Wednesday, August 05, 2020
Home > Cerita > Wisata: Goa Kutamaneuh Dianggap Sakral, Diyakini Sebagai Tempat Peristirahatan Prabu Siliwangi

Wisata: Goa Kutamaneuh Dianggap Sakral, Diyakini Sebagai Tempat Peristirahatan Prabu Siliwangi

Pintu masuk Goa Kutamaneuh Sukabumi. (ist)

MIMBAR-RAKYAT.Com (Wisata) – Sukabumi memiliki banyak obyek wisata, termasuk yang bernilai sejarah dan dianggap sakral yang sering dikunjungi peziarah. Salah satunya Goa Kutamaneuh yang terletak di Kampung Babakan Ciburial, Desa Cikujang, Kecamatan Gunungguruh, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat ini.

Lokasinya sepi dan tenang, jauh dari hiruk-pikuk keramaian kota, berada di bawah kaki gunung karang. Karena itu sangat cocok sebagai tempat bersemedi.

Bagi sebagian peziarah, Goa Kutamaneuh diyakini lokasi sakral. Konon, goa ini dulunya merupakan tempat peristirahatan Raja Pajajaran, Prabu Siliwangi serta anaknya Raden Kian Santang.

Nama Kutamaneuh diambil dari makna Kuta atau singkatan dari kata Makuta atau topi raja. Sedangkan Maneuh artinya tetap atau diam pada tempatnya. Apabila disatukan dua kata itu, berarti tempat untuk beristirahat raja.

Itu bisa dilihat dari posisi Goa Kutamaneuh sekarang. Di sana ada sebuah kolam pemandian dan dua pintu, satu pintu masuk sebelah barat dan sebelah timur pintu keluar.

Di dalam goa terdapat sembilan ruangan yang berbentuk kamar tidur. Konon, kesembilan ruangan tersebut dulunya merupakan tempat peristirahatan keluarga Hyang Prabu Siliwangi. Akan tetapi sekarang menjadi tempat tirakat atau bersemedi bagi sebagian peziaah yang mempunyai hajat (keinginan) tertentu.

“Ceritanya seperti itu, itu dari leluhur saya,” Deni Suhaemi, salah seorang juru kunci.

Dari dulu Goa Kutamaneuh menjadi tempat ziarah atau bersemedi pelancong berbagai daerah. Kebanyakan yang bersemedi pendatang luar Sukabumi, seperti dari Bogor, Jakarta, Jawa Tengah, Banten, Bandung, dan Sumatera.

Yang paling ramai pengunjung tirakatan pada bulan Maulid. Untuk bulan-bulan biasa, pengunjung ramai tiap malam Jumat Kliwon. “Susah diprediksi, kadang sepi kadang peziarah berjubel. Yang jelas kebanyakan dari luar Sukabumi,” kata Deni.

Dijelaskan, bila pengunjung memludak, pasti memberikan keuntungan bagi warga sekitar. Pasalnya, warga sekitar banyak yang berdagang makanan dan sebagainya.

Berbagai alasan peziarah datang ke Goa Kutamneuh. Ada yang bersemedi dengan harapan bisa jadi kaya, dapat kedudukan tinggi, naik tahta dan jabatan, serta mendapatkan jodoh.

Tetapi banyak pula yang datang karena penasaran, sekedar melihat-lihat keindahan dan menikmati panorama alam nan sejuk. Sebab dari luar, goa ini tak menampakkan keseramannya, malah sebaliknya terlihat hijau dan asri. Begitu didekati baru terasa nuansa mistiknya.

Ketika menginjakkan kaki di depan pintu, sudah ada dua patung harimau cukup besar.

Bagi peziarah yang datang dengan harapan tertentu, di dalam goa harus menempuh jalan cukup sulit. Harus berbekal keberanian dan ketangkasan. Agar begitu masuk dalam goa, tidak pulang dengan tangan kosong. “Saya hanya bisa mengantar-jemput mereka. Soal niat bersemedi silakan saja apa maunya,” kata kuncen Deni. Memang ada keinginan pengunjung yang aneh.

Untuk masuk ke goa, pengunjung harus membawa lampu senter, petromaks, atau obor. Sebab, lorongnya dalam dan gelap gulita serta bisa tersesat. Bila tanpa pemandu, bisa-bisa hanya berjalan berkutat di dalam goa itu.

Biasanya, pengunjung yang permintaannya terkabul malah datang lagi memberikan sumbangan yang cukup berarti untuk juru kunci dan biaya perawatan goa.

Untuk mencapai lokasi goa termasuk mudah, karena kendaraan roda dua dan empat bisa masuk. Meski jalannya masih perlu perbaikan, tapi cukup lumayan.

Masuk Goa Kutamaneuh tidak boleh sembarangan. Salah-salah bisa kualat atau ketiban sial. Karena itu harus minta izin kepada juru kunci goa yang saat ini berjumlah sembilan orang.

Sebab, juru kunci inilah yang dipercaya menjaga keamanan goa. Bagi yang ingin bersemedi, juru kunci atau kuncen akan mengantar-jemputnya agar tidak kesasar.

“Kami juga perlu tahu, apa maksud kedatangan pengunjung. Jangan sampai penjahat yang datang ke sini. Karena itu kami selalu berkoordinasi dengan aparat keamananan,” jelas Minta, 54, sal;ah seorang kuncen lainnya.

Masalahnya, Goa Kutameneuh pernah menjadi tempat persembunyian Johny Indo sebelum ditangkap pada era 80-an. “Silakan bersemedi, kami hanya menunjukkan tempat dan hanya minta biodata pengunjung sebagai antisipasi kejahatan,” tegasnya.

Dijelaskan, penjagaan diperketat sejak ayahnya sebagai juru kunci, Eem pada era tahun 80-an. Saat itu, raja perampok emas di era 70-an, Johanes Hubertus Eijkenboom alias Johny Indo, tepatnya sekitar April 1979 tertangkap di Goa Kutamaneuh saat bersemedi.

Setelah itu, banyak lagi sejumlah penjahat bersembunyi goa ini. Setelah kerjasama dengan pemerintah setempat, kuncen di goa ini mendapatkan penghargaan berupa piagam. “Kami pasti lapor bila ada yang mencurigakan,” tambahnya.

Di dalam Goa Kutamaneuh ternyata cukup luas. “Dari 9 kamar, saya pernah masuk sampai ke kamar lima. Ke dalamnya memang gelap, tapi begitu masuk kamar cukup lega,” cerita Yudi, 45, salah seorang peziarah.

Setiap pengunjung keinginannya berbeda-beda. Waktu itu, dirinya masuk ke dalam goa dengan niat setengah hati dan lebih pada penasaran. Maka itu, harapannya tidak kesampaian. “Dalam goa cukup luas, hening dan tenang,” ujarnya.

Banyak juga pengunjung yang tidak mempercayai adanya kebarokah saat bersemedi di goa itu. Alasannya, Goa Kutameneuh lebih cocok untuk tempat wisata dan refreshing saja. “Makanya, kebanyakan pengunjungnya dari luar Sukabumi,” tandas Yudi. (johan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru