Sunday, May 31, 2020
Home > Puisi A.R. Loebis

Tamu itu pergi, Puisi A.R. Loebis

Sebentar lagi tamu itu akan pergi entah apa yang sudah kusuguhkan kepadanya tapi sebaliknya, begitu banyak makanan yang diantarkannya kepadaku di atas meja santap di dalam relung hati di kolam rindu jiwa entahlah sajadah itu apakah memberi kabar entah kenapa aku begitu cemas jangan-jangan aku hanya lapar dan dahaga karena tak mampu tak kuasa tak menyiapkan waktu hanya menyisakan masa sehingga sukma terasa

Read More

Malam 1000 Bulan, Puisi A.R. Loebis

Malam 1000 bulan Tak terbayangkan begitu banyak menghias angkasa aku termangu hanya termangu tak kuasa membayangkan penciptanya tak terhingga ku membacamu dibawah sinar dian 1000 bulan dada bergetar air mata menetes hingga tertatih-tatih dari Ramadan ke Ramadan menahan rindu dendam   Ya Allah yang maha Kuasa Satu bulan pun membuat semua orang bahagia Apalagi 1000 bulan Bulan di angkasa dan dalam dada Bulan dalam ruang dan waktu Dalam janji dan

Read More

Banjir (1) Puisi A.R. Loebis

Perjalanan hidup sesuap nasi dan seteguk air Tapi perjalanan hidup  bersuap-suap nasi Berteguk-teguk air Kualirkan sungai, ingin Kulihat apakah dahagamu cukup dengan seteguk air Tapi kau kuras isi sungai itu Kuberi sungai sampai ke rumah-rumah Teguklah bila kau mampu   Rumah tenggelam Kota terendam Gelap Redup nyali Gerak menjadi diam tapi bergerak pasrah kau pada sungaiKu tapi belum padaKu Kau coba kuasai dan lawan sungaiKu Tapi tak mampu,

Read More

Matamu membuka rahasiamu Puisi A.R. Loebis

Matamu membuka rahasiamu Karena ia jendela nurani Yang menunjukkan kebaikan Kekejaman Kelicikan Matamu membuka rahasiamu Tak lagi sorot tajam meredup kau pesan kapling entah di mana mungkin di neraka atau surga Tapi apakah ada neraka dan surga Kok penilaianmu berkabut Ah, merananya nestapamu   Matamu membuka rahasiamu Tak ada lagi rahasia Pertemuan mata meluluhkan batas pandang Hilang makna rahasia Luluh arti rahasia   Rahasia, Kemana kau pergi Tiraimu tergulung Jendela nurani itu ternganga Kata rahasia

Read More

Menikam malam Puisi A.R. Loebis

Di tempat ini dulu aku menikam malam Luka menguak Cairan meleleh merah bersimbah   Di tempat ini dulu aku ditikam kelam Degup menganga Buih merekah merah membuncah   Di tempat ini kini waktu merunduk Menjahit duka Pandangan binar putih mengkristal,   Di tempat ini kini dipaku lara Terpacak meronta Merona di antara tusuk terus menikam   Di tempat ini dulu dan kini memasung langkah Tak bisa bersiasah Melihat

Read More

Jakarta Mabuk  Puisi A.R. Loebis

I Jakarta mabuk kebanyakan air kepayang kepenuhan kata Aku kepayahan ah kurasa hampir semua kesusahan memungut kata untuk menyusun frasa Karena ia seperti banjir yang menghanyutkan makna Menenggelamkan arti yang terukir dalam dada Mencampakkan pikir yang terlukis di benak kepala Menghunjam logika yang sudah tertatih dimakan zaman Menghantam-hantam Apa siapa kapan dimana pun   Ah Jakarta mabuk kebanyakan air kepayang kepenuhan kata Aku resah menyimpan cemas

Read More

“Tamu” itu pergi Puisi A.R. Loebis

"Tamu" itu pergi Sebentar lagi "tamu" itu akan pergi entah apa yang sudah kusuguhkan kepadanya tapi sebaliknya, begitu banyak makanan yang diantarkannya kepadaku di atas meja santap di dalam relung hati di kolam rindu jiwa entahlah sajadah itu apakah memberi kabar entah kenapa aku begitu cemas jangan-jangan aku hanya lapar dan dahaga karena tak mampu tak kuasa tak menyiapkan waktu hanya menyisakan

Read More

Balada Sendu Dihembus Angin ke Langit Biru Puisi A.R. Loebis

Balada Sendu Dihembus Angin ke Langit Biru (Sajak Puasa)   (puasa, kemauan, Menahan kebutuhan fisik Rukun islam Yang tak di lihat orang)   Tiga puluh hari dalam setahun Menyelam dalam diri Mencari-cari tetap mencari Mencari menjadi bayi   Aku dan kuasaku adalah satu Puasamu adalah kehendak mu Menjalankan kewajiban yang sama Tapi aku menyelami kolam rindu Kalimat-kalimatMu oksigenku Gemlembung-gelembung nafasku rahasia zatMu Mencari-cari tetap mencari Mencari wadah diri tempat kebesaranMu Dalam

Read More
Coretan kehidupan

Solitaire 23 Puisi A.R. Loebis

SOLITAIRE 23 (nyanyi untuk istri) siang malam kulantunkan lagu cinta kepada Kekasih istriku pagi petang kubangun istana suka tapi kubangan duka menganga luka berlumpur masa aku coba tak menoleh tapi suaka tertoreh sejarah coretlah Yang Mulia melalui dua sahabat siang malam bergerak asa asihMU kepada istri Kekasihku Jakarta, 01-04-06 SOLITAIRE 53 (I) Menembus batas lapis solitaire lima tiga berdegup gegap detak gerak derai gerai tajam tikam tumpul tusukku timbul lekuk keris keras landai mata pisauku geram rimau lahir

Read More

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru