Tuesday, April 13, 2021
Home > Cerita > Menyeruput kopi di Aming Coffee Pontianak yang “bebas” masker

Menyeruput kopi di Aming Coffee Pontianak yang “bebas” masker

Suasana dalam warung kopi Aming Pontianak. (arl)

Mimbar-Rakyat.com (Jakarta) – Begitu turun dari mobil, pikiran sudah resah, menyaksikan sepeda motor dan mobil yang begitu banyak terdongok di pelataran luar kedai kopi itu dan begitu masuk ke dalam ruangan rasa kaget tak terbendung melihat manusia yang berjubel.

Pengunjung diminta masuk ke dalam ruangan terbuka (beratap tak berdinding), melalui satu pintu pengukur suhu tubuh tapi tak ada penjaga khusus, kecuali seseorang di bagian luar yang berteriak, “Masuk..masuk lewat sini..”

Begitu masuk ruangan seluas sekitar dua kali lapangan tenis itu, kelihatan ratusan pengunjung duduk di kursi-kursi yang melingkari bangku panjang. Tak ada jarak, mereka duduk rapat, mungkin sesama teman atau anggota keluarga.

“Saya kira ini bukan ratusan orang, tapi mencapai ribuan pengunjung. Apalagi bila dihitung dengan yang terus mengalir masuk,” kata seorang teman.

Malam itu, 27 Februari 2021, saya dan beberapa teman nongkrong di Aming Coffee. Lagu lembut mengalun dari pengeras suara, “menyelimuti” berisik suara pengunjung. Sejauh mata memandang mengitari ruangan itu, mungkin cuma satu persen manusia yang mengenakan masker.

Di bagian kanan ruang terbuka, ada ruang tertutup untuk pengunjung tidak merokok. Itu pun sudah “bebas” masker, pengunjung bercengkerama bebas tak berjarak. Di hamparan pengunjung bagian luar, asap rokok mengepul di beberapa meja yang ditempati para ahli hisap itu.

Suasana dalam Aming Coffee di Pontianak. (arl)

“Semakin malam akan semakin ramai pengunjung. Apalagi pada akhir minggu. Orang pergi dan datang. Tempat ini pernah dirazia, tapi keesokan harinya begini lagi,” kata teman yang tinggal di Pontianak.

Sebelum masa pandemik Corona, kata teman itu, tempat itu dan di beberapa kedei kopi lainnya, suasana lebih hebat, lebih ramai.  Jalanan bisa tertutup parkir sepeda motor,” katanya.

Di kedai Aming Coffee lainnya – ada dua kedai kopi Aming di Pontianak dan beberapa kota lain di Indonesia – saat ini sedang tutup, karena karyawannya positif tersengat virus Covid 19, kata seorang teman. Media memberitakan, pada Desember 2020, warung kopi Aming Podomoro diperiksa dan ditemukan 20 orang positif Corona 19, di antaranya satu orang karyawan.

“Di kedai satunya yang tutup itu, di tengah kota, suasanya lebih ramai. Bahkan jalan pun bisa menjadi tempat parkir pengunjung,” kata teman lainnya.

Pemandangann di kedai kopi besar itu, berbanding terbalik dengan yang terjadi di Bandara Supadio Pontianak.

Penumpang pesawat yang igin masuk ke Kalbar, harus menunjukkan surat tes PCR, bukan hanya tes antigen, seperti untuk hampir semua Bandara di Indonesia saat ini.

“Benar-benar berbanding terbalik. Amat kontradiktif, apa yang terjadi di Bandara dengan apa yang kita lihat di kedai kopi ini. Kalau tahu tadi begini ramainya suasanya di sini, saya tak akan datang ke sini,” kata teman lain.

Ketat hanya di Bandara

Gubernur Kalimantan Barat Sutarmidji ketika menyoroti lonjakan kasus orang terjangkit Covid-19 di Kota Pontianak, pernah meminta agar pusat keramaian sementara ditutup.

“Selaku Ketua Satgas Kalbar (Kalimantan Barat), saya harap wali kota lebih gencar melakukan pencegahan. Tutup dulu semua tempat yang berpotensi terjadi kerumunan orang selama satu pekan,” kata Sutarmidji dalam keterangan resmi pada 2/11/2020.

Aming Coffee di Pontianak. (arl)

Sutarmidji menyebut, Kota Pontianak telah masuk zona merah penyebaran virus Covid-19.  Sampai saaat itu, sedikitnya 529 orang terinfeksi virus corona di Kota Pontianak. Sebanyak 337 pasien dinyatakan sembuh dan 16 orang meninggal dunia. Kasus terjangkit virus itu di Kalimantan Barat meningkat tiga kali lipat.

Hingga awal Maret 2021, kasus terinveksi Corona 19 di Kalbar sebanyak 4.574 kasus, sembuh 4.135 dan meninggal dunia 33 orang.

Sutarmidji pada penghujung Desember 2020, amat khawatir, karena ada lima penumpang pesawat  dinyatakan positif Covid-19) dan ia memperketat syarat masuk ke Kalbar. Maskapai penerbangan yang membawa orang positip Covid itu, diminta sementara untuk tidak membawa penumpang ke Pontianak.

“Sebagai Ketua Satgas, saya akan ketat dan masuk Kalbar sampai dengan tanggal 8 Januari 2021 harus dengan surat bebas Covid melalui tes swab PCR,” ujarnya dan ternyata hingga Februari 2021 untuk masuk ke Pontianak tetap harus memiliki surat tes PCR dan surat antigen tidak berlaku.

Nah, warung kopi Aming – yang seolah bebas masker dan jarak itu – didirikan pada 2002 tapi ramuan bubuk kopi yang digunakan dalam setiap seduhan sudah ada sejak 1970.

Dari kepustakaan disebutkan, bubuk kopi Aming diracik oleh ayahanda Limin Wong hampir setengah abad lalu dengan menggunakan kopi jenis robusta.

Kedai Aming Coffee semakin tenar dan pernah memunculkan rasa penasaran Presiden Jokowi.  Ia bersama rombongan menyempatkan singgah ke warung kopi Aming pada 2017,  ketika melakukan perjalanan dinas ke Pontianak.

Menurut Jokowi, seperti dilansir media, cita rasa kopi Aming sangat enak. Terlebih harganya cukup terjangkau. Ketika itu, secangkir kopi susu pesanan Jokowi dibanderol hanya Rp9.000.

Karena tingginya penikmat kopi Aming, sang pemilik pun akhirnya melebarkan sayap dengan membuka cabang di beberapa kota di Indonesia, di antaranya di Singkawang, Bogor, Serpong, Yogyakarta, dan Solo.

Tapi amat disayangkan, kekhawatiran Gubernur Sutarmidji meningkatnya kasus positi Covid 19 di Pontianak – dengan menerapkan pemeriksaan ketat di Bandara Supadio – secara jelas amat kontradiktif dengan situasi di Aming Coffee, yang dipadati manusia tanpa masker dan tak berjarak.

Pak Gubernur, Prokesnya gimana nih?  (a.r. loebis)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru