Saturday, March 28, 2020
Home > Sosok > Wanita Tangguh

Wanita Tangguh

 

GALAILA KAREN Agustiawan, begitu nama lengkap Direktur Utama PT Pertamina (Persero) ini. Dia merupakan perempuan pertama yang menempati posisi puncak di perusahaan yang dalam sepanjang keberadaannya terkenal “basah” tersebut. Setelah 51 tahun selalu dipimpin pria, mulai 5 Februari 2009 Pertamina resmi dipimpin seorang wanita, menggantikan direktur sebelumnya Ari H Soemarno.

 

Karen yang kelahiran Bandung, 19 Oktober 1958 (56) ini telah 5 tahun lebih mengomandoi badan usaha milik Negara (BUMN) yang mengurusi soal minyak tersebut. Dia adalah lulusan Sarjana Teknik Fisika, Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 1978.

Penunjukkan istri Herman Agustiawan sebagai orang nomor satu di Pertamina bukan asal atau ujuk-ujuk, tetapi didasari atas kemampuannya atas sektor energi, khususnya bidang perminyakan.

Begitu  lulus dari Teknik Fisika ITB tahun 1983 Karen langsung terjun di sektor perminyakan. Kiprahnya di bidang itu makin menonjol ketika bergabung di perusahaan minyak Mobil Oil Indonesia, saat perusahaan tersebut diakuisisi Exxon Mobil. Dia berkarir di Mobil Oil  hingga 1996.

Karen kemudian bergabung dengan sejumlah perusahaan, kemudian sejak Desember 2006 dipercaya pemerintah sebagai salah satu staf ahli oleh Dirut Pertamina Ari H Soemarno.

Karen benar-benar bukan wanita sembarangan. Dia tidak menjadi beban, seperti kebanyakan staf ahli di berbagai perusahaan milik Negara yang ditempatkan hanya agar yang bersangkutan mendapat pemasukan. Tetapi putri dari Dr Sumiyatno dan R Asiah ini memiliki kemampuan membantu Dirut Pertamina dalam menjalankan programnya.

Kemampuannya makin membuka mata pemerintah. Maret tahun 2008 pemerintah mengangkatnya  sebagai Direktur Hulu, menggantikan Sukusen Soemarinda. Hanya dalam jangka 11 bulan di Hulu, dia kemudian dipercaya mengomandoi Pertamina, sebagai Direktur Utama.

Karen yang bercita-cita menjadikan Pertamina sebagai perusahaan energi kelas dunia pada tahun 2025 mengerahkan segala kemampuannya. Dia menyusun program Energizing Asia untuk mendorong cita-citanya itu. Sejumlah pembaharuan dia lakukan, antara lain peningkatan lifting minyak mentah.

Karen dalam upayanya memajukan Pertamina ternyata juga mampu mendongkrak namanya makin mendunia. Pada tahun 2011 dia termasuk salah satu dari 50 wanita pelaku bisnis terkuat se-Asia versi majalah Forbes atau Asia’s 50 Power Businesswomen.  

Ibu dengan 3 orang  anak ini tidak pernah merasa lelah demi kemajuan Pertamina. Bagi dia visi Pertamina ke depan adalah menjadi perusahaan energi nasional kelas dunia. Sedang untuk misi perusahaan adalah menjalankan usaha minyak, gas, serta energi baru dan terbarukan secara terintegrasi berdasarkan prinsip-prinsip komersial yang kuat.

Tekad kuatnya membuat Karen menjadi wanita tahan banting. Meski dia kerap dihadapkan pada berbagai tantangan–terlebih saat setiap pemerintah mewacanakan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM)–tidak pernah membuatnya menyerah.

Demi sukses Pertamina ke depan, Karen bahkan tertarik  mengaitkan programnya dengan  bidang pendidikan. Dia merintis kerja sama dengan Institut Européen d’Administration des Affaires (INSEAD) untuk membangun universitas geotermal di Indonesia.

Kerja keras Karen membuat pemerintah semakin yakin terhadap kemampuannya. Buktinya 5 Maret 2013  jabatan Karen sebagai Dirut Pertamina diperpanjang. Surat resminya dia terima sehari kemudian, 6 Maret 2013.

Karen, sebagai  Dirut Pertamina, juga dikait-kaitkan dengan kasus hukum. Namun itu dia hadapi dengan tegar. Dia diminta sebagai saksi dalam kasus  korupsi di Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), dimana KPK menetapkan (mantan)  Kepala SKK Migas Rudi Rubiandini  dan Sekretaris Jenderal Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Waryono Karno sebagai tersangka.

Dia dikaitkan-kaitkan dengan dugaan adanya pemberian Pertamina kepada anggota DPR, baik yang berkaitan dengan pembahasan Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Negara maupun yang berupa tunjangan hari raya (THR) untuk Komisi VII DPR. Tiga nama anggota DPR yang disebut-sebut meminta uang terkait kasus korupsi di SKK Migas adalah Sutan Bhatoegana, Johnny Allen, dan Asfihani.

Karen menghadapi semua itu dengan penuh kepercayaan diri. Dia mengatakan,  permintaan uang oleh anggota DPR  hanya cerita-cerita yang dia dengar selama menjabat Dirut Pertamina. Mampukah Karen menghadapi tantangan ini? Mudah-mudahan saja.

Perjalanan karir Karen Agustiawan, sbb;

  • Direktur Utama Pertamina (Persero), 5 Februari – sekarang
  • Direktur Hulu PT PERTAMINA (PERSERO), Maret 2008 – 5 Februari 2009
  • Staf Ahli Direktur Utama bidang Hulu PT Pertamina (Persero), Desember 2006.
  • Perusahaan konsultan migas Halliburton Indonesia sebagai commercial manager for consulting and project management, 2002-2006
  • Landmark Concurrent Solusi Indonesia sebagai business development manager untuk beberapa klien seperti ExxonMobil, Pertamina, BP Migas, dan Ditjen Migas Departemen ESDM, 2000.
  • Landmark Concurrent Solusi Indonesia sebagai spesialis pengembangan pasar dan integrated information management (IIM), 1999.
  • CGG Petrosystems Indonesia, product manager G & G and data management applications, 1998.
  • Mobil Oil Indonesia, project leader di bagian eksplorasi yang menangani seluruh aplikasi studi G & G dan infrastruktur, 1992-1993 dan 1994-1996. University, Dallas, AS.
  • MobilOil Dallas, AS, menjadi seismic processor dan seismic interpreter untuk beberapa proyek di mancanegara, 1989-1992.
  • MobilOil Indonesia, seismic processor and quality controller MobilOil Indonesia untuk beberapa proyek seismik Rokan, Sumatera Utara, dan Madura, 1987-1988.
  • Mobil Oil Indonesia, analis dan programmer dalam pemetaan sistem eksplorasi,1984-1986.***(Eank/dari berbagai sumber)

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru