Thursday, July 19, 2018
Home > Cerita > Puisi & Pantun

Jeritan Hati, Puisi Djunaedi Tjunti Agus

Jeritan Hati Puisi: Djunaedi Tjunti Agus   Banyak yang terlintas Satu demi satu muncul Bak lembaran buku Berwarna warni, penuh corak Ada merah, hitam, putih Senang, sedih, sesal   Campur aduk, buruk baik Ada kebanggan ada sesal Hati terus berkata-kata Kenapa begini, begitu Kenapa tidak selalu putih Kenapa harus terjadi   Tikungan, jalan lurus dilalui Jalan berlobang menghadang Jalan bergelombang dilindas Tubuh terguncang, turun naik Kadang terhempas, terhenyak   Sesal juga sering mencuat Kenapa

Read More

Melihat Jakarta dari Puncak Monas

Melihat Jakarta dari puncak Monas...... Ada ayam mengajar kambing Ayam mengembik sambil mengencingi kuda........ Kucing melolong dengan bahasa kalong Heyna mendengkur sambil menggigit kaki kuda.. Ada burung gagak menyanyi seriosa... Lagunya mememikkan irama namimah dan ghibah... Wahai makhluk mulia yang pernah diciptakan.... Relakah kau menghinakan dirimu setara habitat mereka.. Si buta menghardik si bisu Si Tuli menghujat si pekak Si

Read More

Jumat di Menado

Jumat di Menado Kumegarkan daun telinga mencari suara azan disubuh buta Tak bergetar membran karena sumber suara jauh diujung negeri Tertutup altar bias dengan cicit burung gereja Di Paniki Bawah masjid tua berselisih dengan tembok ruko Karpetnya gundul horen nya terserang flu stadium empat Tercium aroma apek ketika sujud jumatan disana Khatibnya muda masih menyimpan semangat Didepan jamaah

Read More

Aku dan Kau

Aku dan Kau Kau bilang itu korupsi Aku bilang itu prestasi Kau bilang korupsi itu masif berjamaah dan terstruktur Aku bilang korupsi itu kalau tertangkap Kau bilang korupsi itu kejahatan luar biasa Aku bilang korupsi itu biasa saja tuh Kau bilang korupsi e_Katepe itu mega korupsi Aku bilang itu pepesan kosong Singgasanaku magrong magrong di Senayan Aku tak bergeming karena

Read More

Perjalanan Panjang, Puisi Djunaedi Tjunti Agus

Perjalanan Panjang Puisi: Djunaedi Tjunti Agus   ini entah pemberhentian keberapa? tidak terhitung lagi tikungan serta jalan lurus yang dilalui juga turunan yang curam jalan mendaki yang terjal berkelok, meliuk di pinggang jurang menyeberangi lautan luas mengudara dengan burung besi   jalan berlubang, berkerikil tajam jalan mulus dan terbentang lebar hingga pada jalan setapak yang penuh onak dan duri tantangan, entah sampai kapan? tak seorangpun dapat memprediksi   banyak

Read More

Dalam Kesendirian Puisi Djunaedi Tjunti Agus

Hati ini terenyuh dada makin terasa berat air mata tak lagi terbendung akhirnya cair menggenang isyak pun pecah membelah kesunyian malam hanya aku dan Engkau seperti ada jalur khusus membentang ke atas, lurus seperti jalan tanpa hambatan tidak ada halangan tak ada bunyi-bunyian bebas dari hingga bingar dalam kesunyian malam menjelang pagi, sepi belum ada kokok ayam suara cicak pun menghilang hati semakin tertuju pada Mu sosok ini

Read More

Inikah Aku?, Puisi Djunaedi Tjunti

Inikah Aku? Puisi: Djunaedi Tjunti bayangan mencuat di genangan terlihat sebuah wajah bak sketsa yang tak begitu jelas namun aku tahu siapa pemiknya wajah yang tak asing bagiku raut yang sangat akrab                *** dia adalah wajahku yang telah berpuluh-puluh tahun tak terpisahkan melekat erat hati, perasaan, bersatu utuh dari waktu ke waktu kami  selalu bersama              *** keceriaan masa kecil masa kanak-kanak dan remaja beragam tantangan kala

Read More

Pemimpin Polesan, Puisi Djunaedi Tjunti

Oleh: Djunaedi Tjunti Awas pemimpin polesan Prestasi kecil bisa di di blowup Bisa dikesankan berjasa Membela rakya jelata Dengan memanfaatkan media Waspada, jangan tergoda Awasi tipu muslihat mereka Biarkan mereka bersuara Tetapi jangan terperdaya Dengan uang Dengan kekayaan mereka Dengan gaya Dengan persekongkolan Mereka bisa bicara apa saja Membujuk, menggoda Bahkan mengumbar janji Meski hanya tipu daya Waspada Hati-hati godaan mereka Para pemimpin polesan Saat ini saja tak jujur Pasti nanti, ketika

Read More

Jalan Tuhan, Puisi Djunaedi Tjunti Agus

Puisi: Djunaedi Tjunti Agus tadinya terasa berat menahan rasa dan keinginan dari hura-hura dan keangkuhan melayang tanpa arah, bebas membawa kepongahan dan sombong menganggap dunia hanya milik kita *** tadinya tak ada halangan semua diterabas, bebas pongah melindas, tak ada yang menghalangi namun kini harus ada aturan harus sesuai kehendakNya baik buruk ada ukurannya dosa dan pahala, jelas *** apa artinya taubat? jika kesalahan sama berulang apa gunanya

Read More
Ilustrasi Gunung Bromo. (Foto: initempatwisata.com/Istimewa)

Jebakan dan Kiamat; Sajak Djunaedi Tjunti Agus

Jebakan dan Kiamat Oleh: Djunaedi Tjunti Agus   tanda-tanda kiamat sudah banyak pembantu melahirkan anak majikan yang dikasi amanah menyeleweng membuat aturan, dia yang melanggar kejujuran sudah gaib amanah hilang, jadilah penghianat   tanda kiamat sudah banyak muncul fenomena alam ada gempa, sunami, rumah roboh bahkan tempat ibadah hancur semua peringatan Allah   maksiat dimana-mana rumah Allah banyak, tapi tuk berkelahi menghantam kawan-kawan sendiri ini tanda kiamat makin dekat ustad

Read More

Meja Yang Sepi :bagi Bowie Puisi Hendry Ch Bangun

Meja Yang Sepi : bagi Bowie Kopi semakin pahit Ketika lagu itu diputar kembali Dan aku sendiri di meja ini Sepanjang waktu menanti Cafe yang dulu menemani kita Tetap penuh di kala siang atau malam Orang membaca koran atau menulis catatan Atau duduk menatap pejalan lalu lalang Kau tak ada lagi Aku tak mengerti mengapa itu terjadi Kita tak bisa saling menatap

Read More
Ilustrasi pusat kota Jakarta. (Foto: Dokumentasai www.jakarta.go.id/)

Sayang, Aku Telah Kembali: Puisi Djunaedi Tjunti Agus

Puisi: Djunaedi Tjunti Agus sayang, aku telah kembali petualangan telah berakhir semua kembali terang benderang aku sadar telah tersesat saat memilih jalan di persimpangan kini jalan lurus kembali terbentang kaulah pautan hatiku sesungguhnya kita memiliki jalan sama satu hati dan satu kata sayang, terimakasih kau bersabar tak bosan mengingatkan aku untuk kembali ke jalan-Nya baru aku sadari sekarang jalan yang ku tempuh dulu kelam berjalan

Read More

Biarlah Berlalu Puisi Djunaedi Tjunti Agus

Tak terasa semua telah berlalu tidak ada rasa, tanpa permisi plong, rasa lega pun datang aku tak perlu lagi nyinyir bak tua bangka haus perhatian tak perlu mengawasi bak pengembala biarkan berjalan bak air mengalir hanyut ke hilir menyusuri lembah biarlah semua berlalu aku tak peduli, meski kau hanyut terombang-ambing di tengah samudra berpegangan pada namanya ambisi mencari kebebasan di lembah nista kau

Read More
ilustrasi (Foto BMKG)

Bulan Kesiangan

Puisi: Djunaedi Tjunti Agus   matahari mulai menyembul kau baru pertengahan jalan cahaya mu mulai memudar meredup, pucat pasi   tapi percayalah kau tetap dinantikan fungsimu tak berubah menerangi malam   tanpa mu malam kelam tanpa mu malam jadi sepi bila kau tak hadir semua sunyi aku pun merana, tak ada arti   tak peduli kau kesiangan kehadiranmu selalu dinanti bahkan ketika gerhana bulan pun kau pun jadi perhatian semua berlomba,

Read More
ilustari (hak cipta: https://satriabajahitam.com)

Jangan Dekati Zina

Puisi: Djunaedi Tjunti Agus   jangan dekati zina tundukkan pandangan jika tidak ingin terjebak itu adalah godaan setan membuat orang mabuk asmara karena alasan cinta, harta tega mengorbankan keluarga lupa akan dosa-dosa mengumbar nafsu setan   zina membuat orang lupa lupa suami, istri, dan anak lupa Allah dan siksaannya meski sehari-hari tampil sopan berpakaian muslimah, muslimin bila setan telah merasuk nafsu birahi yang di kedepankan   Astaghfirullah, sadarkan mereka yang berzina

Read More
ilustrasi berdoa (karya ummi online.com)

Antara Doa dan Menggugat

 Puisi: Djunaedi Tjunti Agus   Ada yang hanya mengerang Sambil lirih berucap aduh Ada yang menggugat Bertanya kepada Tuhan Apa salah saya? ***  Ada yang berdoa Mohon ampunan dan kesembuhan Ada pula yang diam seribu bahasa Tapi tak jarang berteriak tak karuan *** Allah mungkin geli tertawa Melihat tingkah manusia Yang tak pernah merasa salah Tak merasa pernah berdosa ***  Ampuni hamba ya Allah *** RS Harapan Kita 03012015

Read More
Ilustrasi (Foto Dokumentasi Al Jazeera0

Tanda-Tanda Kiamat Makin Nyata

Puisi: Djunaedi Tjunti Agus   bila matahari terbit di ufuk barat langit runtuh porak poranda gunung berterbangan bak kapas laut pasang meratakan jagat Padang Mahsyar pun terkembang mayat-mayat bangkit bermunculan bak laron muncul setelah hujan   tanda akan kiamat makin nyata manusia tak takut berbuat dosa lesbian, gay, dianggap hak juga biseksual dan transeksual LGBT dikatakan hak asasi manusia perzinaan disebut bukan dosa dengan alasan suka

Read More
ilustrasi foto indowarta.com

Tak Mungkin Terus Bersatu

Puisi: Djunaedi Tjunti Agus   haruskah aku menyerah setiap berusaha melupakan sosokmu malah makin jelas setiap berupaya lari darimu kau makin rapat menempel hati dan pikiran pun gundah   kisah kasih di masa silam canda tawa dan merajuk perjalanan panjang tanpa batas selalu muncul, terbayang kadang aku tertawa sendiri ada kalanya mendadak cemberut kenapa semua itu tak mau hilang   ku coba berpangku tangan mengangkat bahu tinggi sekali menendang-nendangkan

Read More
ilustri cover kumpulan cerpen Kekasih Yang Hilang.

Selimut Putih

Puisi: Djunaedi Tjunti Agus bed pegas itu begitu sepi hanya ada dua bantal dua remote control satu ntuk tv, lainnya untuk ac selimut putih itu masih rapi tak ada bekas dipergunakan   mata terus menyusuri dari pintu kamar terus ke kursi, meja wajah di cermin tampak kuyu rindu terus menggeluti tak tahan jauh darimu   suara televisi mendayu sepatu tergelatak, kumuh baju bekas pakai terkulai celana pun teronggok asbak merusak

Read More
ilustrasi Al Makkah Al Mukarramah. (Foto: World of Mosque Stamps)

Cinta Tak Harus Memaksa

Puisi: Djunaedi Tjunti Agus rindu, hati ini bagai diremas perasaan tak pernah putus pikiran tak pernah lepas membayangkan sosokMu semua tergambar jelas agung, mulia, dan berkuasa tak sedetikpun aku alpa selalu mengingat, rindu mulutku selalu menyebutMu memanggil dan berharap tak pandang tempat dan waktu aku selalu berusaha menyeru cinta tak harus memaksa doa tak boleh ditakar aku telah sering diingatkan tapi cintaku padaMu mendalam harapan melebihi alam

Read More

Nina Bobokkan Aku Puisi Djunaedi Tjunti Agus

Panggil aku yayang nina bobokkan aku belailah daku lembut sepenuh perasaanmu begitu katamu selalu tubuhmu semerbak wangi menambah suasana syahdu itu terjadi dari dulu hingga kini tak pernah terhenti sesaat pun kau setia menanti meski kantuk telah menggelayut tak ada terucap kata capai walau wajahmu terlihat lelah belailah daku katamu berulang aku rindu ujarmu dengan sendu kau raih tanganku, lembut kau berbalik lalu merapat aku rindu katamu

Read More

Temani Aku Malam Ini Puisi Hendry Ch Bangun

Temani Aku Malam Ini Sepi itu tusukan duri Karena itu kau kunanti malam ini Mengapa harus ada jarak Mengapa kita tak bisa terbang Tak perlu menimbang Dan memikirkan ide yang masuk akal Yang kuinginkan kita dapat berpelukan Di tepi jendela atau sofa di tengah ruang Kita reguk waktu Saling memandang dan memagut Lepaskan tenaga yang lama terperangkap Sampai lelah menandai badan Ayolah, datang Hanya

Read More

HARGA DIRI

Puisi: Djunaedi Tjunti Agus jangan katakan aku tak berarti jangan katakan aku pengemis jangan katakan aku pendusta jangan sebut aku pemburu harta aku punya harga diri dan hati enyahlah, aku bukan penjual janji aku memiliki harga diri aku memiliki jiwa dan raga aku ada karena rahmatNya tak mungkin aku memelas menjatuhkan harga diri pergi, enyahlah, menjauhlah jangan sebut aku ingkar janji jangan katakan aku

Read More

PENUH MISTERI

Puisi: Djunaedi Tjunti Agus kerap tak sesuai kulitnya dibalut oleh aksesoris senyum kerap menipu sering penuh kepalsuan membalut berbagai rahasia manusia itulah umumnya kerap penuh tanda tanya siapapun susah menebak apa dan bagaimana manusia memang penuh misteri hanya Allah yang tahu penuh misteri penuh tanda tanya kelihatan bahagia kadang sedih merana lain waktu senyum sumringah namun kadang itu palsu untuk menutupi rahasia diri jeritan hati kekecewaan, keluhan kadang ditutupi dengan rapi tapi

Read More
ilustrasi Ayam jantan. (Foto: Bobo.id)

Itulah Hidup

Puisi: Djunaedi Tjunti Agus kadang sedih kadang gembira adakalanya merasa tak berguna adakalanya merasa dibutuhkan itulah kehidupan suatu ketika merasa terhina lain waktu berasa dipuja kadang serasa tak berharga lain masa merasa dibanggakan inilah hidup hidup tak selalu menyenangkan kadang keras dan menantang kadang memelas menyedihkan tak jarang harus mengurut dada pasrah dan menyerah hidup harus dimaknai selalu disikapi positif berdoa dan berusaha memohon kepadaNya Allah Maha Bijaksana Jakarta, 23072017

Read More
ilustrasi foto korban perang Suriah. (Dokumentasi Al Jazeera)

BILA SUDAH WAKTUNYA

Puisi: Djunaedi Tjunti Agus Kapan dan kapan? Sudah dekatkah waktunya Makin usia berkurang Pertanyaan itu kerap datang Kapankah waktunya? Bila bicara kematian Dosa pahala kerap terbayang Apa yang telah dilakukan Teringat harus masuk kuburan Awal dari perjalanan fana Ah dunia hanya tuk sementara Pertemuan tak selamanya Perpisahan suatu kepastian Panggilan Allah itu pasti Tak ada yang bisa menghambat Jika waktu itu datang Bila sudah waktunya Rela atau tidak

Read More

Jakarta Mabuk  Puisi A.R. Loebis

I Jakarta mabuk kebanyakan air kepayang kepenuhan kata Aku kepayahan ah kurasa hampir semua kesusahan memungut kata untuk menyusun frasa Karena ia seperti banjir yang menghanyutkan makna Menenggelamkan arti yang terukir dalam dada Mencampakkan pikir yang terlukis di benak kepala Menghunjam logika yang sudah tertatih dimakan zaman Menghantam-hantam Apa siapa kapan dimana pun   Ah Jakarta mabuk kebanyakan air kepayang kepenuhan kata Aku resah menyimpan cemas

Read More

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru