Friday, November 22, 2019
Home > Cerita > Wisata: Pesona Danau Ranau, Panggung Alam Bekas Letusan Gunung Seminung

Wisata: Pesona Danau Ranau, Panggung Alam Bekas Letusan Gunung Seminung

Danau Ranau di Perbatasan Lampung dan Sumsel. (ist)

MIMBAR-RAKYAT.COM (Wisata) – Danau Ranau memang memiliki pesona bekas letusan gunung berapi seolah membentuk panggung alam yang elok. Gunung Seminung yang menjulang 1.880 meter di atas permukaan laut, menjadi latarbelakang yang penuh dengan nuansa magis. Tebing dan barisan perbukitan menjadi pagar pembatas panggung megah itu.

Wilayah Danau Ranau kini dimiliki dua kabupaten, yakni Lampung Barat (Provinsi Lampung) dan Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan (Provinsi Sumatera Selatan). Pada Pekan Olahraga Nasional (PON) Sumsel 2004, Danau Ranau dijadikan arena (venues) lomba dayung.

Hamparan sawah yang hijau berpadu dengan air Danau Ranau yang biru, seolah menjadi pelataran tempat berbagai jenis ikan berenang, menari. Butir-butir kopi yang merah seakan-akan menjadi pemanis keindahan itu. Keelokan itu menjadi lengkap dengan bingkai indah pantai berpasir dan kerikil putih yang ada di sepanjang tepi danau tersebut.

Pada pandangan pertama, kesemarakan alam itu memikat mata. Penat karena harus duduk melipat kaki di mobil perlahan hilang, berganti kesejukan ketika merendam kaki telanjang ke dalam air danau yang dingin.

Air terjun yang indah dan pemandian air panas membuat segala kejenuhan lenyap. Tubuh pun segar kembali. Namun sayang, kekayaan itu belum tergarap apik.

Tebaran pesona Danau Ranau yang memikat terasa kurang mengikat dan membekaskan niat untuk kembali lagi, lantaran sebagai kawasan wisata Danau Ranau yang luasnya lebih dari 44 kilometer persegi itu, belum memiliki fasilitas yang lengkap dan menarik.

Hanya ada beberapa cotage dan satu hotel kecil di Banding Agung, sebuah kecamatan yang berada di tepi danau tersebut. Kalaupun ada wisma yang lebih bagus, itu adalah sebuah peristirahatan yang dikelola oleh PT Pusri. Selebihnya adalah home stay yang dikelola warga. Tiap kamar di rumah penduduk yang disewakan sebagai home stay itu dihargai Rp50.000.

Pengelolaan Danau Ranau, kawasan yang berada di dua kabupaten dan dua provinsi itu, tampaknya membutuhkan angin segar atau napas baru agar keelokannya terus berdetak dan menggetarkan minat pelancong untuk datang kembali.

Memang ada baiknya jika kedua pemerintah daerah itu melakukan share untuk mengelola kawasan itu, sehingga mampu mendatangkan kemakmuran bagi warga setempat.

Danau Ranau adalah danau terbesar kedua di Sumatera setelah Danau Toba. Danau ini tercipta dari gempa bumi besar dan letusan vulkanik dari gunung berapi yang membuat cekungan besar.

Secara geografis topografi, Danau Ranau adalah perbukitan yang berlembah hal ini praktis menjadikan Danau Ranau memiliki cuaca yang sejuk. Selain sering dijadikan tempat untuk berendam atau bahkan mandi, Danau Ranau juga dikenal tempat para nelayan mencari ikan seperti mujair, kepor, kepiat, dan harongan.

Danau Ranau sebagai kota wisata yang menakjubkan, di sana banyak sekali pemandangan yang indah. Tepat di tengahnya terdapat pulau yang bernama Pulau Marisa. Di sana terdapat sumber air panas yang sering digunakan para penduduk setempat ataupun para wisatawan yang datang ke pulau tersebut, terdapat air terjun, dan penginapan.

Danau ini juga menjadi obyek wisata andalan dari Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan, terutama pada musim liburan tiba dan Hari Raya Idul Fitri.

Sejak tahun 2007 danau ini telah diresmikan oleh Bupati Lampung Barat, sebagai pusat wisata baru di wilayah Kecamatan Sukau, Kabupaten Lampung Barat.

Danau Ranau mempunyai daya tarik ekowisata untuk memajukan industri pariwisata indonesia, konsep ekologi, ekonomi, sosial dan budaya. Daya tarik lainnya dari danau ini adalah sumber air panasnya dan bagi anda penyuka buah durian, pada musim buah durian dapat membelinya dengan harga yang sangat murah.

Selain panorama pantai, ternyata alam di Kabupaten Lampung Barat sangat mengasyikkan dijadikan arena untuk olahraga paralayang. Hal ini diperkaya dengan karakteristik wilayah dan topografi tanah yang didominasi perbukitan dan view yang sangat indah, seperti Danau Ranau di Desa Lombok dan daerah pesisir.

ADA AIR PANAS
Wisata Danau Ranau tidak cuma menyuguhkan panorama cantik. Para pelancong juga dapat menikmati wisata air panas di tepi danau. Perjalanan menuju lokasi yang berada di Desa Air Panas itu, hanya memerlukan waktu 20 menit menggunakan perahu carteran yang ongkosnya sekitar Rp 100 ribu dari dermaga.

Sebetulnya, Danau Ranau juga bisa ditempuh melalui rute Martapura (Ibukota Ogan Komering Ulu Timur)-Simpang-Muaradua. Yang melalui Martapura biasanya pengunjung yang berasal dari Lampung, Banten, atau Jakarta.

Pengunjung dari Lampung bisa pula mengambil rute Kotabumi-Bukit Kemuning-Liwa, dan selanjutnya ke Kotabatu, Sukamarga, atau Banding Agung yang berada di tepi danau.

Untuk sampai di Danau Ranau, dari Jakarta menuju Bandara Radin Intan naik travel Avanza dengan harga Rp 400 ribu. Rute yang akan dilalui melalui Bukit Kemuning, Lampung Utara hingga ke arah Lampung Barat.

SEPASANG NAGA
Ada cerita melegenda di Danau Ranau, cerita rakyat berupa sepasang naga. Cerita legenda naga Danau Ranau, menjadi salah satu cerita rakyat yang menarik untuk disimak dan diingat, sebab dari cerita tersebut, terkandung petuah yang yang bijak.

Menurut cerita, sebagian besar masyarakat dulu, tersebutlan Gelangsa (Kentongan) yang bewarna keemasan yang oleh masyarakat sekitar di sebut “Kelengkup Gangsa” memiliki kesaktian, suaranya terdengar hingga penjuru negeri, selain itu dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit.

Dari kesaktian Kelengkup Gangsa tersebut, banyak orang yang penasaran ingin melihat benda itu, setelah melihat mereka pun berkeinginan memilikinya, dan mulailah beberapa orang tersebut, merencanakan untuk mencuri Kelengkup Gangsa.

Singkat cerita Kelengkup Gangsa berhasil dicuri, namun sesampainya di tepi Danau Ranau, Kelengkup Gangsa tersebut semakin berat karena kekuatan lain menariknya. Akhirnya Kelengkup Gangsa terlempar ke dalam danau dan berubah menjadi naga keemasan dan membunuh pencuri yang mau mengambilnya.

Sementara menurut versi masyakarat OKU Selatan (Sumsel), air Danau Ranau, terhubung langsung dengan Danau Rakihan, di Desa Ulu Danau-Muara Sindang, Kecamatan Pulau Berngin, Kabupaten OKU Selatan. Danau Rakihan memang tidak seluas Danau Rakihan, tapi cukup dalam. Ikan yang terbanyak adalah mujair, dan apabila musim belerang menguap, banyak ikan mati dan diambil warga.

Menurut legenda nenek moyang, di dalam tanah Danau Rakihan tembus ke Danau Ranau, sehingga sepasang naga keemasan itu, hilir mudik lewat dari Danau Ranau ke Danau Rakihan. Naga keemasan itu, menurut cerita warga, sering menampakkan diri di Danau Rakihan dengan bentuk ular keemasan tapi mengecil. Dan naga ini tak pernah mengganggu warga setempat asalkan tidak merusak danau. (johan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru