Tuesday, June 25, 2019
Home > Cerita
Ilustrasi: Masjid Al-Aqsa Palestina (Arab News)

Ketika Setan Dibelenggu, Puisi Djunaedi Tjunti Agus

oleh:Djunaedi Tjunti Agus   ketika ayat-ayat Mu ku baca ketika ayat suci berkumandang hati ini terasa nyaman, damai kadang air mata mengalir lain waktu sampai terisak-isak dalam dada muncul gelora ada sesal, ada pula kerinduan   Ramadhan mengubah segalanya ingat dosa, terkenang masa lalu berbagai kesalahan muncul datang berebutan susul menyusul kebaikan ada, tapi tak seberapa ampuni hamba ya Allah jadikan bulan suci ini bermakna mengantar hamba

Read More

Ramadhan pun Berakhir, Puisi Djunaedi Tjunti Agus

Ramadhan telah berakhir bulan suci itu selesai sudah kitapun boleh berbuka siang hari memadu cinta dengan pasangan kitapun bermaaf-maafkan dengan sesama umatNya Minal aidin wal faizin   namun bukan hanya itu justru saatnya kita merenung apakah yang kita lakukan sepanjang bulan suci Ramadhan adakah kita melakukan kebaikan berbuat baik antara sesama selain melakukan perintah Allah atau hanya sekadar menahan lapar   adakah Ramadhan berbekas mendorong perilaku kebaikan atau hanya

Read More

Jangan Mati Sia Sia, Puisi Djunaedi Tjunti Agus

setiap nyawa tak akan pergi meninggalkan raganya sebelum rezekinya habis kematian tak akan datang sampai semua jatah dinikmati Allah telah menjanjikan itu   Rasulullah telah memastikan setiap jiwa tidak akan mati sampai sempurna ajalnya hingga habis jatah rezekinya namun jangan hanya pasrah menerima apa adanya   carilah rezeki dengan cara halal jangan lakukan segala cara merenggut merajalela tanpa berpikir halal dan haram perolehlah harta atas ridhaNya bukan dengan cara

Read More

Menatap dari Huntingdale Puisi A.R. Loebis

Dari Huntingdale menatap Al Noor dan Linwood Ketika Jumatan di Huntingdale dingin autumn khusuk, di antara orang bersorban berjubah berjanggut panjang tatapan iklas penuh persaudaraan khotbah bukan bahasa ibu berkali-kali bilangan zakat dan jariah aku mengkhidmatkan kewajiban di Huntingdale 5.204 kilometer berjarak dari Jakarta   Jumat sama Sama-sama Jumatan bilangan menit ke menit Masjid Al Noor dan Linwood gempar timah panas berterbangan tajam menusuk kulit Ada gempuran merobek

Read More

Inikah Kita, Puisi Djunaedi Tjunti Agus

kaki yang telanjang, hitam naik ke kursi dengan lutut berdiri tak peduli orang di sebelah risih cuek bebek, acuh tangan sibuk memainkan hp serius tak peduli sekitar antre menunggu panggilan menjadikan banyak orang jutek memperlihatkan aslinya termasuk yang tampil kampungan   lalu lihatlah ke sekitar anak-anak, remaja berlarian atau saat naik kendaraan entengnya berucap serampangan kata bodoh, goblok, anjing sumpah serapah menyemburat tak terlihat risih, malah tertawa ucapan

Read More
ilustrasi hak cipta ummi-online.com

Taubatlah, Puisi Djunaedi Tjunti Agus

Taubatlah Puisi: Djunaedi Tjunti Agus   segerakanlah sebelum azab datang menerpa secara tiba-tiba pada waktu tak terduga taubatlah secepatnya minta ampun atas dosa-dosa   minta ampun lah segera atas semua kesalahan azab bisa datang tak terduga gempa, tsunami, banjir bisa datang secara tiba-tiba longsor, tanah bergerak tiba-tiba menghantam menghancurkan tak dinyana   bertaubat lah sebenar taubat diikuti amal shaleh bukan hanya dalam perkataan memohon ampun lah kepadaNya taubat wajib bagi semua menuju ketaatan pada

Read More

AKHIR KEHIDUPAN, Hati yang Membatu, Puisi: Djunaedi Tjunti Agus

Mata masih terasa berat menggeliat, meregang, menggelayut ingin rasanya menahan jarum jam namun waktu tak mau berhenti detik, menit, jam pun berlalu namun kemalasan masih dominan inikah pekerjaan iblis, setan semua itu harus dilawan demikian kata orang-orang bijak namun tak semudah mengucapkan tak semudah membalik telapak tangan entah karena hati lagi dingin mungkin membeku, menolak saran karena usia sudah semakin tua mungkin pertanda akhir

Read More

SENDIRI, Puisi: Djunaedi Tjunti Agus

sendiri terasa sunyi tak ada yang peduli, sepi kiri dan kanan asyik sendiri-sendiri menatap, kadang melirik mencari, menunggu entah siapa menanti tanpa kepastian di tengah kesendirian apa yang telah dilakukan kenapa harus mengenal mereka ada apa dengan diri ini mengapa semua harus terjadi sederet pertanyaan mencuat di saat kesendirian, sesal semua muncul silih berganti apakah semua itu takdir itu pasti, kebenaran dan kesalahan lainnya bagai berebut

Read More
ilustasi: Arab News

Amal dan Takdir, Puisi Djunaedi Tjunti Agus

AMAL DAN TAKDIR tugas umat adalah beramal bukan mempersoalkan takdir karena takdir adalah urusan Allah bukan urusan umat manusia tugas kita beramal, beribadah bukan menyerah karena alasan takdir   bukan hak kita memvonis diri menyatakan tak perlu lagi sholat tak perlu puasa, zakat, dan naik haji tidak perlu menyembah Allah karena alasan takdir, lauhul mahfudz karena semuanya rahasia Allah   lauhul mahfudz hanya Allah yang

Read More

Rindu, Puisi Djunaedi Tjunti Agus

kerinduan itu tiba-tiba datang muncul di tengah kebisingan di tengah banyak orang tak sabar bosan akan keadaan   kerinduan itu menyeruak menerjang menebas hambatan tak peduli ada yang ngedumel tak pusing ada yang cemberut   kerinduan itu mendorong memaksa bak larva mendesak kerinduan itu tak tertahankan rindu akan kesembuhan rindu kan ketenangan dan kemenangan   *RS Harkit Januari 2015

Read More

Basah, Puisi Djunaedi Tjunti Agus

kau yang selalu ku rindukan sayup mata mu membuat hatiku luluh kapan,  di manapun, takkan kulupakan aku sayang kamu, sungguh percayalah, aku takkan bosan   sayang, jangan termanggu aku tak akan pernah meracau jangan bosan menunggu aku tak akan membuatmu risau semua adalah milikmu   sampai kapan pun jua hingga hayat memisahkan kita akan selalu seiya   oh ikan koi ku yang basah teruslah berenang biarkan aku slalu

Read More

M u a l a f , Cerpen Djunaedi Tjunti Agus

"Pa, sini deh. Mana tangannya. Taruh sini. Terasakan gerakannya?" "Ya.., ya.," kata saya. Aku mengelus-eluskan telapak tangan ke perut istriku yang buncit. Narti, istriku, terlihat senang. Senyumnya mengambang. "Laki-laki atau perempuan sama saja kan? Kita harus siapkan dua nama ya, Pa?" "Tapi dokter kan bilang kemungkinan anak kita laki-laki," jawab saya. "Ah, bisa saja meleset.

Read More

Takdirku dan Takdirmu, Puisi Djunaedi Tjunti Agus

ketika ruh ditiupkan saat itu pula takdir telah berjalan ruh membuat manusia hidup dan itu adalah rahasia Tuhan Allah sudah mentakdirkan kita sejak kita dalam rahim ibu   Allah mentakdirkan jauh masa 50.000 tahun sebelum fakta diciptakannya langit dan bumi firman Allah dan sabda Rasul menegaskan semua hal itu   soal rizki, ajal, juga amal sengsara atau bahagia sorga atau neraka semua telah ditetapkan tercatat dalam lauhul

Read More

Matamu membuka rahasiamu Puisi A.R. Loebis

Matamu membuka rahasiamu Karena ia jendela nurani Yang menunjukkan kebaikan Kekejaman Kelicikan Matamu membuka rahasiamu Tak lagi sorot tajam meredup kau pesan kapling entah di mana mungkin di neraka atau surga Tapi apakah ada neraka dan surga Kok penilaianmu berkabut Ah, merananya nestapamu   Matamu membuka rahasiamu Tak ada lagi rahasia Pertemuan mata meluluhkan batas pandang Hilang makna rahasia Luluh arti rahasia   Rahasia, Kemana kau pergi Tiraimu tergulung Jendela nurani itu ternganga Kata rahasia

Read More

Menikam malam Puisi A.R. Loebis

Di tempat ini dulu aku menikam malam Luka menguak Cairan meleleh merah bersimbah   Di tempat ini dulu aku ditikam kelam Degup menganga Buih merekah merah membuncah   Di tempat ini kini waktu merunduk Menjahit duka Pandangan binar putih mengkristal,   Di tempat ini kini dipaku lara Terpacak meronta Merona di antara tusuk terus menikam   Di tempat ini dulu dan kini memasung langkah Tak bisa bersiasah Melihat

Read More

Betapa Banyak Andaikan, Oleh Hendry Ch Bangun

Melihat lagi ke belakang, betapa banyak kata andaikan yang keluar dalam desah yang ke luar dari mulut kita. Ya, seperti lagu Koes Plus “Andaikan” yang dipopulerkan lagi oleh Ruth Sahanaya, dengan liriknya, “Andaikan kau datang kembali..”. Untunglah aku tidak kedatangan orang yang disebutnya tersebut, sebab kalau benar-benar datang, entah apa

Read More

Wajah Tua, Puisi Djunaedi Tjunti Agus

apa lagi yang kau cari? hati ini bertanya menyelidik wajah itu tak lagi segar kerut dan garis mulai tampak pertanda wajah telah menua                  *** pantulan di kaca hanya diam tak ada kata, apalagi cerita kerut terdapat dimana-mana tanda ketuaan semakin nyata apa lagi yang kau cari?                 *** apa yang telah kau lakukan masihkah kau berbuat dosa melupakan Sang Pencipta berbuat sesukamu, liar tak peduli

Read More

Sajak Tiang Listrik (1) Oleh A.R. Loebis

Ini sajak fisik bukan berasal dari gejolak batin paling dalam Tapi ini bukan tiang listrik biasa Karena konflik eksternal ini mengguncang siapa saja   Ini sajak fisik Tak berasal dari gejolak jiwa sang penyair mana pun Tapi ini bukan tabrakan biasa Karena tiada bukti waras konflik internal untuk membuncahkan simpati dan empati entah faham atau tidak hukum dan politik pun ini

Read More

Jika Aku Mati, Puisi Djunaedi Tjunti Agus

Jika ku mati Aku ingin diterima-Nya Tanpa dosa-dosa Diampuni segalanya   Aku tak takut mati Hanya takut masuk neraka Karenanya ampuni aku Ampuni segala dosa Disengaja atau tidak   Aku tidak sempurna Ya Allah terima tobatku Tunjukkan ke jalan yang benar Jauhkan dari dosa-dosa   Mungkin aku laki-laki tak berguna Tak berguna bagi keluarga Bagi anak-anak dan istri Bagi orang tua dan saudara Bagi siapa saja Mungkin itu sudah jalanku Maafkan hamba

Read More

Kemarahan Pelacur Tua, Puisi Djunaedi Tjunti Agus

saya pelacur, apa pedulimu demikian WhatsApp mu padaku lalu kau kembali menghadang membelalakkan mata, menantang bukan urusanmu jika aku melacur itu katamu berulang, garang tantangmu membusungkan dada aku bebas tidur dengan siapapun begitu kau berucap berulang   tak peduli, aku menghindar tapi kau terus coba menghadang hanya karena melihat tak sengaja kau menggoda seorang lelaki bergelayut ketika berfoto berdua juga ketika dia menyelinap melepas birahinya di

Read More
Lesung (ilustrasi: Sahabat Nestle)

Hai Pezina Sadarlah, Puisi Djunaedi Tjunti Agus

dosamu makin menumpuk iblis tak perlu lagi menggodamu karena kau telah akrab dengan dosa pezina telah melekat di jiwamu hartamu telah hitam legam terus menerus dihantam palu godam hingga menganga bak lubang biopori yang tak lagi elastis, mati rasa selalu menganga menampung air kotoran dan limbah pun mengalir   hai para pezina, sadarlah penyamaranmu tak lagi mempan sosokmu yang dibalut bak ustadzah penampilan bagaikan

Read More

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru