Saturday, April 17, 2021
Home > Pilihan Redaksi > Ramadan dan “Ramadan-Ramadan” Oleh A.R. Loebis

Ramadan dan “Ramadan-Ramadan” Oleh A.R. Loebis

Ilustrasi - Ramadan dan "Ramadan-Ramadan". (gulfnews)

Bulan Ramadan merupakan momen menjalankan berbagai ibadah dan Sang Maha Pencipta menyatakan bahwa Ramadan menjadi waktu khusus untuk melakukan puasa wajib, sedangkan ibadah malam hari menjadi ibadah sunah.

Ini juga merupakan ibadah personal sekaligus sebagai ibadah massal karena pelakunya umumnya berbondong-bondong ke tempat ibadah–utamanya pada minggu pertama hingga kedua–, kemudian secara sugestif mundur dari kegiatan massal itu ketika isi masjid mulai surut, dengan berbagai alasan.

Kegiatan ibadah dalam bulan suci menyebarkan aroma spiritual sampai ke lorong-lorong jalan. Maraknya kegiatan ibadah, bahkan relatif mengurangi tempat hiburan legal, apalagi ilegal. Ini terjadi karena dukungan sifat ibadah yang massal tadi sehingga semangat individual tumbuh, ditandai pula dengan jumlah rakaat salat sunah yang bertambah.

Ramadan disebut pula sebagai bulan berkah–dalam bahasa manajemennya berarti meningkatkan kualitas kerja (amal)–karena arti berkah berkonotasi bertambah.

Turunnya berkah bergantung pada masing-masing orang, bagaimana dia memosisikan keagungan Ramadan dengan berbagai aktivitas secara kualitas dan kuantitas.

Dalam menjalani ibadah perorangan sekaligus massal ini–ada pesan melalui hadis–banyak orang yang melaksanakan puasa, tetapi hanya merasakan lapar dan dahaga.

Mereka hanya puasa tanpa makan dan minum, tetapi tidak mempuasakan bagian-bagian lain dari fisik dan rohaniah mereka.

Dalam salah satu hikayat, disebutkan bahwa pada suatu siang Ramadan, pernah seorang sufi muda dipanggil Tuan Guru. Si sufi muda mengatakan, “Saya lapar.”

Tuan Guru memanggil anak didiknya tersebut dan berkata, “Kamu bohong.”

Saya benar lapar Tuan Guru. Mengapa Guru berkata demikian?” tanya si sufi muda.
“Sebab, rasa lapar adalah Sirulloh, merupakan salah satu rahasia dari rahasia-rahasia Allah yang tersimpan rapat di ‘gudang-gudang’ simpanan Allah dan tidak akan diberikan kepada orang yang membocorkan rahasianya,” tutur Tuan Guru.

Syekh Abu Nashr as-Sarraj dalam salah satu kitab bercerita: Ada seorang dari kaum sufi datang kepada seorang guru sufi. Kemudian, sang guru menyuguhkan makanan kepadanya, lalu dia makan.

“Sejak berapa hari Anda tidak makan?” tanya sang guru pada orang itu.

“Sejak lima hari,” jawabnya.
“Lapar yang Anda rasakan bukanlah lapar kefakiran. Akan tetapi, lapar Anda adalah lapar karena bakhil. Bagaimana Anda bisa merasakan lapar sementara Anda masih berpakaian?” tutur sang guru, seperti disiarkan dalam sufimuda.com, kepada tamunya.

Si guru sufi berkata, “Apabila kalian kenyang, mintalah lapar kepada Dzat Yang mengujimu dengan kekenyangan. Apabila kalian lapar, mintalah kenyang kepada Dzat Yang menguji dengan kelaparan. Apabila tidak demikian, kalian terus-menerus melampaui batas.”

Guru sufi memberi nasihat kepada murid-muridnya, “Kalau puasa sehari saja kalian tidak mampu laksanakan, bagaimana mungkin kalian bisa melanjutkan ke tingkat berikutnya?”

Ini tentu merupakan “puasa khusus” bagi orang khusus, yang terus berpuasa dengan nurani dan jiwanya tidak hanya pada bulan Ramadan.

Di kalangan sufi, rasa lapar merupakan hal biasa karena itu merupakan bagian dari mujahadat, perang tanpa henti terhadap hawa nafsu. Mereka merasakan lapar bukan hanya ketika puasa wajib selama sebulan penuh pada bulan suci Ramadan, melainkan juga pada bulan-bulan lain.

Puasa memang menimbulkan lapar. Akan tetapi, rasa lapar bukan untuk diungkapkan, melainkan untuk menutup jalan setan yang mencoba mengalir di pembuluh darah manusia.

Puasa sehari, mulai terbit fajar sampai terbenam matahari adalah puasa tahap awal, sebagai latihan bagi pemula untuk menapaki puasa-puasa selanjutnya yang lebih khusus dan memerlukan kesabaran dan ketabahan yang lebih.

Puasa Ramadan bertujuan menjadikan orang bertakwa, orang yang terbiasa dengan ibadah dan ketika takwa telah dicapai, baru orang tersebut bisa melaksanakan puasa-puasa khusus yang jumlah harinya lebih dari satu hari satu malam lebih dari tiga puluh hari tiga puluh malam.

Semoga melalui syaum Ramadan–dengan segala bentuk ibadah yang kita panjatkan kepada Illahi Robbi–kita akan akan semakin dekat dengan Pencipta, tentu saja bukan dalam pengertian dekat dalam dimensi ruang, tetapi lebih pada kedekatan sifat secara hakikat.

Entah untuk ke berapa kalinya kita memasuki bulan Ramadan dalam kehidupan kita masing-masing. Akan tetapi, kita selayaknya terus mencari “Ramadan-Ramadan” lain, yang konotasinya tidak lagi hanya berupa kata “dahaga, lapar, dan tidak berhubungan dengan istri pada siang hari”.

Kendati akan susah sekali untuk mencapai kepribadian hingga tingkat sufi, semoga Ramadan menjadikan 11 bulan lainnya sebagai “Ramadan”, momen untuk terus mawas diri dan saling mencintai antarsesama makhluk Illahi.

Wallahualam bissawab.

***

(artikel ini pernah dimuat di antaralampung.com-23/6/2015)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru