Monday, October 21, 2019
Home > Cerita

SAJAK DIGITAL: Oleh Ahmad Istiqom

Tal digital tal Zamannya joged jagad digital Jagadnya para begal Sejak para siluman malam menangkap sinyal Pada era 70 an awal Makhluk itu berlabel internet, bapaknya bernama Kleinrock Kawin siri dengan mbah Gugel Kumpul kebo dengan Amazon, samen liven dengan Facebook Dengan Microsoft dan Aple, menjadi lima menguak takdir Dengan jumawa face book berkata: Aku kenal semua mahluk di mayapada Mbah

Read More

Perjalanan Penuh Cinta,     Catatan umroh Djunaedi  Tjunti  Agus

Ini kali ketiga saya dan istri menunaikan ibadah haji / umroh. Pertama, untuk melaksakan haji kami berangkat bergantian, saya pada 1996 dan istri 10 tahun kemudian (2006). Pada 6-14 Oktober 2019, saya safar bersama istri, bergabung dengan rombongan Wesal Travel (Wesal TV) tujuan Madinah dan Makkah (umroh),  serta ziarah ke tempat-tempat

Read More

Dia melangkah Pergi  Cerpen : Andi Dasmawati

Koridor panjang dengan dinding berlapis wallpaper berwarna krem dan coklat menggaungkan kesunyian. Matahari telah lama tenggelam. Alin menekan lift menuju lantai dasar. Kantor tempatnya bekerja memang seperti tidak pernah tidur. Satpam berseragam biru gelap berjaga sepanjang waktu, selama masih ada pegawai yang bekerja di gedung. Pekerja di sini tidak perlu takut

Read More

Hanya kepadaMu Puisi Djunaedi Tjunti Agus

ku tadahkan tangan berdoa dari segala penjuru menghadap rumahMu Allah air mata kerap mengalir bahkan menitik deras ku mohonkan banyak doa untuk diri sendiri, keluarga bagi sanak famili, tetangga bagi sahabat, teman-teman serta bagi banyak orang mereka yang menitip doa kabulkan doa hamba ya Allah   hapuskan dosa-dosa hamba dosa keluarga, dosa saudara serta dosa-dosa orang tua dosa ibu, ayah, nenek, kakek jadikan kami putih bersih bak bayi

Read More

Puisi Gulon Oleh A.R. Loebis

GEMURUH (1) Angin mengurung ketika asap pecah-pecah tapi langit menyibak warna saat kilat membelah getaran itu inti sebab gemetar dan kata meluncur tanpa sudah terlentanglah terlentang menghadap bintang kemukus kilat seperti asap pecah angin menyeruak membawa bintang membelah tanah tanah terbelah ditoreh bintang dihunjam angin rumah plastik biru-biru haru-biru melaut kelap-kelip seperti bintang-bintang seakan kunang-kunang di laut hitam denyut nafas meraung dalam

Read More

Memenuhi PanggilanNya, Puisi Djunaedi Tjunti Agus

jalan terjal telah aku lalui berliku, becek, berlubang kadang penuh onak duri penyesalan panjang pun mengikuti tergilincir, terjerembab pun terjadi air kotor pun pernah diarungi sampai aku tersadar, lunglai kenapa harus berada di sana   sampai akhirnya kini berjuang memenuhi panggilanMu memenuhi semua perintah menjauhi apa yang Engkau larang hanya Allah yang berhak disembah aku pun bersimpuh minta ampun berusaha mebersihkan jiwa raga berharap semua dosa

Read More
ilustrasi ummi online

Berserah Diri, Puisi Djunaedi Tjunti Agus

Oleh: Djunaedi Tjunti Agus   Allah telah menentukan segalanya, tak ada yang luput menang kalah, sukses dan gagal semua telah diatur rinci tak ada yang luput dari Allah selembar daun jatuhpun diketahui   segalanya ada maksudnya yang menang janganlah angkuh yang kalah tak perlu sedih kebanggaan bukan segalanya kekalahan bukanlah hina yang penting adalah akhirnya ingat Allah menjelang ajal   sejarah telah membuktikan Allah telah memberi contoh kebenaran di

Read More
Ilustrasi: Masjid Al-Aqsa Palestina (Arab News)

Ketika Setan Dibelenggu, Puisi Djunaedi Tjunti Agus

oleh:Djunaedi Tjunti Agus   ketika ayat-ayat Mu ku baca ketika ayat suci berkumandang hati ini terasa nyaman, damai kadang air mata mengalir lain waktu sampai terisak-isak dalam dada muncul gelora ada sesal, ada pula kerinduan   Ramadhan mengubah segalanya ingat dosa, terkenang masa lalu berbagai kesalahan muncul datang berebutan susul menyusul kebaikan ada, tapi tak seberapa ampuni hamba ya Allah jadikan bulan suci ini bermakna mengantar hamba

Read More

Ramadhan pun Berakhir, Puisi Djunaedi Tjunti Agus

Ramadhan telah berakhir bulan suci itu selesai sudah kitapun boleh berbuka siang hari memadu cinta dengan pasangan kitapun bermaaf-maafkan dengan sesama umatNya Minal aidin wal faizin   namun bukan hanya itu justru saatnya kita merenung apakah yang kita lakukan sepanjang bulan suci Ramadhan adakah kita melakukan kebaikan berbuat baik antara sesama selain melakukan perintah Allah atau hanya sekadar menahan lapar   adakah Ramadhan berbekas mendorong perilaku kebaikan atau hanya

Read More

Jangan Mati Sia Sia, Puisi Djunaedi Tjunti Agus

setiap nyawa tak akan pergi meninggalkan raganya sebelum rezekinya habis kematian tak akan datang sampai semua jatah dinikmati Allah telah menjanjikan itu   Rasulullah telah memastikan setiap jiwa tidak akan mati sampai sempurna ajalnya hingga habis jatah rezekinya namun jangan hanya pasrah menerima apa adanya   carilah rezeki dengan cara halal jangan lakukan segala cara merenggut merajalela tanpa berpikir halal dan haram perolehlah harta atas ridhaNya bukan dengan cara

Read More

Menatap dari Huntingdale Puisi A.R. Loebis

Dari Huntingdale menatap Al Noor dan Linwood Ketika Jumatan di Huntingdale dingin autumn khusuk, di antara orang bersorban berjubah berjanggut panjang tatapan iklas penuh persaudaraan khotbah bukan bahasa ibu berkali-kali bilangan zakat dan jariah aku mengkhidmatkan kewajiban di Huntingdale 5.204 kilometer berjarak dari Jakarta   Jumat sama Sama-sama Jumatan bilangan menit ke menit Masjid Al Noor dan Linwood gempar timah panas berterbangan tajam menusuk kulit Ada gempuran merobek

Read More

Inikah Kita, Puisi Djunaedi Tjunti Agus

kaki yang telanjang, hitam naik ke kursi dengan lutut berdiri tak peduli orang di sebelah risih cuek bebek, acuh tangan sibuk memainkan hp serius tak peduli sekitar antre menunggu panggilan menjadikan banyak orang jutek memperlihatkan aslinya termasuk yang tampil kampungan   lalu lihatlah ke sekitar anak-anak, remaja berlarian atau saat naik kendaraan entengnya berucap serampangan kata bodoh, goblok, anjing sumpah serapah menyemburat tak terlihat risih, malah tertawa ucapan

Read More
ilustrasi hak cipta ummi-online.com

Taubatlah, Puisi Djunaedi Tjunti Agus

Taubatlah Puisi: Djunaedi Tjunti Agus   segerakanlah sebelum azab datang menerpa secara tiba-tiba pada waktu tak terduga taubatlah secepatnya minta ampun atas dosa-dosa   minta ampun lah segera atas semua kesalahan azab bisa datang tak terduga gempa, tsunami, banjir bisa datang secara tiba-tiba longsor, tanah bergerak tiba-tiba menghantam menghancurkan tak dinyana   bertaubat lah sebenar taubat diikuti amal shaleh bukan hanya dalam perkataan memohon ampun lah kepadaNya taubat wajib bagi semua menuju ketaatan pada

Read More

AKHIR KEHIDUPAN, Hati yang Membatu, Puisi: Djunaedi Tjunti Agus

Mata masih terasa berat menggeliat, meregang, menggelayut ingin rasanya menahan jarum jam namun waktu tak mau berhenti detik, menit, jam pun berlalu namun kemalasan masih dominan inikah pekerjaan iblis, setan semua itu harus dilawan demikian kata orang-orang bijak namun tak semudah mengucapkan tak semudah membalik telapak tangan entah karena hati lagi dingin mungkin membeku, menolak saran karena usia sudah semakin tua mungkin pertanda akhir

Read More

SENDIRI, Puisi: Djunaedi Tjunti Agus

sendiri terasa sunyi tak ada yang peduli, sepi kiri dan kanan asyik sendiri-sendiri menatap, kadang melirik mencari, menunggu entah siapa menanti tanpa kepastian di tengah kesendirian apa yang telah dilakukan kenapa harus mengenal mereka ada apa dengan diri ini mengapa semua harus terjadi sederet pertanyaan mencuat di saat kesendirian, sesal semua muncul silih berganti apakah semua itu takdir itu pasti, kebenaran dan kesalahan lainnya bagai berebut

Read More
ilustasi: Arab News

Amal dan Takdir, Puisi Djunaedi Tjunti Agus

AMAL DAN TAKDIR tugas umat adalah beramal bukan mempersoalkan takdir karena takdir adalah urusan Allah bukan urusan umat manusia tugas kita beramal, beribadah bukan menyerah karena alasan takdir   bukan hak kita memvonis diri menyatakan tak perlu lagi sholat tak perlu puasa, zakat, dan naik haji tidak perlu menyembah Allah karena alasan takdir, lauhul mahfudz karena semuanya rahasia Allah   lauhul mahfudz hanya Allah yang

Read More

Rindu, Puisi Djunaedi Tjunti Agus

kerinduan itu tiba-tiba datang muncul di tengah kebisingan di tengah banyak orang tak sabar bosan akan keadaan   kerinduan itu menyeruak menerjang menebas hambatan tak peduli ada yang ngedumel tak pusing ada yang cemberut   kerinduan itu mendorong memaksa bak larva mendesak kerinduan itu tak tertahankan rindu akan kesembuhan rindu kan ketenangan dan kemenangan   *RS Harkit Januari 2015

Read More

Basah, Puisi Djunaedi Tjunti Agus

kau yang selalu ku rindukan sayup mata mu membuat hatiku luluh kapan,  di manapun, takkan kulupakan aku sayang kamu, sungguh percayalah, aku takkan bosan   sayang, jangan termanggu aku tak akan pernah meracau jangan bosan menunggu aku tak akan membuatmu risau semua adalah milikmu   sampai kapan pun jua hingga hayat memisahkan kita akan selalu seiya   oh ikan koi ku yang basah teruslah berenang biarkan aku slalu

Read More

M u a l a f , Cerpen Djunaedi Tjunti Agus

"Pa, sini deh. Mana tangannya. Taruh sini. Terasakan gerakannya?" "Ya.., ya.," kata saya. Aku mengelus-eluskan telapak tangan ke perut istriku yang buncit. Narti, istriku, terlihat senang. Senyumnya mengambang. "Laki-laki atau perempuan sama saja kan? Kita harus siapkan dua nama ya, Pa?" "Tapi dokter kan bilang kemungkinan anak kita laki-laki," jawab saya. "Ah, bisa saja meleset.

Read More

Takdirku dan Takdirmu, Puisi Djunaedi Tjunti Agus

ketika ruh ditiupkan saat itu pula takdir telah berjalan ruh membuat manusia hidup dan itu adalah rahasia Tuhan Allah sudah mentakdirkan kita sejak kita dalam rahim ibu   Allah mentakdirkan jauh masa 50.000 tahun sebelum fakta diciptakannya langit dan bumi firman Allah dan sabda Rasul menegaskan semua hal itu   soal rizki, ajal, juga amal sengsara atau bahagia sorga atau neraka semua telah ditetapkan tercatat dalam lauhul

Read More

Matamu membuka rahasiamu Puisi A.R. Loebis

Matamu membuka rahasiamu Karena ia jendela nurani Yang menunjukkan kebaikan Kekejaman Kelicikan Matamu membuka rahasiamu Tak lagi sorot tajam meredup kau pesan kapling entah di mana mungkin di neraka atau surga Tapi apakah ada neraka dan surga Kok penilaianmu berkabut Ah, merananya nestapamu   Matamu membuka rahasiamu Tak ada lagi rahasia Pertemuan mata meluluhkan batas pandang Hilang makna rahasia Luluh arti rahasia   Rahasia, Kemana kau pergi Tiraimu tergulung Jendela nurani itu ternganga Kata rahasia

Read More

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru