Wednesday, July 06, 2022
Home > Cerita > Berkunjung ke “rumah” Ainun di Desa Gamplong

Berkunjung ke “rumah” Ainun di Desa Gamplong

Mimbar-Rakyat.com (Jakarta) – Di salah satu pojok di kawasan itu, terdapat rumah sederhana, berpohon rimbun di depannya, di  sudut pagar ada tulisan “Rumah Ainun” dan banyak orang berdatangan silih berganti berfoto di depannya.

Membaca atau mendengar atau melihat kata Ainun, pikiran pasti terbayang pada  seorang ibu dengan wajah sejuk, berikut pendampingnya, seorang pria ahli pesawat terbang dan pernah menjadi orang nomor satu di Indonesia.

Bacharuddin Jusuf Habibie, ahli pesawat terbang yang punya mimpi besar, berbakti kepada bangsa Indonesia dengan membuat pesawat terbang untuk menyatukan Indonesia. Sedangkan Ainun adalah seorang dokter muda cerdas, dengan jalur karir terbuka lebar.

Pada 1962, dua kawan SMP ini bertemu lagi di Bandung. Habibie jatuh cinta seketika pada Hasri Ainun Besari, yang baginya semanis gula. Bagi Ainun, dia tak hanya jatuh cinta, dia dukung visi dan mimpi Habibie.

Bagi Habibie, Ainun adalah segalanya. Ainun adalah mata untuk melihat hidupnya. Bagi Ainun, Habibie tiada duanya, pengisi kasih dan kisah dalam hidupnya.

Luar biasa perjalanan hidup dua anak manusia ini. Sepenggal kehidupan itu menggelayut di “Rumah Ainun”, yang saya datangi bersama isteri, anak, mantu dan cucu, tepat pada 1 Januari 2022. Kisah kasih itu membayang di benak, ketika berdiri di depan bangunan mungil itu.

Di mana letak kediaman Ainun itu? Di Dusun Gamplong, Desa Sumberrahayu, Moyudan, Sleman, DI Yogyakarta.  Tentu saja Ainun tak ada lagi di situ. Ia sudah tiada. Habibie pun sudah pulang ke kampung halamannya, di surga.  Kami hanya termangu-mangu mengedar pandang di kawasan teduh usai disiram hujan lebat itu.

Eit, jangan dulu ikut terlena mengalir di kisah nostalgia romantisme ini, karena ternyata banyak fokus pandangan lain yang patut dan pantas diamati di dekat kediaman Ainun.

Susana di salah satu pojok Studio Alam Gamplong. (reza)

Namanya saja studio alam tempat pengambilan gambar filem, jadi tidak heran bila di kawasan itu ada bermacam-macam benda dan bangunan. Nama tempat itu adalah Studio Alam Gamplong, yang menjadi tempat wisata dan banyak dikunjungi para wisatawan.

Objek wisata ini cocok untuk para pengunjung yang menyukai susana tradisional dengan berbagai obyek foto. Pengunjung juga dapat berwisata sekaligus menambah pengetahuan tentang sejarah dan proses pembuatan film lokal.

Studio alam yang berlokasi sekitar 16 km dari titik nol Yogyakaarta  ini mulai beroperasi pada awal 2018 dan sering dijadikan tempat syuting film yang berlatar era 1600-an hingga 2000-an, atau yang bertema tradisonal zaman dulu.

Salah seorang pekerja di studio seluas sekitar 2,5 hektar itu, Rizki Pamungkas, menuturkan filem yang disyuting di studio itu adalah Sultan Agung, Bumi Manusia, Habibie Ainun 3, Mekah I’m Coming, Tersanjung The Movie, Gatot Kaca.

Studio itu merupakan wujud dedikasi Dapur Film, yang dikelola sutradara Hanung Bramantyo, sebagai upaya meningkatkan potensi perekonomian daerah kelahirannya.

Semangat Mooryati

Ternyata Mooryati Soedibyo banyak berperan dalam pembangunan studio alam itu.

Pengusaha sukses pendiri Mustika Ratu ini menjadi pemrakarsa Studio alam Gamplong. Ia ingin menyumbangkan film untuk bangsa. Wanita berusia 91 tahun tersebut berharap agar film dapat memberikan pelajaran mengenai pengembangan karakter dan kepemimpinan.

 

Kawasan doeloe di Studio Gamplong

Kawasan Pecinan dalam film.  (studio gamplong)

Dari ide tersebut terpilih tokoh Sultan Agung sebagai inspirator, sampai akhirnya muncul film garapan sutradara Hanung Bramantyo dengan judul“Sultan Agung The Untold Love Story.

Filem ini mengambil latar sekitar abad 16-17 saat indonesia berada di bawah kekuasaan Belanda. Sehingga dalam studio ini terdapat benteng Belanda, bangunan China, joglo, hingga yang bernuansa Betawi.

Meskipun bukan peninggalan masa lalu, karena semua bangunan dan peralatan yang ada hanya berupa properti syuting, namun tampak seperti nyata.

Benteng yang terlihat kokoh dan di depanya terdapat aliran sungai dengan jembatan lengkap dengan perahu kayu pada sisi lainya tentunya menambah kesan natural.

Studio Gamplong di hari libur ramai dikunjungi turis lokal. (amy)

Pasar tradisional seolah benar-benar mirip dengan kondisi jaman dulu. Rumah dari papan kayu dan tidak ketinggalan payung lebar dari kertas juga keranjang besar khas pedesaan abad 16.

Di studio alam itu sudah lahir beberapa filem kondang, dibuat sutradara ternama, ditonton masyarakat Indonesia yang haus filem bermutu.

Sementara para pendatang dapat menirukan akting para pemeran filem di berbagai bangunan dengan beragam properti itu.

Salah satunya, ya mampir lah ke “Rumah Ainun”,  tatap bangunannya, lihat isinya, sembari membayangkan kisah asmara Ainun – Habibie, yang begitu sahdu,  bergelora, menggetarkan senar cinta siapa pun yang menghayatinya.  (ar loebis)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru