Thursday, June 20, 2019
Home > puisi Djunaedi Tjunti Agus
Ilustrasi: Masjid Al-Aqsa Palestina (Arab News)

Ketika Setan Dibelenggu, Puisi Djunaedi Tjunti Agus

oleh:Djunaedi Tjunti Agus   ketika ayat-ayat Mu ku baca ketika ayat suci berkumandang hati ini terasa nyaman, damai kadang air mata mengalir lain waktu sampai terisak-isak dalam dada muncul gelora ada sesal, ada pula kerinduan   Ramadhan mengubah segalanya ingat dosa, terkenang masa lalu berbagai kesalahan muncul datang berebutan susul menyusul kebaikan ada, tapi tak seberapa ampuni hamba ya Allah jadikan bulan suci ini bermakna mengantar hamba

Read More

Ramadhan pun Berakhir, Puisi Djunaedi Tjunti Agus

Ramadhan telah berakhir bulan suci itu selesai sudah kitapun boleh berbuka siang hari memadu cinta dengan pasangan kitapun bermaaf-maafkan dengan sesama umatNya Minal aidin wal faizin   namun bukan hanya itu justru saatnya kita merenung apakah yang kita lakukan sepanjang bulan suci Ramadhan adakah kita melakukan kebaikan berbuat baik antara sesama selain melakukan perintah Allah atau hanya sekadar menahan lapar   adakah Ramadhan berbekas mendorong perilaku kebaikan atau hanya

Read More

Jangan Mati Sia Sia, Puisi Djunaedi Tjunti Agus

setiap nyawa tak akan pergi meninggalkan raganya sebelum rezekinya habis kematian tak akan datang sampai semua jatah dinikmati Allah telah menjanjikan itu   Rasulullah telah memastikan setiap jiwa tidak akan mati sampai sempurna ajalnya hingga habis jatah rezekinya namun jangan hanya pasrah menerima apa adanya   carilah rezeki dengan cara halal jangan lakukan segala cara merenggut merajalela tanpa berpikir halal dan haram perolehlah harta atas ridhaNya bukan dengan cara

Read More

Inikah Kita, Puisi Djunaedi Tjunti Agus

kaki yang telanjang, hitam naik ke kursi dengan lutut berdiri tak peduli orang di sebelah risih cuek bebek, acuh tangan sibuk memainkan hp serius tak peduli sekitar antre menunggu panggilan menjadikan banyak orang jutek memperlihatkan aslinya termasuk yang tampil kampungan   lalu lihatlah ke sekitar anak-anak, remaja berlarian atau saat naik kendaraan entengnya berucap serampangan kata bodoh, goblok, anjing sumpah serapah menyemburat tak terlihat risih, malah tertawa ucapan

Read More
ilustrasi hak cipta ummi-online.com

Taubatlah, Puisi Djunaedi Tjunti Agus

Taubatlah Puisi: Djunaedi Tjunti Agus   segerakanlah sebelum azab datang menerpa secara tiba-tiba pada waktu tak terduga taubatlah secepatnya minta ampun atas dosa-dosa   minta ampun lah segera atas semua kesalahan azab bisa datang tak terduga gempa, tsunami, banjir bisa datang secara tiba-tiba longsor, tanah bergerak tiba-tiba menghantam menghancurkan tak dinyana   bertaubat lah sebenar taubat diikuti amal shaleh bukan hanya dalam perkataan memohon ampun lah kepadaNya taubat wajib bagi semua menuju ketaatan pada

Read More
ilustasi: Arab News

Amal dan Takdir, Puisi Djunaedi Tjunti Agus

AMAL DAN TAKDIR tugas umat adalah beramal bukan mempersoalkan takdir karena takdir adalah urusan Allah bukan urusan umat manusia tugas kita beramal, beribadah bukan menyerah karena alasan takdir   bukan hak kita memvonis diri menyatakan tak perlu lagi sholat tak perlu puasa, zakat, dan naik haji tidak perlu menyembah Allah karena alasan takdir, lauhul mahfudz karena semuanya rahasia Allah   lauhul mahfudz hanya Allah yang

Read More

Rindu, Puisi Djunaedi Tjunti Agus

kerinduan itu tiba-tiba datang muncul di tengah kebisingan di tengah banyak orang tak sabar bosan akan keadaan   kerinduan itu menyeruak menerjang menebas hambatan tak peduli ada yang ngedumel tak pusing ada yang cemberut   kerinduan itu mendorong memaksa bak larva mendesak kerinduan itu tak tertahankan rindu akan kesembuhan rindu kan ketenangan dan kemenangan   *RS Harkit Januari 2015

Read More

Basah, Puisi Djunaedi Tjunti Agus

kau yang selalu ku rindukan sayup mata mu membuat hatiku luluh kapan,  di manapun, takkan kulupakan aku sayang kamu, sungguh percayalah, aku takkan bosan   sayang, jangan termanggu aku tak akan pernah meracau jangan bosan menunggu aku tak akan membuatmu risau semua adalah milikmu   sampai kapan pun jua hingga hayat memisahkan kita akan selalu seiya   oh ikan koi ku yang basah teruslah berenang biarkan aku slalu

Read More

Takdirku dan Takdirmu, Puisi Djunaedi Tjunti Agus

ketika ruh ditiupkan saat itu pula takdir telah berjalan ruh membuat manusia hidup dan itu adalah rahasia Tuhan Allah sudah mentakdirkan kita sejak kita dalam rahim ibu   Allah mentakdirkan jauh masa 50.000 tahun sebelum fakta diciptakannya langit dan bumi firman Allah dan sabda Rasul menegaskan semua hal itu   soal rizki, ajal, juga amal sengsara atau bahagia sorga atau neraka semua telah ditetapkan tercatat dalam lauhul

Read More

Wajah Tua, Puisi Djunaedi Tjunti Agus

apa lagi yang kau cari? hati ini bertanya menyelidik wajah itu tak lagi segar kerut dan garis mulai tampak pertanda wajah telah menua                  *** pantulan di kaca hanya diam tak ada kata, apalagi cerita kerut terdapat dimana-mana tanda ketuaan semakin nyata apa lagi yang kau cari?                 *** apa yang telah kau lakukan masihkah kau berbuat dosa melupakan Sang Pencipta berbuat sesukamu, liar tak peduli

Read More

Jika Aku Mati, Puisi Djunaedi Tjunti Agus

Jika ku mati Aku ingin diterima-Nya Tanpa dosa-dosa Diampuni segalanya   Aku tak takut mati Hanya takut masuk neraka Karenanya ampuni aku Ampuni segala dosa Disengaja atau tidak   Aku tidak sempurna Ya Allah terima tobatku Tunjukkan ke jalan yang benar Jauhkan dari dosa-dosa   Mungkin aku laki-laki tak berguna Tak berguna bagi keluarga Bagi anak-anak dan istri Bagi orang tua dan saudara Bagi siapa saja Mungkin itu sudah jalanku Maafkan hamba

Read More

Kemarahan Pelacur Tua, Puisi Djunaedi Tjunti Agus

saya pelacur, apa pedulimu demikian WhatsApp mu padaku lalu kau kembali menghadang membelalakkan mata, menantang bukan urusanmu jika aku melacur itu katamu berulang, garang tantangmu membusungkan dada aku bebas tidur dengan siapapun begitu kau berucap berulang   tak peduli, aku menghindar tapi kau terus coba menghadang hanya karena melihat tak sengaja kau menggoda seorang lelaki bergelayut ketika berfoto berdua juga ketika dia menyelinap melepas birahinya di

Read More

Tak Ada yang Tak Mungkin, Puisi Djunaedi Tjunti Agus

jika Allah menghendaki tak ada yang tak mungkin kapanpun Allah menginstruksikan maka jadilah semua kehendakNya Allah Maha Kuasa semua kehendakNya pasti jadi tak ada yang mampu membendung   jadilah, maka jadilah semua perintahnya jadi nyata meski miliaran umat miminta memohon Rahmat dariNya tak ada kesulitan bagi Allah semua tinggal perintah Allah Maha Kaya, pemurah   berdoalah, jangan pernah bosan jangan pernah putus asa apalagi menjadi patah arang tak lagi

Read More

Kadaluarsa, Puisi Djunaedi Tjunti Agus

basi, sudah kadaluarsa tak enak disantap juga tak enak dipandang bahkan penyakit mengancam jika nekad menikmatinya   maaf kawan aku tak lagi tertarik tidak lagi ingin mengenyam apalagi telah banyak tangan dari sekadar memegang sampai yang mengobok-obok akibatnya semua menjadi basi   kasihan, tapi itu salahmu sendiri mengobral di tengah keramaian debu, lalar pun hinggap bebas sehingga peminat pun berubah hanya yang berselera rendah sajianmu tak lagi mengundang

Read More

Dunia Hanya Tipuan, Puisi Djunaedi Tjunti Agus

Balada: Djunaedi Tjunti Agus   dunia hanya sebentar tidak lama, hanya sedikit akherat panjang, tak terbatas jangan utamakan kehidupan dunia karena itu adalah kebodohan kejarlah amal untuk akherat   dunia lebih buruk dari bangkai anak kambing mati yang cacad lebih buruk dari kotoran sampah yang keluar dari manusia namun diperebutkan orang tanpa berpikir akan akherat   dunia hanya tipuan dunia ini pahit, ada batasannya tempat singgah sementara menjelang hijrah

Read More

Kematian Adalah Awal, Puisi Djunaedi Tjunti Agus

Puisi: Djunaedi Tjunti Agus   kematian adalah awal segalanya awal dari kehidupan abadi permulaan menuju tahap akhir apakah ke surga atau neraka? amal ibadahlah yang menentukan   bangkit dari alam kubur berkumpul di padang mahsyar buruk baik akan diketahui melalui catatan pribadi kanan kiri sebagai isyarat saat menerima daftar perbuatan apakah ke surga atau neraka?   penyesalan tak lagi berguna tak ada lagi ampunan pintu taubat telah ditutup tinggal

Read More

Jeritan Hati, Puisi Djunaedi Tjunti Agus

Jeritan Hati Puisi: Djunaedi Tjunti Agus   Banyak yang terlintas Satu demi satu muncul Bak lembaran buku Berwarna warni, penuh corak Ada merah, hitam, putih Senang, sedih, sesal   Campur aduk, buruk baik Ada kebanggan ada sesal Hati terus berkata-kata Kenapa begini, begitu Kenapa tidak selalu putih Kenapa harus terjadi   Tikungan, jalan lurus dilalui Jalan berlobang menghadang Jalan bergelombang dilindas Tubuh terguncang, turun naik Kadang terhempas, terhenyak   Sesal juga sering mencuat Kenapa

Read More

Perjalanan Panjang, Puisi Djunaedi Tjunti Agus

Perjalanan Panjang Puisi: Djunaedi Tjunti Agus   ini entah pemberhentian keberapa? tidak terhitung lagi tikungan serta jalan lurus yang dilalui juga turunan yang curam jalan mendaki yang terjal berkelok, meliuk di pinggang jurang menyeberangi lautan luas mengudara dengan burung besi   jalan berlubang, berkerikil tajam jalan mulus dan terbentang lebar hingga pada jalan setapak yang penuh onak dan duri tantangan, entah sampai kapan? tak seorangpun dapat memprediksi   banyak

Read More
Ilustrasi pusat kota Jakarta. (Foto: Dokumentasai www.jakarta.go.id/)

Sayang, Aku Telah Kembali: Puisi Djunaedi Tjunti Agus

Puisi: Djunaedi Tjunti Agus sayang, aku telah kembali petualangan telah berakhir semua kembali terang benderang aku sadar telah tersesat saat memilih jalan di persimpangan kini jalan lurus kembali terbentang kaulah pautan hatiku sesungguhnya kita memiliki jalan sama satu hati dan satu kata sayang, terimakasih kau bersabar tak bosan mengingatkan aku untuk kembali ke jalan-Nya baru aku sadari sekarang jalan yang ku tempuh dulu kelam berjalan

Read More
ilustrasi (Foto BMKG)

Bulan Kesiangan

Puisi: Djunaedi Tjunti Agus   matahari mulai menyembul kau baru pertengahan jalan cahaya mu mulai memudar meredup, pucat pasi   tapi percayalah kau tetap dinantikan fungsimu tak berubah menerangi malam   tanpa mu malam kelam tanpa mu malam jadi sepi bila kau tak hadir semua sunyi aku pun merana, tak ada arti   tak peduli kau kesiangan kehadiranmu selalu dinanti bahkan ketika gerhana bulan pun kau pun jadi perhatian semua berlomba,

Read More
ilustri cover kumpulan cerpen Kekasih Yang Hilang.

Selimut Putih

Puisi: Djunaedi Tjunti Agus bed pegas itu begitu sepi hanya ada dua bantal dua remote control satu ntuk tv, lainnya untuk ac selimut putih itu masih rapi tak ada bekas dipergunakan   mata terus menyusuri dari pintu kamar terus ke kursi, meja wajah di cermin tampak kuyu rindu terus menggeluti tak tahan jauh darimu   suara televisi mendayu sepatu tergelatak, kumuh baju bekas pakai terkulai celana pun teronggok asbak merusak

Read More
ilustrasi Al Makkah Al Mukarramah. (Foto: World of Mosque Stamps)

Cinta Tak Harus Memaksa

Puisi: Djunaedi Tjunti Agus rindu, hati ini bagai diremas perasaan tak pernah putus pikiran tak pernah lepas membayangkan sosokMu semua tergambar jelas agung, mulia, dan berkuasa tak sedetikpun aku alpa selalu mengingat, rindu mulutku selalu menyebutMu memanggil dan berharap tak pandang tempat dan waktu aku selalu berusaha menyeru cinta tak harus memaksa doa tak boleh ditakar aku telah sering diingatkan tapi cintaku padaMu mendalam harapan melebihi alam

Read More

PENUH MISTERI

Puisi: Djunaedi Tjunti Agus kerap tak sesuai kulitnya dibalut oleh aksesoris senyum kerap menipu sering penuh kepalsuan membalut berbagai rahasia manusia itulah umumnya kerap penuh tanda tanya siapapun susah menebak apa dan bagaimana manusia memang penuh misteri hanya Allah yang tahu penuh misteri penuh tanda tanya kelihatan bahagia kadang sedih merana lain waktu senyum sumringah namun kadang itu palsu untuk menutupi rahasia diri jeritan hati kekecewaan, keluhan kadang ditutupi dengan rapi tapi

Read More
ilustrasi foto korban perang Suriah. (Dokumentasi Al Jazeera)

BILA SUDAH WAKTUNYA

Puisi: Djunaedi Tjunti Agus Kapan dan kapan? Sudah dekatkah waktunya Makin usia berkurang Pertanyaan itu kerap datang Kapankah waktunya? Bila bicara kematian Dosa pahala kerap terbayang Apa yang telah dilakukan Teringat harus masuk kuburan Awal dari perjalanan fana Ah dunia hanya tuk sementara Pertemuan tak selamanya Perpisahan suatu kepastian Panggilan Allah itu pasti Tak ada yang bisa menghambat Jika waktu itu datang Bila sudah waktunya Rela atau tidak

Read More

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru