Wednesday, October 27, 2021
Home > Berita > Taliban mengklaim telah merebut Panjshir, kuasai seluruh provinsi di Afghanistan

Taliban mengklaim telah merebut Panjshir, kuasai seluruh provinsi di Afghanistan

Front perlawanan Afghanistan dan pasukan pemberontak anti-Taliban berpatroli di puncak bukit di distrik Anaba, provinsi Panjshir. (Foto: AFP/Arab News)

Mimbar-Rakyat.com (Kabul) – Taliban menyatakan Senin (6/9) bahwa mereka telah menguasai provinsi Panjshir di utara Kabul, pertahanan terakhir pasukan anti-Taliban di negara itu dan satu-satunya provinsi yang belum direbut Taliban saat serangan mereka di Afghanistan bulan lalu. Direbutnya Panjshir membuat Taliban menghuasai seluruh provinsi di Afghanistan.

Ribuan pejuang Taliban menyerbu delapan distrik Panjshir semalam. Demikian menurut saksi mata yang bersedia berbicara dengan syarat tanpa disebutkan identitasnya, karena khawatir akan keselamatan. Sementara juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid mengeluarkan pernyataan,  mengklaim Panjshir sudah di bawah kendali pejuang Taliban.

“Kami mencoba yang terbaik untuk memecahkan masalah melalui negosiasi, dan mereka menolak pembicaraan dan kemudian kami harus mengirim pasukan kami untuk berperang,” kata Mujahid dalam konferensi pers di Kabul, seperti dikutip dari Arab News.

Gambar-gambar di media sosial menunjukkan anggota Taliban berdiri di depan gerbang kompleks gubernur provinsi Panjshir. Tidak ada kabar langsung dari Ahmad Massoud, pemimpin kelompok oposisi yang melawan pasukan Taliban.

Pasukan Taliban menyatakan telah masuk jauh ke Lembah Panjshir pada hari Minggu di tengah seruan untuk gencatan senjata dari para ulama Afghanistan.

Pertempuran sengit antara Taliban dan Front Perlawanan Nasional Afghanistan di Panjshir dimulai pekan lalu, ketika pasukan AS secara resmi menyelesaikan penarikan mereka dan mengakhiri kehadiran dua dekade di tanah Afghanistan.

Selama beberapa hari terakhir, pasukan Taliban dan front perlawanan, yang terdiri dari ribuan pejuang dari milisi regional dan mantan pasukan keamanan Afghanistan, telah mengklaim meguasai pertempuran.

Pada Jumat malam, sumber-sumber Taliban mengatakan kepada media bahwa mereka telah merebut wilayah pegunungan utara, tetapi para pemimpin perlawanan dengan cepat membantah klaim tersebut.

Kemajuan baru diumumkan oleh Taliban pada hari Minggu, setelah pertempuran sengit dilaporkan sehari sebelumnya. Seorang komandan Taliban di Panjshir mengatakan para pejuang telah masuk lebih dalam ke lembah dan menguasai distrik-distrik baru.

“Sekarang distrik Anaba dan Rokha berada di bawah kendali kami, mujahidin semakin kuat dan mereka pindah ke Bazarak,” komandan, Mawlawi Ezatullah Badr mengatakan kepada Arab News dari Panjshir. “Kemarin, kami merebut distrik Shotol dan sekarang kami telah menghentikan perang, musuh telah menderita banyak korban.”

Pada saat yang sama, front perlawanan mengatakan Taliban yang telah memasuki lembah itu terperangkap oleh pasukan mereka.

“Taliban disergap di beberapa front di Shotol, Khaawak dan juga Dara-e-Tang. Selama operasi ini, Taliban menderita korban besar dan setidaknya 1.600 pejuang Taliban telah menyerah kepada NRFA,” kata komandan perlawanan Zemaray Ahmadyar.

Saat pertempuran berlanjut, para ulama yang sebelum pengambilalihan Taliban berada di Dewan Ulama Afghanistan cabang Kabul, meminta kedua belah pihak untuk kembali bernegosiasi.

“Mengakhiri perang sangat mendesak, kita perlu berbicara dengan kedua belah pihak,” kata para ulama dalam sebuah pernyataan bersama pada hari Minggu. “Perang ini berbahaya bagi semua orang, dan harus segera dihentikan. Kami akan terus bernegosiasi dengan kedua belah pihak; pertama kami akan membahas masalah ini dengan Taliban dan kemudian kami akan pergi ke Panjshir.”

Negosiasi yang perah dilakukan sebelumnya tidak menghentikan pertempuran.

“Kami mengadakan negosiasi, tetapi gagal. Sisi lain menyambut perang daripada perdamaian. Sekarang mujahidin diperintahkan untuk melanjutkan operasi ofensif mereka dan kami dekat dengan pusat Panjshir,” kata Enamullah Samangani, anggota komisi budaya Taliban.

Juru bicara front perlawanan Fahim Dashti mengatakan pekan lalu bahwa Taliban telah menawarkan mereka 50 persen bagian kekuasaan di Afghanistan, tetapi tawaran itu ditolak.

Panjshir memiliki sejarah perlawanan. Pada 1980-an, komandannya yang terkenal Ahmad Shah Massoud membela wilayah itu dari pasukan Soviet, dan pada 1990-an memimpin serangan terhadap rezim Taliban pertama. Dia dibunuh pada tahun 2001, beberapa minggu sebelum Taliban digulingkan oleh invasi pimpinan AS.

Merebut Panjshir akan memberi Taliban kendali penuh atas Afghanistan – sesuatu yang tidak mereka capai ketika mereka memerintah negara itu antara tahun 1996 dan 2001. Seorang jenderal tinggi AS memperingatkan pada hari Sabtu bahwa pertempuran yang terus berlanjut dapat menyebabkan perang saudara yang lebih luas dan kebangkitan berbagai kelompok militan di Afganistan.

Afghanistan tidak memiliki pemerintahan sejak Presiden Ashraf Ghani meninggalkan negara itu ketika Taliban memasuki Kabul pada 15 Agustus.

Kekosongan kekuasaan telah membuat ekonomi Afghanistan berantakan, karena sebagian besar pembayaran ke negara itu, yang selama dua dekade terakhir bergantung pada bantuan asing, telah ditangguhkan.

Rencana untuk menyusun pemerintahan baru ditunda karena Taliban menunggu Panjshir jatuh, kata sumber.***(edy)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru