneruskan perjalanan dengan Grab. MRT yang dibangun untuk dan bersamaan dengan Asian Games Jakarta Palembang 2018, sangat efektif untuk transportasi yang cepat dan murah.
MRT ini menjadi ikon Palembang, prestasi Alex Noerdin, bersama kompleks olahraga Jaka Baring, yang masih bisa dinikmati masyarakat sampai saat ini.
Saya sempat mengikuti persoalan hukum yang melibatkan Pak Alex dan juga Dody Alex Noerdin di media massa, tetapi saya tidak mendalaminya. Saya hanya ingin melihat prestasi dan kebaikan bapak dan anak, yang menurut saya termasuk langka di Indonesia. Dan seharusnya Sumatera Selatan, Musi Banyuasin, bangga kepada mereka.
Sebagai Sekjen PWI 2008-2018, saya bersaksi kontribusi besar Pak Alex Noerdin bagi organisasi wartawan ini, entah untuk PWI Pusat ataupun PWI Sumsel. Semoga Husnul Khotimah dan diberi tempat mulia di sisiNya. Aamiin ya rabbal alamin.
***
Ciputat 25 Februari 2026.
