Thursday, November 14, 2019
Home > Cerita > Wisata: Museum Konferensi Asia Afrika dan Pos Indonesia di Bandung Diminati Pelajar Mengerjakan Tugas Sekolah

Wisata: Museum Konferensi Asia Afrika dan Pos Indonesia di Bandung Diminati Pelajar Mengerjakan Tugas Sekolah

Museum Konferensi Asia Afrika di Kota Bandung. (ist)

MIMBAR-RAKYAT.Com (Wisata) – Rekreasi mengunjungi museum digemari, terutama pelajar. Selain bisa nenambah ilmu pengetahuan, juga mengerjakan tugas sekolah. Di Jawa Barat, terdapat sejumlah museum sejarah, di antaranya Museum Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung, tepatnya Gedung Merdeka Jl. Asia-Afrika No. 65 Kota Bandung.

Indonesia merupakan tuan rumah dan pemrakarsa kegiatan Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Afrika pada 18-24 April 1955 di Gedung Merdeka itu. Dalam pertemuan yang dihadiri 29 negara tersebut, dicapai suatu kesepakatan yang dikenal dengan Dasa Sila Bandung.

KTT Asia-Afrika menunjukkan Indonesia pernah memiliki pengaruh yang sangat kuat di mata negara-negara Asia dan Afrika. Gedung yang merupakan saksi bisu penyelenggaraan KAA tersebut hingga kini masih berdiri kokoh di Jalan Asia-Afrika No. 65 Bandung.

Mulai dibangun pada awal 1900an berdasarkan rancangan dua arsitek berkebangsaan Belanda, Van Gaken Last dan CP Wolff Schoemaker dengan gaya arsitektur Art Deco.

Awalnya gedung tersebut bernama Sociëteit Concordia. Dipergunakan sebagai tempat rekreasi oleh sekelompok masyarakat Belanda yang berdomisili di Kota Bandung dan sekitarnya.

Pasca penyelenggaraan KAA tahun 1955, Gedung Merdeka telah beberapa kali mengalami alihfungsi. Kini selain difungsikan sebagai tempat pertemuan bertaraf internasional, Gedung Merdeka juga berfungsi sebagai museum yang memiliki banyak koleksi bersejarah.

Selain memiliki koleksi foto-foto pelaksanaan KAA, museum KAA juga memiliki sebuah perpustakaan dan sebuah ruang audio visual yang memiliki koleksi film-film dokumenter mengenai kondisi dunia hingga tahun 1950-an, Konferensi Asia Afrika dan konferensi-konferensi lanjutannya, serta film-film mengenai kondisi sosial, politik, dan budaya dari negara-negara di kedua kawasan tersebut.

Memasuki Museum Asia-Afrika, akan ditemui sebuah aula yang dulu digunakan sebagai tempat konferensi. Aula ini terbuka bagi pengunjung yang ingin merasakan atmosfir pelaksanaan KAA 60 tahun silam.

Di sini juga terdapat beberapa patung delegasi-delegasi yang mewakili negaranya dalam KAA. Biasanya para pengunjung Museum KAA selalu menyempatkan diri mengabadikan gambar bersama patung delegasi-delegasi KAA.

Selain ruangan dalam Gedung Merdeka yang memiliki nilai historis dan koleksi benda bersejarah, bagian luar Gedung Merdeka juga memiliki keunikan tersendiri.

Puluhan tiang bendera yang berderet mengelilingi Gedung Merdeka kerap dijadikan bidikan lensa kamera. Bahkan tak jarang deretan tiang bendera tersebut dijadikan latar sesi pemotretan calon pengantin (pra wedding).

Maka, bila berwisata ke Bndung, Museum Konferensi Asia Afrika haruslah di kunjungi. Apalagi di bulan puasa ini, terasa asyik berada di sini. Lagipula, tidak akan dipungut biaya apa pun untuk dapat berwisata ke gedung legendaris ini.

POS INDONESIA
Di Kota Bandung juga ada Museum Pos Indonesia. Lokasinya di sebelah timur Gedung Sate dan bersebelahan dengan Kantor Pusat PT Pos Indonesia.

Tepatnya di Jalan Cilaki No. 73 Bandung (40115), Jawa Barat. Museum dibuka setiap hari (Senin sampai Minggu) dari pukul 09:00 sampai 16:00. Museum tutup pada hari libur nasional.

Museum Pos Indonesia dibangun pada 1920. Perancang gedung J. Berger dan Leutdsgeboulwdienst, dengan gaya arsitektur Italia. Tahun 1933 Museum Pos Indonesia bernama Museum Pos Telegrap dan Telepon atau disebut juga PTT.

Dan waktu Perang Dunia II hingga masa Jepang berada di Indonesia tahun 1942, museum tidak terurus. Bahkan pada saat revolusi kemerdekaan hingga akhir tahun 1979 masih tidak terawat.

Di awal tahun 1980, baru dibentuk panitia untuk merevitalisasi museum agar berfungsi kembali guna memamerkan koleksi benda benda pos dan telekomunikasi.

Koleksi Museum Pos Indonesia tidak semata-mata hanya benda-benda pos dan telekomunikasi saja, melainkan memamerkan buku-buku, peralatan pos, visualisasi, dan diorama kegiatan pengeposan.

Keistimewaan dari Museum Pos Indonesia, yaitu sekitar 50 ribu lembar pernagko dari 178 negara sejak tahun 1933 sampai sekarang, dipamerkan. Perangko pun diletakkan di dalam lemari kaca yang disebut vitrin. Lemari kaca yang dilengkapi dengan sistem keamaan berupa palang besi dan kunci.

Mengapa dilakukan demikian? Karena koleksi perangko yang ada di museun ini sangat berharga, jika dirupiahkan bisa mencapai miliaran rupiah.

Pengunjung ke Museum Pos Indonesia, akan disambut dengan perlengakapan baju zama kolonial Belanda, selain itu yang paling menarik perhatian adanya patung tokoh Pos Indonesia yaitu Mas Soeharto, yang merupakan tokoh yang diculik Belanda.

Di Museum Pos Indonesia terdapat juga lukisan perangko yang bernama The Penny Black, yang digambar oleh Ratu Victoria dan diterbitkan pada tahun 1840. Di sini juga dipajang gambar orang yang membuat perangko Sir Rowland dari Dinas Perpajakan Inggris.

Fasilitas yang tersedia di gedung Museum Pos Indonesia, ada ruang pamer tetap, ruang perpustakaan, gudang koleksi, bengkel atau tempat reparasi benda-benda yang ada di museum yang rusak.

Denga berkunjung ke Museum Pos Indonesia, kita bisa mengetahui sejarah dan mengenal kembali peralatan Pos yang ada, dan mungkin pada zaman sekarang jarang digunakan oleh orang banyak bahkan telah dilupakan.

Tak jauh dari gedung ini, kita juga bisa mengunjungi Gedung Sate Bandung, Monumen Perjuangan Jawa Barat, Museum Geologi Bandung, dan masih banyak lagi yang bersejarah. (johan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru