Monday, November 12, 2018
Home > Cerita > Puisi & Pantun

Wajah Tua, Puisi Djunaedi Tjunti Agus

apa lagi yang kau cari? hati ini bertanya menyelidik wajah itu tak lagi segar kerut dan garis mulai tampak pertanda wajah telah menua                  *** pantulan di kaca hanya diam tak ada kata, apalagi cerita kerut terdapat dimana-mana tanda ketuaan semakin nyata apa lagi yang kau cari?                 *** apa yang telah kau lakukan masihkah kau berbuat dosa melupakan Sang Pencipta berbuat sesukamu, liar tak peduli

Read More

Sajak Tiang Listrik (1) Oleh A.R. Loebis

Ini sajak fisik bukan berasal dari gejolak batin paling dalam Tapi ini bukan tiang listrik biasa Karena konflik eksternal ini mengguncang siapa saja   Ini sajak fisik Tak berasal dari gejolak jiwa sang penyair mana pun Tapi ini bukan tabrakan biasa Karena tiada bukti waras konflik internal untuk membuncahkan simpati dan empati entah faham atau tidak hukum dan politik pun ini

Read More

Jika Aku Mati, Puisi Djunaedi Tjunti Agus

Jika ku mati Aku ingin diterima-Nya Tanpa dosa-dosa Diampuni segalanya   Aku tak takut mati Hanya takut masuk neraka Karenanya ampuni aku Ampuni segala dosa Disengaja atau tidak   Aku tidak sempurna Ya Allah terima tobatku Tunjukkan ke jalan yang benar Jauhkan dari dosa-dosa   Mungkin aku laki-laki tak berguna Tak berguna bagi keluarga Bagi anak-anak dan istri Bagi orang tua dan saudara Bagi siapa saja Mungkin itu sudah jalanku Maafkan hamba

Read More

Kemarahan Pelacur Tua, Puisi Djunaedi Tjunti Agus

saya pelacur, apa pedulimu demikian WhatsApp mu padaku lalu kau kembali menghadang membelalakkan mata, menantang bukan urusanmu jika aku melacur itu katamu berulang, garang tantangmu membusungkan dada aku bebas tidur dengan siapapun begitu kau berucap berulang   tak peduli, aku menghindar tapi kau terus coba menghadang hanya karena melihat tak sengaja kau menggoda seorang lelaki bergelayut ketika berfoto berdua juga ketika dia menyelinap melepas birahinya di

Read More
Lesung (ilustrasi: Sahabat Nestle)

Hai Pezina Sadarlah, Puisi Djunaedi Tjunti Agus

dosamu makin menumpuk iblis tak perlu lagi menggodamu karena kau telah akrab dengan dosa pezina telah melekat di jiwamu hartamu telah hitam legam terus menerus dihantam palu godam hingga menganga bak lubang biopori yang tak lagi elastis, mati rasa selalu menganga menampung air kotoran dan limbah pun mengalir   hai para pezina, sadarlah penyamaranmu tak lagi mempan sosokmu yang dibalut bak ustadzah penampilan bagaikan

Read More

Tak Ada yang Tak Mungkin, Puisi Djunaedi Tjunti Agus

jika Allah menghendaki tak ada yang tak mungkin kapanpun Allah menginstruksikan maka jadilah semua kehendakNya Allah Maha Kuasa semua kehendakNya pasti jadi tak ada yang mampu membendung   jadilah, maka jadilah semua perintahnya jadi nyata meski miliaran umat miminta memohon Rahmat dariNya tak ada kesulitan bagi Allah semua tinggal perintah Allah Maha Kaya, pemurah   berdoalah, jangan pernah bosan jangan pernah putus asa apalagi menjadi patah arang tak lagi

Read More

Kadaluarsa, Puisi Djunaedi Tjunti Agus

basi, sudah kadaluarsa tak enak disantap juga tak enak dipandang bahkan penyakit mengancam jika nekad menikmatinya   maaf kawan aku tak lagi tertarik tidak lagi ingin mengenyam apalagi telah banyak tangan dari sekadar memegang sampai yang mengobok-obok akibatnya semua menjadi basi   kasihan, tapi itu salahmu sendiri mengobral di tengah keramaian debu, lalar pun hinggap bebas sehingga peminat pun berubah hanya yang berselera rendah sajianmu tak lagi mengundang

Read More

Peringatan dan Kepiluan, Puisi Djunaedi Tjunti Agus

MUSIBAH datang silih berganti gempa, tsunami, banjir, longsor harta hancur, hilang seketika tak sedikit nyawa pun melayang tangis pilu, kesedihan merebak doa kemudian dipanjatkan nama Allah pun dilafazkan Allah, inikah peringatan tunjukkan kami pada kebenaran pada jalan yang Engkau ridhoi selamatkan kami dan keluarga kami dari segala musibah yang ada ampuni kami semua ya Tuhan kembalikan kami pada kebenaran dari kesesatan dan penyimpangan Allah, Engkau

Read More

Hijrah

Enyahlah kau...... Akan dapatkan dirimu hijrah Hijrahlah , kau akan dapatkan ganti apa yang kau cintai Cintailah saudaramu seperti engkau mencintai dirimu sendiri Bersendirilah dan tanyakan siapa dirimu ini? Kau tidak tahu siapa dirimu kecuali kau tahu siapa Tuhanmu Bagaimana kau tahu ,sedangkan qabliyah saja belum, sudah terdengar iqomah Maunya dluha tapi sudah keburu lohor Tak sempat berjamaah

Read More

Sajak Orang Buta

Ada orang buta Mencari cahaya dengan menatap rembulan Hatinya menyala nafasnya berbunga bunga Sang rembulan melengos karena ia sedang bercanda dengan kejora Si buta kecewa kasihnya tak sampai Ratapannya menggoncang arsy Mengusik sang Hyang Rahmani.... Rembulanku telah abai Purnamaku telah lalai Kukasih dia setangkai cabai Tahukah engkau wahai rembulan Si buta itu ingin membasuh mukanya dengan cahayamu Sedangkan si kejora hanya

Read More

Sajak Subuh di Josari

Subuh di Josari Suara azan dari seribu surau Merobek fajar yang belum lagi mekar Kecek walangpun tak lagi mendesir Entah dimana dia kini Pohon sawo masih berkelindan batangnya Dulu aku sering bergelayutan melimbang bak monyet kampung Enam puluh tahun lalu dan pucuk masjid pun masih begitu Bau pesantren masih menguar tapi dimana santrinya kini Seratus tahun lalu, kendil kendil

Read More

Sajak Bung Bangkitlah

Bung, bangkitlah Barangkali Bung lelah di alam kubur Tengoklah tanah airmu yang kini tinggal tanahnya doang Karena airnya telah terjual Tengoklah tambangnya yang sudah kempot Karena isinya sudah disedot freeport Bung, yang terbaring di Bendogerit Bangkitlah Tapi jangan tanya batubara ya Batunya sudah habis diekspor tinggal baranya saja Kemudian membakar sentimen antar suku ,agama dan pilkada Bung mintalah cuti barang dua

Read More

Sajak Balada Yusuf (2)

Ranjang besi Selimut besi Terali besi Enam atau tuju tahun dibalik jeruji besi tak ada arti Dibanding kehormatan Yusuf tahu diri , tirani adalah tembok besi Hanya waktu yang bisa membuatnya korosi Adalah dua narapidana berada disampingnya Keduanya mantan punggawa istana Si bartender bermimpi memeras anggur persembahan untuk sang raja Sang cheff bermimpi menyunggi kue dan burung nazar menyantap dikepalanya Wahai

Read More

Dunia Hanya Tipuan, Puisi Djunaedi Tjunti Agus

Balada: Djunaedi Tjunti Agus   dunia hanya sebentar tidak lama, hanya sedikit akherat panjang, tak terbatas jangan utamakan kehidupan dunia karena itu adalah kebodohan kejarlah amal untuk akherat   dunia lebih buruk dari bangkai anak kambing mati yang cacad lebih buruk dari kotoran sampah yang keluar dari manusia namun diperebutkan orang tanpa berpikir akan akherat   dunia hanya tipuan dunia ini pahit, ada batasannya tempat singgah sementara menjelang hijrah

Read More

Jeritan Hati, Puisi Djunaedi Tjunti Agus

Jeritan Hati Puisi: Djunaedi Tjunti Agus   Banyak yang terlintas Satu demi satu muncul Bak lembaran buku Berwarna warni, penuh corak Ada merah, hitam, putih Senang, sedih, sesal   Campur aduk, buruk baik Ada kebanggan ada sesal Hati terus berkata-kata Kenapa begini, begitu Kenapa tidak selalu putih Kenapa harus terjadi   Tikungan, jalan lurus dilalui Jalan berlobang menghadang Jalan bergelombang dilindas Tubuh terguncang, turun naik Kadang terhempas, terhenyak   Sesal juga sering mencuat Kenapa

Read More

Melihat Jakarta dari Puncak Monas

Melihat Jakarta dari puncak Monas...... Ada ayam mengajar kambing Ayam mengembik sambil mengencingi kuda........ Kucing melolong dengan bahasa kalong Heyna mendengkur sambil menggigit kaki kuda.. Ada burung gagak menyanyi seriosa... Lagunya mememikkan irama namimah dan ghibah... Wahai makhluk mulia yang pernah diciptakan.... Relakah kau menghinakan dirimu setara habitat mereka.. Si buta menghardik si bisu Si Tuli menghujat si pekak Si

Read More

Jumat di Menado

Jumat di Menado Kumegarkan daun telinga mencari suara azan disubuh buta Tak bergetar membran karena sumber suara jauh diujung negeri Tertutup altar bias dengan cicit burung gereja Di Paniki Bawah masjid tua berselisih dengan tembok ruko Karpetnya gundul horen nya terserang flu stadium empat Tercium aroma apek ketika sujud jumatan disana Khatibnya muda masih menyimpan semangat Didepan jamaah

Read More

Aku dan Kau

Aku dan Kau Kau bilang itu korupsi Aku bilang itu prestasi Kau bilang korupsi itu masif berjamaah dan terstruktur Aku bilang korupsi itu kalau tertangkap Kau bilang korupsi itu kejahatan luar biasa Aku bilang korupsi itu biasa saja tuh Kau bilang korupsi e_Katepe itu mega korupsi Aku bilang itu pepesan kosong Singgasanaku magrong magrong di Senayan Aku tak bergeming karena

Read More

Perjalanan Panjang, Puisi Djunaedi Tjunti Agus

Perjalanan Panjang Puisi: Djunaedi Tjunti Agus   ini entah pemberhentian keberapa? tidak terhitung lagi tikungan serta jalan lurus yang dilalui juga turunan yang curam jalan mendaki yang terjal berkelok, meliuk di pinggang jurang menyeberangi lautan luas mengudara dengan burung besi   jalan berlubang, berkerikil tajam jalan mulus dan terbentang lebar hingga pada jalan setapak yang penuh onak dan duri tantangan, entah sampai kapan? tak seorangpun dapat memprediksi   banyak

Read More

Dalam Kesendirian Puisi Djunaedi Tjunti Agus

Hati ini terenyuh dada makin terasa berat air mata tak lagi terbendung akhirnya cair menggenang isyak pun pecah membelah kesunyian malam hanya aku dan Engkau seperti ada jalur khusus membentang ke atas, lurus seperti jalan tanpa hambatan tidak ada halangan tak ada bunyi-bunyian bebas dari hingga bingar dalam kesunyian malam menjelang pagi, sepi belum ada kokok ayam suara cicak pun menghilang hati semakin tertuju pada Mu sosok ini

Read More

Inikah Aku?, Puisi Djunaedi Tjunti

Inikah Aku? Puisi: Djunaedi Tjunti bayangan mencuat di genangan terlihat sebuah wajah bak sketsa yang tak begitu jelas namun aku tahu siapa pemiknya wajah yang tak asing bagiku raut yang sangat akrab                *** dia adalah wajahku yang telah berpuluh-puluh tahun tak terpisahkan melekat erat hati, perasaan, bersatu utuh dari waktu ke waktu kami  selalu bersama              *** keceriaan masa kecil masa kanak-kanak dan remaja beragam tantangan kala

Read More

Pemimpin Polesan, Puisi Djunaedi Tjunti

Oleh: Djunaedi Tjunti Awas pemimpin polesan Prestasi kecil bisa di di blowup Bisa dikesankan berjasa Membela rakya jelata Dengan memanfaatkan media Waspada, jangan tergoda Awasi tipu muslihat mereka Biarkan mereka bersuara Tetapi jangan terperdaya Dengan uang Dengan kekayaan mereka Dengan gaya Dengan persekongkolan Mereka bisa bicara apa saja Membujuk, menggoda Bahkan mengumbar janji Meski hanya tipu daya Waspada Hati-hati godaan mereka Para pemimpin polesan Saat ini saja tak jujur Pasti nanti, ketika

Read More

Jalan Tuhan, Puisi Djunaedi Tjunti Agus

Puisi: Djunaedi Tjunti Agus tadinya terasa berat menahan rasa dan keinginan dari hura-hura dan keangkuhan melayang tanpa arah, bebas membawa kepongahan dan sombong menganggap dunia hanya milik kita *** tadinya tak ada halangan semua diterabas, bebas pongah melindas, tak ada yang menghalangi namun kini harus ada aturan harus sesuai kehendakNya baik buruk ada ukurannya dosa dan pahala, jelas *** apa artinya taubat? jika kesalahan sama berulang apa gunanya

Read More
Ilustrasi Gunung Bromo. (Foto: initempatwisata.com/Istimewa)

Jebakan dan Kiamat; Sajak Djunaedi Tjunti Agus

Jebakan dan Kiamat Oleh: Djunaedi Tjunti Agus   tanda-tanda kiamat sudah banyak pembantu melahirkan anak majikan yang dikasi amanah menyeleweng membuat aturan, dia yang melanggar kejujuran sudah gaib amanah hilang, jadilah penghianat   tanda kiamat sudah banyak muncul fenomena alam ada gempa, sunami, rumah roboh bahkan tempat ibadah hancur semua peringatan Allah   maksiat dimana-mana rumah Allah banyak, tapi tuk berkelahi menghantam kawan-kawan sendiri ini tanda kiamat makin dekat ustad

Read More

Meja Yang Sepi :bagi Bowie Puisi Hendry Ch Bangun

Meja Yang Sepi : bagi Bowie Kopi semakin pahit Ketika lagu itu diputar kembali Dan aku sendiri di meja ini Sepanjang waktu menanti Cafe yang dulu menemani kita Tetap penuh di kala siang atau malam Orang membaca koran atau menulis catatan Atau duduk menatap pejalan lalu lalang Kau tak ada lagi Aku tak mengerti mengapa itu terjadi Kita tak bisa saling menatap

Read More
Ilustrasi pusat kota Jakarta. (Foto: Dokumentasai www.jakarta.go.id/)

Sayang, Aku Telah Kembali: Puisi Djunaedi Tjunti Agus

Puisi: Djunaedi Tjunti Agus sayang, aku telah kembali petualangan telah berakhir semua kembali terang benderang aku sadar telah tersesat saat memilih jalan di persimpangan kini jalan lurus kembali terbentang kaulah pautan hatiku sesungguhnya kita memiliki jalan sama satu hati dan satu kata sayang, terimakasih kau bersabar tak bosan mengingatkan aku untuk kembali ke jalan-Nya baru aku sadari sekarang jalan yang ku tempuh dulu kelam berjalan

Read More

Biarlah Berlalu Puisi Djunaedi Tjunti Agus

Tak terasa semua telah berlalu tidak ada rasa, tanpa permisi plong, rasa lega pun datang aku tak perlu lagi nyinyir bak tua bangka haus perhatian tak perlu mengawasi bak pengembala biarkan berjalan bak air mengalir hanyut ke hilir menyusuri lembah biarlah semua berlalu aku tak peduli, meski kau hanyut terombang-ambing di tengah samudra berpegangan pada namanya ambisi mencari kebebasan di lembah nista kau

Read More

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru