Friday, September 21, 2018
Home > Cerita > Puisi & Pantun

Hijrah

Enyahlah kau...... Akan dapatkan dirimu hijrah Hijrahlah , kau akan dapatkan ganti apa yang kau cintai Cintailah saudaramu seperti engkau mencintai dirimu sendiri Bersendirilah dan tanyakan siapa dirimu ini? Kau tidak tahu siapa dirimu kecuali kau tahu siapa Tuhanmu Bagaimana kau tahu ,sedangkan qabliyah saja belum, sudah terdengar iqomah Maunya dluha tapi sudah keburu lohor Tak sempat berjamaah

Read More

Sajak Orang Buta

Ada orang buta Mencari cahaya dengan menatap rembulan Hatinya menyala nafasnya berbunga bunga Sang rembulan melengos karena ia sedang bercanda dengan kejora Si buta kecewa kasihnya tak sampai Ratapannya menggoncang arsy Mengusik sang Hyang Rahmani.... Rembulanku telah abai Purnamaku telah lalai Kukasih dia setangkai cabai Tahukah engkau wahai rembulan Si buta itu ingin membasuh mukanya dengan cahayamu Sedangkan si kejora hanya

Read More

Sajak Subuh di Josari

Subuh di Josari Suara azan dari seribu surau Merobek fajar yang belum lagi mekar Kecek walangpun tak lagi mendesir Entah dimana dia kini Pohon sawo masih berkelindan batangnya Dulu aku sering bergelayutan melimbang bak monyet kampung Enam puluh tahun lalu dan pucuk masjid pun masih begitu Bau pesantren masih menguar tapi dimana santrinya kini Seratus tahun lalu, kendil kendil

Read More

Sajak Bung Bangkitlah

Bung, bangkitlah Barangkali Bung lelah di alam kubur Tengoklah tanah airmu yang kini tinggal tanahnya doang Karena airnya telah terjual Tengoklah tambangnya yang sudah kempot Karena isinya sudah disedot freeport Bung, yang terbaring di Bendogerit Bangkitlah Tapi jangan tanya batubara ya Batunya sudah habis diekspor tinggal baranya saja Kemudian membakar sentimen antar suku ,agama dan pilkada Bung mintalah cuti barang dua

Read More

Sajak Balada Yusuf (2)

Ranjang besi Selimut besi Terali besi Enam atau tuju tahun dibalik jeruji besi tak ada arti Dibanding kehormatan Yusuf tahu diri , tirani adalah tembok besi Hanya waktu yang bisa membuatnya korosi Adalah dua narapidana berada disampingnya Keduanya mantan punggawa istana Si bartender bermimpi memeras anggur persembahan untuk sang raja Sang cheff bermimpi menyunggi kue dan burung nazar menyantap dikepalanya Wahai

Read More

Dunia Hanya Tipuan, Puisi Djunaedi Tjunti Agus

Balada: Djunaedi Tjunti Agus   dunia hanya sebentar tidak lama, hanya sedikit akherat panjang, tak terbatas jangan utamakan kehidupan dunia karena itu adalah kebodohan kejarlah amal untuk akherat   dunia lebih buruk dari bangkai anak kambing mati yang cacad lebih buruk dari kotoran sampah yang keluar dari manusia namun diperebutkan orang tanpa berpikir akan akherat   dunia hanya tipuan dunia ini pahit, ada batasannya tempat singgah sementara menjelang hijrah

Read More

Jeritan Hati, Puisi Djunaedi Tjunti Agus

Jeritan Hati Puisi: Djunaedi Tjunti Agus   Banyak yang terlintas Satu demi satu muncul Bak lembaran buku Berwarna warni, penuh corak Ada merah, hitam, putih Senang, sedih, sesal   Campur aduk, buruk baik Ada kebanggan ada sesal Hati terus berkata-kata Kenapa begini, begitu Kenapa tidak selalu putih Kenapa harus terjadi   Tikungan, jalan lurus dilalui Jalan berlobang menghadang Jalan bergelombang dilindas Tubuh terguncang, turun naik Kadang terhempas, terhenyak   Sesal juga sering mencuat Kenapa

Read More

Melihat Jakarta dari Puncak Monas

Melihat Jakarta dari puncak Monas...... Ada ayam mengajar kambing Ayam mengembik sambil mengencingi kuda........ Kucing melolong dengan bahasa kalong Heyna mendengkur sambil menggigit kaki kuda.. Ada burung gagak menyanyi seriosa... Lagunya mememikkan irama namimah dan ghibah... Wahai makhluk mulia yang pernah diciptakan.... Relakah kau menghinakan dirimu setara habitat mereka.. Si buta menghardik si bisu Si Tuli menghujat si pekak Si

Read More

Jumat di Menado

Jumat di Menado Kumegarkan daun telinga mencari suara azan disubuh buta Tak bergetar membran karena sumber suara jauh diujung negeri Tertutup altar bias dengan cicit burung gereja Di Paniki Bawah masjid tua berselisih dengan tembok ruko Karpetnya gundul horen nya terserang flu stadium empat Tercium aroma apek ketika sujud jumatan disana Khatibnya muda masih menyimpan semangat Didepan jamaah

Read More

Aku dan Kau

Aku dan Kau Kau bilang itu korupsi Aku bilang itu prestasi Kau bilang korupsi itu masif berjamaah dan terstruktur Aku bilang korupsi itu kalau tertangkap Kau bilang korupsi itu kejahatan luar biasa Aku bilang korupsi itu biasa saja tuh Kau bilang korupsi e_Katepe itu mega korupsi Aku bilang itu pepesan kosong Singgasanaku magrong magrong di Senayan Aku tak bergeming karena

Read More

Perjalanan Panjang, Puisi Djunaedi Tjunti Agus

Perjalanan Panjang Puisi: Djunaedi Tjunti Agus   ini entah pemberhentian keberapa? tidak terhitung lagi tikungan serta jalan lurus yang dilalui juga turunan yang curam jalan mendaki yang terjal berkelok, meliuk di pinggang jurang menyeberangi lautan luas mengudara dengan burung besi   jalan berlubang, berkerikil tajam jalan mulus dan terbentang lebar hingga pada jalan setapak yang penuh onak dan duri tantangan, entah sampai kapan? tak seorangpun dapat memprediksi   banyak

Read More

Dalam Kesendirian Puisi Djunaedi Tjunti Agus

Hati ini terenyuh dada makin terasa berat air mata tak lagi terbendung akhirnya cair menggenang isyak pun pecah membelah kesunyian malam hanya aku dan Engkau seperti ada jalur khusus membentang ke atas, lurus seperti jalan tanpa hambatan tidak ada halangan tak ada bunyi-bunyian bebas dari hingga bingar dalam kesunyian malam menjelang pagi, sepi belum ada kokok ayam suara cicak pun menghilang hati semakin tertuju pada Mu sosok ini

Read More

Inikah Aku?, Puisi Djunaedi Tjunti

Inikah Aku? Puisi: Djunaedi Tjunti bayangan mencuat di genangan terlihat sebuah wajah bak sketsa yang tak begitu jelas namun aku tahu siapa pemiknya wajah yang tak asing bagiku raut yang sangat akrab                *** dia adalah wajahku yang telah berpuluh-puluh tahun tak terpisahkan melekat erat hati, perasaan, bersatu utuh dari waktu ke waktu kami  selalu bersama              *** keceriaan masa kecil masa kanak-kanak dan remaja beragam tantangan kala

Read More

Pemimpin Polesan, Puisi Djunaedi Tjunti

Oleh: Djunaedi Tjunti Awas pemimpin polesan Prestasi kecil bisa di di blowup Bisa dikesankan berjasa Membela rakya jelata Dengan memanfaatkan media Waspada, jangan tergoda Awasi tipu muslihat mereka Biarkan mereka bersuara Tetapi jangan terperdaya Dengan uang Dengan kekayaan mereka Dengan gaya Dengan persekongkolan Mereka bisa bicara apa saja Membujuk, menggoda Bahkan mengumbar janji Meski hanya tipu daya Waspada Hati-hati godaan mereka Para pemimpin polesan Saat ini saja tak jujur Pasti nanti, ketika

Read More

Jalan Tuhan, Puisi Djunaedi Tjunti Agus

Puisi: Djunaedi Tjunti Agus tadinya terasa berat menahan rasa dan keinginan dari hura-hura dan keangkuhan melayang tanpa arah, bebas membawa kepongahan dan sombong menganggap dunia hanya milik kita *** tadinya tak ada halangan semua diterabas, bebas pongah melindas, tak ada yang menghalangi namun kini harus ada aturan harus sesuai kehendakNya baik buruk ada ukurannya dosa dan pahala, jelas *** apa artinya taubat? jika kesalahan sama berulang apa gunanya

Read More
Ilustrasi Gunung Bromo. (Foto: initempatwisata.com/Istimewa)

Jebakan dan Kiamat; Sajak Djunaedi Tjunti Agus

Jebakan dan Kiamat Oleh: Djunaedi Tjunti Agus   tanda-tanda kiamat sudah banyak pembantu melahirkan anak majikan yang dikasi amanah menyeleweng membuat aturan, dia yang melanggar kejujuran sudah gaib amanah hilang, jadilah penghianat   tanda kiamat sudah banyak muncul fenomena alam ada gempa, sunami, rumah roboh bahkan tempat ibadah hancur semua peringatan Allah   maksiat dimana-mana rumah Allah banyak, tapi tuk berkelahi menghantam kawan-kawan sendiri ini tanda kiamat makin dekat ustad

Read More

Meja Yang Sepi :bagi Bowie Puisi Hendry Ch Bangun

Meja Yang Sepi : bagi Bowie Kopi semakin pahit Ketika lagu itu diputar kembali Dan aku sendiri di meja ini Sepanjang waktu menanti Cafe yang dulu menemani kita Tetap penuh di kala siang atau malam Orang membaca koran atau menulis catatan Atau duduk menatap pejalan lalu lalang Kau tak ada lagi Aku tak mengerti mengapa itu terjadi Kita tak bisa saling menatap

Read More
Ilustrasi pusat kota Jakarta. (Foto: Dokumentasai www.jakarta.go.id/)

Sayang, Aku Telah Kembali: Puisi Djunaedi Tjunti Agus

Puisi: Djunaedi Tjunti Agus sayang, aku telah kembali petualangan telah berakhir semua kembali terang benderang aku sadar telah tersesat saat memilih jalan di persimpangan kini jalan lurus kembali terbentang kaulah pautan hatiku sesungguhnya kita memiliki jalan sama satu hati dan satu kata sayang, terimakasih kau bersabar tak bosan mengingatkan aku untuk kembali ke jalan-Nya baru aku sadari sekarang jalan yang ku tempuh dulu kelam berjalan

Read More

Biarlah Berlalu Puisi Djunaedi Tjunti Agus

Tak terasa semua telah berlalu tidak ada rasa, tanpa permisi plong, rasa lega pun datang aku tak perlu lagi nyinyir bak tua bangka haus perhatian tak perlu mengawasi bak pengembala biarkan berjalan bak air mengalir hanyut ke hilir menyusuri lembah biarlah semua berlalu aku tak peduli, meski kau hanyut terombang-ambing di tengah samudra berpegangan pada namanya ambisi mencari kebebasan di lembah nista kau

Read More
ilustrasi (Foto BMKG)

Bulan Kesiangan

Puisi: Djunaedi Tjunti Agus   matahari mulai menyembul kau baru pertengahan jalan cahaya mu mulai memudar meredup, pucat pasi   tapi percayalah kau tetap dinantikan fungsimu tak berubah menerangi malam   tanpa mu malam kelam tanpa mu malam jadi sepi bila kau tak hadir semua sunyi aku pun merana, tak ada arti   tak peduli kau kesiangan kehadiranmu selalu dinanti bahkan ketika gerhana bulan pun kau pun jadi perhatian semua berlomba,

Read More
ilustari (hak cipta: https://satriabajahitam.com)

Jangan Dekati Zina

Puisi: Djunaedi Tjunti Agus   jangan dekati zina tundukkan pandangan jika tidak ingin terjebak itu adalah godaan setan membuat orang mabuk asmara karena alasan cinta, harta tega mengorbankan keluarga lupa akan dosa-dosa mengumbar nafsu setan   zina membuat orang lupa lupa suami, istri, dan anak lupa Allah dan siksaannya meski sehari-hari tampil sopan berpakaian muslimah, muslimin bila setan telah merasuk nafsu birahi yang di kedepankan   Astaghfirullah, sadarkan mereka yang berzina

Read More
ilustrasi berdoa (karya ummi online.com)

Antara Doa dan Menggugat

 Puisi: Djunaedi Tjunti Agus   Ada yang hanya mengerang Sambil lirih berucap aduh Ada yang menggugat Bertanya kepada Tuhan Apa salah saya? ***  Ada yang berdoa Mohon ampunan dan kesembuhan Ada pula yang diam seribu bahasa Tapi tak jarang berteriak tak karuan *** Allah mungkin geli tertawa Melihat tingkah manusia Yang tak pernah merasa salah Tak merasa pernah berdosa ***  Ampuni hamba ya Allah *** RS Harapan Kita 03012015

Read More
Ilustrasi (Foto Dokumentasi Al Jazeera0

Tanda-Tanda Kiamat Makin Nyata

Puisi: Djunaedi Tjunti Agus   bila matahari terbit di ufuk barat langit runtuh porak poranda gunung berterbangan bak kapas laut pasang meratakan jagat Padang Mahsyar pun terkembang mayat-mayat bangkit bermunculan bak laron muncul setelah hujan   tanda akan kiamat makin nyata manusia tak takut berbuat dosa lesbian, gay, dianggap hak juga biseksual dan transeksual LGBT dikatakan hak asasi manusia perzinaan disebut bukan dosa dengan alasan suka

Read More
ilustrasi foto indowarta.com

Tak Mungkin Terus Bersatu

Puisi: Djunaedi Tjunti Agus   haruskah aku menyerah setiap berusaha melupakan sosokmu malah makin jelas setiap berupaya lari darimu kau makin rapat menempel hati dan pikiran pun gundah   kisah kasih di masa silam canda tawa dan merajuk perjalanan panjang tanpa batas selalu muncul, terbayang kadang aku tertawa sendiri ada kalanya mendadak cemberut kenapa semua itu tak mau hilang   ku coba berpangku tangan mengangkat bahu tinggi sekali menendang-nendangkan

Read More
ilustri cover kumpulan cerpen Kekasih Yang Hilang.

Selimut Putih

Puisi: Djunaedi Tjunti Agus bed pegas itu begitu sepi hanya ada dua bantal dua remote control satu ntuk tv, lainnya untuk ac selimut putih itu masih rapi tak ada bekas dipergunakan   mata terus menyusuri dari pintu kamar terus ke kursi, meja wajah di cermin tampak kuyu rindu terus menggeluti tak tahan jauh darimu   suara televisi mendayu sepatu tergelatak, kumuh baju bekas pakai terkulai celana pun teronggok asbak merusak

Read More
ilustrasi Al Makkah Al Mukarramah. (Foto: World of Mosque Stamps)

Cinta Tak Harus Memaksa

Puisi: Djunaedi Tjunti Agus rindu, hati ini bagai diremas perasaan tak pernah putus pikiran tak pernah lepas membayangkan sosokMu semua tergambar jelas agung, mulia, dan berkuasa tak sedetikpun aku alpa selalu mengingat, rindu mulutku selalu menyebutMu memanggil dan berharap tak pandang tempat dan waktu aku selalu berusaha menyeru cinta tak harus memaksa doa tak boleh ditakar aku telah sering diingatkan tapi cintaku padaMu mendalam harapan melebihi alam

Read More

Nina Bobokkan Aku Puisi Djunaedi Tjunti Agus

Panggil aku yayang nina bobokkan aku belailah daku lembut sepenuh perasaanmu begitu katamu selalu tubuhmu semerbak wangi menambah suasana syahdu itu terjadi dari dulu hingga kini tak pernah terhenti sesaat pun kau setia menanti meski kantuk telah menggelayut tak ada terucap kata capai walau wajahmu terlihat lelah belailah daku katamu berulang aku rindu ujarmu dengan sendu kau raih tanganku, lembut kau berbalik lalu merapat aku rindu katamu

Read More

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru