Sunday, June 24, 2018
Home > Cerita > Cerita Pendek

Pengantin Baru untuk Kedua Kalinya, Cerpen: Djunaedi Tjunti Agus

Pengantin Baru untuk Kedua Kalinya Cerpen: Djunaedi Tjunti Agus Cincin kawin masih melingkar di jari manis tangan kananku. Hanya itu sisa-sisa pertanda aku pernah menikah. Suamiku telah pergi, raib tidak tahu kemana dia mengelana. Apakah masih hidup, atau telah mati, aku juga tak pasti. Yang jelas tidak ada lagi kabar, telah hampir

Read More

Tromol Mesjid Cerpen A.R. Loebis

Masyarakat di kawasan tempatku bermukim gempar Senin pagi.  Pasalnya kotak tromol mesjid amblas isinya. Kegemparan ini terasa semakin menyesakkan, karena kejadiannya bertepatan dengan hari raya Idul Fitri. Berikut ini kejadiannya. Sekitar satu jam setelah usai solat hari raya, terdengar suara-suara berisik dari arah mesjid, yang letaknya tak jauh dari rumahku. Aku saat itu

Read More

Di Simpang Jalan, Cerpen: Djunaedi Tjunti Agus

Cerpen: Djunaedi Tjunti Agus “Maaf jika saya mengganggu. Sekali lagi maaf. Tapi saya tidak sabar melihat anda duduk diam dari waktu kewaktudengan wajah sedih begitu. Pulau Maratua begitu indah, penuh pesona. Kenapa tidak anda nikmati?” Saya coba mengangkat wajah, malas, berusaha meneyilidiki apa maunya perempuan ini? “Saya perhatikan beberapa hari ini anda menghabiskan

Read More
Ilustrasi Jembatan Ampera Palembang. (Foto Wikipedia)

Kembali Bersemi di Charitas

Cerpen: Djunaedi Tjunti Agus "Anda ini siapa? Seenaknya melamar anak orang? Saya tidak tahu asal usul Anda, pekerjaan Anda. Lagi pula Anda baru kenal anak saya empat, lima bulan ini." Saya tak menyangka Bu Nia bakal marah, karena pada dua kali kedatangan saya sebelumnya, dia dan suaminya begitu ramah. "Mama sakit keras. Tolong

Read More
ilustrasi (repro khazanah Republika)

Pesan Singkat

Cerpen: Djunaedi Tjunti Agus   SEBULAN lebih saya tak lagi menerima  pesan singkat atau  short message service (SMS) dari nomor  telepon genggam tersebut.  Siapa sebenarnya pemiliknya? Rasa penasaran tak kunjung hilang. Padahal biasanya saya tak peduli dan beranggapan itu hanya pekerjaan orang  iseng. Diisengi, bahkan diancam melalui SMS bukan hal baru. Bahkan seorang 

Read More

Maafkan, Jika Saya Tak Sempurna

Cerpen: Djunaedi Tjunti Agus “Maafkan, jika saya tak sempurna. Saya pamit untuk tidak kembali. Kita sudah tidak cocok, saya pergi untuk selamanya. Lagi pula tidak ada yang kita pertaruhkan. Kita tidak punya keturunan. Anda tak lagi mempedulikan saya. Kita tak lagi saling membutuhkan. Sudah tak sejalan.” Surat, atau persisnya catatan singkat itu

Read More

Lobang Maut di Malam Lebaran Cerpen Astrid Citra Damaiyanti

Pengumuman di komuter line menyebutkan kereta dari jurusan Bekasi akan tiba. Aku naik pukul 17.40 dengan tujuan stasiun terdekat, Manggarai, dan  seperti biasa, tinggal jalan kaki saja menuju rumahku yang tidak jauh dari stasiun penghubung itu. Pengumuman dari pengeras suara dalam kereta memberitahukan agar para penumpang berhati-hati dan segera menutup pengaman jendela,

Read More

Kekasih yang Hilang

Cerpen: Djunaedi Tjunti Agus HARI ini entah sudah hari keberapa, Murni tak lagi mengingatnya. Akhir-akhir ini dia bekerja layaknya robot, pagi pergi ke hypermarket tempat di bekerja, sore kembali ke tempat kos. “Lebih baik saya mati saja. Kenapa penderitaan ini tak pernah berakhir,” tutur Murni. Sriatun rekan kerjanya, yang juga teman sekamar Murni

Read More
Ilustrasi: Foto Reuters/Al Jazeera

Runtuhnya Harapan

Cerpen: Djunaedi Tjunti Agus “Saya sekarang tidak memiliki pemasukan sama sekali. Gak ada gaji, uang pensiunpun mandeg.” Entah untuk keberapa kalinya saya menerima keluhan senada. Cerita sedih, mengenaskan, silih berganti datang, masuk ke WhatsApp di telpon genggam saya. “Bang, sejak kantor kita tutup saya betul-betul kelabakan. Untuk makan kami, biaya sekolah anak-anak, saya

Read More

Mencintai itu Menyebalkan Cerpen Andi Dasmawati

Mencintai itu menyebalkan! Kau akan sibuk mengingat-ingat semua kebersamaan setelah dia tak lagi di hadapanmu. Kemudian kau akan merindukannya, meneleponnya, seolah hal terbaik di muka bumi pada hari itu adalah bepergian dengannya. Aku terduduk di sofa, memandang tanpa semangat pada novel berwarna tosca nan tebal. Belum selesai terbaca. Bukan kebiasaanku sebenarnya,

Read More
Ilustrasi bola (Foto: Prediksibolaprofesional.blogspot.com)

Sang Pahlawan

Cerpen: Djunaedi Tjunti Agus Telah lebih satu bulan Indonesia menyandang gelar juara Piala Dunia 2038, belum ada tanda-tanda puja dan puji terhadap tim nasional bakal surut. Kancang Piliang, salah seorang pemain depan, menjadi bintang utama. Setiap tim nasional diarak di berbagai kota, dia paling banyak mendapat perhatian. Padahal empat tahun lalu,

Read More

Bendera Kuning Cerpen A.R. Loebis

Setiap melihat bendera kuning kecil, perasaan Munir jadi tak menentu dan dadanya deg-degan.  Ia membayangkan wajah kaku, diselimuti kain putih atau batik. Orang-orang mengelilinginya, tetangga berdatangan dan duduk di kursi-kursi yang disiapkan di halaman atau di gang-gang sempit di kawasan bendera kuning itu ditancapkan. Bendera kuning itu tanda ada kematian. Munir

Read More

CIN(T)A Cerpen Kartika Permata Putri Bangun

“Karena tak seharusnya, perbedaan menjadi jurang. Bukankah kita diciptakan, untuk dapat saling melengkapi, mengapa ini yang terjadi?”,  larik lagu dari Tere dan Valent yang berjudul Mengapa Ini Yang Terjadi itu, kini terputar pada radio mobil Javier. Mendengar lagu tersebut, aku hanya bisa tersenyum simpul sambil melihat wajahnya yang sedang berkonsentrasi menyetir. Minggu

Read More

Kereta Terakhir ke Jurangmangu Oleh Hendry Ch Bangun

Dua puluh tahun lebih Ibrahim menggunakan kendaraan pribadi untuk ke kantor. Tahun 1990an, sudah ada macet sedikit-sedikit tetapi dia menikmati saja jalan raya dari rumahnya di kawasan Ciputat ke kantor di tengah kota. Hampir tidak ada pilihan memang. Pernah dia mencoba naik angkutan kota, mikrolet, tetapi sungguh dia merasa tidak

Read More

Bung Dimana? Cerpen Hendry Ch Bangun

Lagu “Bung Dimana” ciptaan Iskandar dalam irama keroncong yang terdengar lamat-lamat dari rumah tetangga melambungkan kenangan Rudy ke masa yang jauh di belakang. Ya dimana kalian sekarang? Sekian banyak wajah teman-temannya tiba-tiba menyeruak satu persatu. Teman-teman ketika sekolah dasar, ketika menginjak masa remaja di SMP-SMA, dan mereka yang menjalani masa-masa kuliah

Read More

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru