Sunday, September 27, 2020
Home > Berita > Konferensi Wartawan se-dunia di Seoul di antaranya bahas Covid dan berita palsu

Konferensi Wartawan se-dunia di Seoul di antaranya bahas Covid dan berita palsu

Keterangan foto - Suasana konferensi wartawan se-dunia di Seoul, Korea Selatan, Senin dan Selasa. (the korean times/shim hyun-chul)

Mimbar-Rakyat.com (Seoul) – Konferensi Wartawan se-Dunia (WJC) 2020 berlangsung di Seoul, 14-16 September, di antaranya membahas masalah Covid, berita palsu dan strategi penyelesaian perdamaian Semenanjung Korea.

WJR itu tertunda beberapa bulan karena pandemi virus Covid-19 sehingga pertemuan dilakukan pertemuan melalui aplikasi Zoom yang dikendalikan dari  Seoul,  iikuti 100 wartawan dari 60 negara termasuk dua peserta dari PWI Pusat.

Presiden Asosiasi Wartawan Korea (Journalists Association of Korea/JAK) Kim Dong-hoon, dan Perdana Menteri Korea Chung Sye-kyun memberikan sambutan selamat melakukan konferensi pada acara pembukaan.

“Walaupun kami hanya bertemu lewat online, saya berharap kita semua dapat bertukar pendapat dan memberi rekomendasi  dalam kesempatan berdiskusi tentang masalah-masalah global,” kata Kim Dong-hoon.

Perdana Menteri Chung Sye-kyun mengatakan, berita palsu merupakan ancaman nyata terhadap kehidupan manusia. Dia mengutip sebuah jurnal ternama yang terbit di Amerika Serikat bahwa informasi yang salah mengenai Covid-19 mengakibatkan sekitar 800 orang meninggal dan 5.800 orang dirawat di rumah sakit.

“Saya yakin, ini menunjukkan betapa penting informasi yang benar bagi kita. Karena itu konferensi ini penting. Izinkan saya memberi hormat kepada semua wartawan dari seluruh dunia yang ikut dalam acara ini,” kata Chung.

Dalam WJC itu, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat mengirim dua delegasi, Sekretaris Tetap Konfederasi Wartawan ASEAN Bob Iskandar, dan Direktur Kesejahteraan dan Pengabdian Masyarakat PWI Pusat Mohammad Nasir sebagai pembicara sekaligus peserta.

Dalam konferensi hari pertama, Senin (14/9), Mohammad Nasir diberi kesempatan menyampaikan makalahnya berjudul “Purifying Contaminated Information from Fake News”.

Nasir, wartawan Harian Kompas (1989- 2018) itu menyoroti merebaknya berita palsu yang mengalir melalui sosial media yang kadang-kadang menembus newsroom media pers yang seharusnya bisa membentengi diri dengan kompetensi yang dimiliki para wartawannya.

Menurut Nasir, Dewan Pers Indonesia telah bekerja keras bersama para konstituennya dan perusahaan media untuk memerangi berita palsu. Upaya yang telah dilakukan bersama dengan cara memperkuat kompetensi wartawan melalui pendidikan dan latihan pers dan uji kompetensi wartawan.

Dewan Pers juga telah mengeluarkan regulasi tentang panduan media siber, kode etik jurnalistik, dan bahkan sudah ada undang-undang pers nomor 40 tahun 1999.

“Di dalam hukum pers dan peraturan-peraturan itu terdapat banyak pasal yang melarang adanya berita palsu. Kalau wartawan itu kompeten, mereka tahu mana informasi palsu,” tuturnya dalam siaran pers PWI kepada media, Selasa.

Dengan kompetensi pula, wartawan tidak akan salah memperoleh informasi baik dalam berwawancara maupun pengamatan lapangan. Mereka juga akan tahu sambungan informasi yang salah, antara teks, foto, judul, dan isi berita, serta statistik tidak saling mendukung.

“Penyampaian informasi yang tidak terkait, tidak nyambung ini juga bagian dari fake news,” katanya.  (ril/arl)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru