MIMBAR-RAKYAT.Com (Rohani) – Bila kita meneladani sifat Nabi Muhammad SAW, maka banyak hal yang perlu kita pelajari. Salah satunya kita harus belajar menjadi pemaaf. Karena pemaaf merupakan bagian penting dari akhlak mulia yang dicontohkan Rasulullah.
Memaafkan merupakan satu kata yang mudah diucapkan tetapi sangat berat dilaksanakan. Namun tidak demikian dengan Rasulullah SAW yang dikenal sangat pemaaf, bahkan terhadap para musuh yang telah memperlakukan dirinya, kerabatnya, serta pengikutnya secara kejam sekalipun.
Sifat pemaaf Rasulullah sangat jelas diperlihatkan, antara lain ketika bersama 10 ribu pasukannya dengan bersenjata lengkap melakukan penaklukan Kota Mekah.
Kaum kafir Quraisy dan para pemimpinnya saat itu sudah membayangkan akan menerima pembalasan atas kekejaman yang mereka lakukan sebelumnya.
Bahkan Abu Sofyan, salah seorang pemimpin Quraisy yang dikenal sangat kejam terhadap kaum muslimin sudah pasrah melihat kedatangan pasukan Rasulullah yang tidak mungkin dilawannya.
Dia sudah membayangkan sebentar lagi kaum muslimin yang kini berada di atas angin akan membantai mereka hingga tidak tersisa lagi kaum kafir di Kota Mekah.
Ternyata dugaan Abu Sofyan meleset. Di hadapan kaum kafir Quraisy yang sudah pasrah menunggu pembalasan dari kaum muslimin yang kala itu memiliki kekuatan jauh lebih besar, Rasulullah SAW malah berkata,
“Siapapun yang masuk ke Masjidil Haram maka dia akan selamat. Dan siapapun yang masuk ke Rumah Abu Sofyan dia juga akan selamat.”
Pernyataan Rasulullah itu tentu saja membuat mereka tercengang, seakan tidak percaya. Bagi manusia biasa hal itu rasanya tidak mungkin dilakukan. Pasalnya, kaum kafir Quraisy sebelumnya telah membunuh serta memakan jantung Hamzah, paman Rasulullah SAW, juga mencincang mayat salah seorang pasukan kaum muslimin dalam perang Uhud.
Sifat pemaaf lainnya, diperlihatkan Rasulullah SAW ketika beliau dihina dan diperlakukan secara kejam oleh masyarakat Thaif saat berdakwah. Saat itu Malaikat Jibril malah menawarkan diri untuk membantunya mengangkat gunung dan menimpakannya kepada orang-orang yang menghina Rasulullah itu.
Tetapi apa jawaban Rasulullah? Dia malah menolak tawaran dari Malaikat Jibril itu. Malah beliau mendoakan masyarakat Thaif agar keturunannya kelak menjadi orang-orang yang beriman kepada Allah SWT.
Dari beberapa contoh di atas, Rasulullah SAW memang tidak penah mengajarkan sifat dendam terhadap kaum muslimin. Sebab sifat dendam sesungguhnya hanya akan menimbulkan dendam berikutnya. Makanya perlu segera dihilangkan.
Rasulullah SAW senantiasa menganjurkan kepada kaumnya untuk mengedapankan sifat pemaaf agar dimuliakan Allah SWT.
Sabda Rasulullah, “Wahai Uqbah, kuberitahukan kepadamu tentang akhlak penghuni dunia dan akhirat yang paling utama. Yaitu hendaklah engkau menyambung hubungan persaudaraan dengan orang yang memutuskan hubungan denganmu, memberi orang yang tidak mau memberimu, serta maafkanlah orang yang telah menzalimimu.” (HR Achmad dan Hakim)
Soal sifat maaf-memaafkan ini, sangat penting dibicarakan. Sebab dalam kehidupan sehari-hari, banyak sekali gesekan yang terjadi antarumat baik secara pribadi maupun kelompok yang solusi terbaiknya perlu mencontoh langkah yang diambil Rasulullah.
Memaafkan tidak akan ada ruginya, justru sangat menguntungkan. Tali silaturahmi terjalin erat, kehidupan menjadi damai dan bahagia. Kalau begitu besar manfaatnya, kenapa tidak dari sekarang kita belajar menjadi orang yang pemaaf. Semoga! (H. Johan)
