Sunday, November 17, 2019
Home > djunaedi tjunti agus

Terus berzikir, Puisi Djunaedi Tjunti Agus

nafas terasa sesak batuk menjadi pemicu perutpun terasa sakit hanya zikir ku lakukan diselingi kehadiran tim medis hanya kepadMu aku mengadu   di ujung sana terdengar erangan ada teriakan, mengeluh meraung karena sakit aku hanya berzikir   monitor pemicu jantung mengeluarkan suara monoton menipis sunyi sepi keluarga tertidur lelap di pinggir dipan pasien satu dua main handphone lainnya bolak balik ke meja tim medis aku hanya berzikir berdoa penyakit diangkat   penyakit mengurangi

Read More

Hanya kepadaMu Puisi Djunaedi Tjunti Agus

ku tadahkan tangan berdoa dari segala penjuru menghadap rumahMu Allah air mata kerap mengalir bahkan menitik deras ku mohonkan banyak doa untuk diri sendiri, keluarga bagi sanak famili, tetangga bagi sahabat, teman-teman serta bagi banyak orang mereka yang menitip doa kabulkan doa hamba ya Allah   hapuskan dosa-dosa hamba dosa keluarga, dosa saudara serta dosa-dosa orang tua dosa ibu, ayah, nenek, kakek jadikan kami putih bersih bak bayi

Read More

Bintang Kejora, Cerpen: Djunaedi Tjunti Agus

Cerpen: Djunaedi Tjunti Agus Telah berbulan-bulan saya tergeletak di tempat tidur. Di atas ranjang besi model lama, di dalam kamar yang lembab karena bocor di sana sini. Saya menghabiskan hari-hari dalam keadaan kusut masai. Rambut yang telah banyak memutih karena uban, semrawut. Mengenakan daster atau  baju tidur lusuh, awut-awutan, kadang memperlihatkan

Read More

Dalam Kesendirian Puisi Djunaedi Tjunti Agus

Hati ini terenyuh dada makin terasa berat air mata tak lagi terbendung akhirnya cair menggenang isyak pun pecah membelah kesunyian malam hanya aku dan Engkau seperti ada jalur khusus membentang ke atas, lurus seperti jalan tanpa hambatan tidak ada halangan tak ada bunyi-bunyian bebas dari hingga bingar dalam kesunyian malam menjelang pagi, sepi belum ada kokok ayam suara cicak pun menghilang hati semakin tertuju pada Mu sosok ini

Read More
Ilustrasi (Foto Dokumentasi Al Jazeera0

Tanda-Tanda Kiamat Makin Nyata

Puisi: Djunaedi Tjunti Agus   bila matahari terbit di ufuk barat langit runtuh porak poranda gunung berterbangan bak kapas laut pasang meratakan jagat Padang Mahsyar pun terkembang mayat-mayat bangkit bermunculan bak laron muncul setelah hujan   tanda akan kiamat makin nyata manusia tak takut berbuat dosa lesbian, gay, dianggap hak juga biseksual dan transeksual LGBT dikatakan hak asasi manusia perzinaan disebut bukan dosa dengan alasan suka

Read More
ilustrasi foto indowarta.com

Tak Mungkin Terus Bersatu

Puisi: Djunaedi Tjunti Agus   haruskah aku menyerah setiap berusaha melupakan sosokmu malah makin jelas setiap berupaya lari darimu kau makin rapat menempel hati dan pikiran pun gundah   kisah kasih di masa silam canda tawa dan merajuk perjalanan panjang tanpa batas selalu muncul, terbayang kadang aku tertawa sendiri ada kalanya mendadak cemberut kenapa semua itu tak mau hilang   ku coba berpangku tangan mengangkat bahu tinggi sekali menendang-nendangkan

Read More

Nina Bobokkan Aku Puisi Djunaedi Tjunti Agus

Panggil aku yayang nina bobokkan aku belailah daku lembut sepenuh perasaanmu begitu katamu selalu tubuhmu semerbak wangi menambah suasana syahdu itu terjadi dari dulu hingga kini tak pernah terhenti sesaat pun kau setia menanti meski kantuk telah menggelayut tak ada terucap kata capai walau wajahmu terlihat lelah belailah daku katamu berulang aku rindu ujarmu dengan sendu kau raih tanganku, lembut kau berbalik lalu merapat aku rindu katamu

Read More

Kekasih yang Hilang

Cerpen: Djunaedi Tjunti Agus HARI ini entah sudah hari keberapa, Murni tak lagi mengingatnya. Akhir-akhir ini dia bekerja layaknya robot, pagi pergi ke hypermarket tempat di bekerja, sore kembali ke tempat kos. “Lebih baik saya mati saja. Kenapa penderitaan ini tak pernah berakhir,” tutur Murni. Sriatun rekan kerjanya, yang juga teman sekamar Murni

Read More
Ilustrasi: Foto Reuters/Al Jazeera

Runtuhnya Harapan

Cerpen: Djunaedi Tjunti Agus “Saya sekarang tidak memiliki pemasukan sama sekali. Gak ada gaji, uang pensiunpun mandeg.” Entah untuk keberapa kalinya saya menerima keluhan senada. Cerita sedih, mengenaskan, silih berganti datang, masuk ke WhatsApp di telpon genggam saya. “Bang, sejak kantor kita tutup saya betul-betul kelabakan. Untuk makan kami, biaya sekolah anak-anak, saya

Read More

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru