Wednesday, October 27, 2021
Home > Berita > Kritisi Baliho Politisi, Generasi Milenial : Jangan Terlalu Banyak Cosplay, Rakyat Lagi Menjerit

Kritisi Baliho Politisi, Generasi Milenial : Jangan Terlalu Banyak Cosplay, Rakyat Lagi Menjerit

Mimbar-Rakyat.com (Kuningan) – Maraknya pemasangan baliho para politisi di Kabupaten/kota Indonesia, pada masa pandemi Covid-19, rupanya memicu reaksi masyarakat dari berbagai elemen.

Gus Miftah melalui akun instagramnya @gusmiftah, melayangkan sindiran dengan memparodikan lagu “Lihat Kebunku”.

Dalam video tersebut nampak Gus Miftah menyanyikan Lihat Kebunku dengan mengganti liriknya dengan “Lihat kotaku penuh dengan baliho
Ada yang kecil dan ada yang besar
Setiap hari balihonya bertambah
Politisinya happy-happy rakyatnya makin susah,” pada unggahan Selasa, (10/8/2021).

Dalam unggahannya Gus Miftah pun menyertakan tanda tagar #BalihoNggakPenting #RakyatButuhMakan #PokokeEmbuh, sontak nyanyian sindiran Gus Miftah menjadi viral dalam semalam video tersebut telah disaksikan oleh 267 ribu pengguna.

Di Kabupaten Kuningan sendiri, baliho – baliho besar yang dilakukan oleh Puan Maharani, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY),Muhaimin Iskandar atau Cak Imin dan Airlangga Hartarto, mengundang reaksi pemerhati politik dan kebijakan pemerintah, Soejarwo.

Wakil Ketua PWI Kuningan, Soejarwo, mengatakan kendati tidak melanggar aturan maraknya pemasangan baliho yang beraroma politik menjelang perhelatan yg masih sangat jauh pada 2024 nanti.

“Perhelatan politik masih sangat jauh, saat rakyat sedang terengah dan menjerit karena wabah pandemi yang berkepanjangan, tentunya hal itu sangat menyakiti peradaan rakyat. Padahal masih banyak rakyat yang sangat membutuhkan kepedulian dan uluran tangan dari mereka yang berstatus tokoh politik,” ujar pria yang telah menerjuni dunia jurnalistik sejak tahun 1980-an.

Menurutnya, pemasangan baliho tersebut, dipastikan menghabiskan anggaran yang tidak sedikit. ” Saat rakyat kebanyakan dalam kondisi susah, dikhawatirkan akan menjadi action yang kontraproduktif. Artinya dengan pemasangan baligo tersebut, yang awalnya bertujuan meraup simpati dari malah mendapatkan hasil sebaliknya. Yakni silap anti-pati dari rakyat,” jelas Mang Ewo, sapaan akrabnya.

Dikatakan Mang Ewo, untuk meraih simpati dari rakyat, tidak harus menggunakan cara yang konvesional dengan pemasangan baliho besar – besaran. “Masih ada action yang lebih produktif dari sekedar melakukan pemborosan dengan pemasangan baliho. Jika anggaran “balionisasi” dialihkan kepada kebutuhan mendesak rakyat, hasil yang didapat akan lebih optimal, karena lebih mengesankan bahwa tokoh” yang “mejeng” di baligo memiliki kepedulian sosial ,” tandasnya

Mang Ewo menyarankan dengan pendekatan secara langsung yakni memahami apa yg menjadi kebutuhan masyarakat dalam situasi saat ini, bisa menjadi lebih efektif

” Terlebih dapat memenuhinya akan menjadi modal “pendekatan” yg lbh efektif dibanding sosialisasi dg “kemegahan” baligo,” ujarnya.

Kritik soal pemasangan Baliho pun diungkapkan oleh generasi milenial Irmana (28 tahun) Demisioner HMI Komisariat STAI Al-Ihya Kuningan tahun 2015, sebaiknya para politisi tak perlu banyak “Cosplay” atau kostum untuk dilihat publik. “Sebab dengan baliho himbauan itu, tidak bisa merubah nasib rakyat, berikan bantuan yang nyata karena dengan memberikan anggaran untuk rakyat dibandingkan untuk baliho itu lebih bermanfaat bagi rakyat,” ujarnya. (Dien)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru