Wednesday, November 13, 2019
Home > Berita > Unicorn, istilah apa itu?

Unicorn, istilah apa itu?

Ilustrasi - Unicorn, kuda bertanduk dalam mitor rakyat Skotlandia.

MIMBAR-RAKYAT.com (Jakarta) – Seiring dengan derasnya pengaruh digitalisasi dan teknologi informasi yang berkembang di dunia, berbagai istilahpun bermunculan dan setiap orang yang tidak mengikuti perkembangannya akan ketinggalan.

Pada debat calon presiden yang disiarkan berbagai saluran televisi Indonesia, Minggu malam (17/02/2019) muncul istilah “unicorn” dan “startup” yang sebenarnya sudah lama beredar di kalangan para ekspert.

Keberadaan startup di era digital sudah merupakan perjalanan alamiah dari kemajuan teknologi, karena berbagai startup terbukti berhasil mengimbangi kesuksesan perusahaan besar lain.

Kemudian muncul istilah ‘unicorn’ untuk mengukur tingkat kesuksesan satu startup *perusahaan rintisan).  Arti sebenarnya Unicorn, adalah khewan kuda bertanduk dalam mitos rakyat Skotlandia.

Istilah ‘unicorn’ ini mengacu kepada startup yang memiliki valuasi senilai satu miliar dolar Amerika (sekitar 13,1 triliun rupiah) atau lebih.  Menurut Venture Beat,  seperti dilansir hitsss.com, saat ini terdapat 229 startup yang masuk dalam kategori unicorn.

Semua startup ini tersebar di berbagai belahan dunia termasuk Amerika Serikat, Tiongkok, Jerman, India, Kanada, Inggris, dan Singapura. Startup–startup ini pun menggeluti bidang yang bervariasi seperti keuangan, pemasaran, pelayanan, ritel, dan bahkan games.

Berdasarkan data penelitian dari CB Insights, startup pertama yang menduduki kategori unicorn adalah Uber.  Startup asal Amerika Serikat ini memiliki valuasi senilai 51 miliar dolar Amerika. Posisi kedua diduduki oleh Xiaomi, Tiongkok, senilai 46 miliar dolar Amerika. Lalu, posisi ketiga diduduki oleh Airbnb, Amerika Serikat, senilai 25,5 miliar dolar Amerika.

Uber berdiri sejak 2009 silam, Xiaomi berdiri pada 2010 dan Airbnb berdiri pada 2008. Ketiga startup ini dapat dilihat bahwa sudah beroperasi selama lebih dari lima tahun. Hal ini berarti, untuk bisa menembus kategori unicorn, sebuah startup harus melalui proses yang tidak singkat.

Sesuai dengan perhitungan dari Venture Beat, sebuah startup memang membutuhkan waktu yang cukup lama sebelum bisa menembus kategori unicorn.

Startup rata-rata membutuhkan waktu sekitar enam tahun untuk bisa menembus kategori tersebut.

Di Indonesia ada empat unicorn.

Unicorn adalah sebutan bagi start-up alias perusahaan rintisan yang bernilai di atas 1 miliar dollar AS atau setara Rp 13,5 triliun (kurs Rp 13.500 per dollar AS).

Jumlah unicorn Indonesia tersebut termasuk banyak dibanding negara-negara di Asia Tenggara.  Pertanyaannya mengapa banyak unicorn itu muncul di Indonesia?

Ekonom Unika Atma Jaya Agustinus Prasetyantoko bercerita beberapa waktu lalu, seperti dilansir kompas.com, ia bertemu dengan Dubes Singapura. Dan dalam pertemuan itu ada diskusi, mengapa unicorn muncul di Indonesia.

“Salah satu yang muncul itu, satu karena di sini (Indonesia) tidak ada aturannya. Karena tidak ada aturannya orang jadi berkreasi semaksimal mungkin,” ucap dia dalam FGD BTPN di Bali beberapa waktu lalu.

Selain itu, katat Prasetyantoko, munculnya unicorn karena adanya kesempatan yang besar di Indonesia.

“Yang kedua opportunity itu ada di sini, tidak di sana,” ujarnya. Mengenai saat menjadi unicorn, perusahaan-perusahaan itu ternyata diambi alih oleh investor asing,

Prasetyantoko menilai hal tersebut bukan merupakan suatu masalah, tetapi merupakan paradoks yang alamiah.

“Karena opportunity di sini, sehingga ruang untuk berkembang itu ada di sini. Tetapi begitu dia muncul jadi unicorn, asing yang ambil, take over.  Bagi saya ini alamiah untuk pasar indonesia. Karena di sini ada oppurtunity, begitu dia mau naik harus ada injeksi asing,” paparnya.

Pada kesempatan yang sama, Direktur BTPN Anika Faisal menyebut, Indonesia merupakan pasar yang sangat besar dan mempunyai potensi yang sangat bagus. “Sehingga apapun bisa berkembang, istilahnya tanahnya subur banget ditanami apapun tumbuh, potensi apapun tumbuh,” ucapnya.

Mengenai modal asing yang masuk ke unicorn,  Anika menyebutkan seperti dilansir kompas.com, hal itu karena kapasitas membangun modal di Indonesia memang masih belum bisa diharapkan.

“Sehingga bila mengharapkan pengumpulan modal dari dalam negeri itu yang sulit, itu lah mengapa datang dari asing,” katanya.

Mengenai modal asing tersebut, Anika mengatakan, hal itu tidak perlu dikhawatirkan, selama Indonesia mendapatkan manfaat dari modal tersebut.

“Karena kan orang bawa uang ke Indonesia untuk kebaikan Indonesia kenapa tidak? Yang penting apakah memberikan kemanfaatan enggak? Nah kalau memberikan manfaat, seperti bayar pajak, memberikan pekerjaan bagi orang Indonesia, uangnya itu di Indonesia, di-invest dan reinvest kenapa enggak?” katanya.

Sekedar informasi saja,  empat unicorn Indonesia saat ini adalah Go-Jek, Tokopedia, Traveloka, dan Bukalapak.

Go-jek baru-baru ini menerima kucuran dana dari Google sebesar 1,2 miliar dollar AS.

Hal ini menjadikan valuasi Go-Jek saat ini ditaksir mencapai empat miliar dolar AS atau lebih dari Rp53 triliun.  PT Tokopedia terakhir mendapat suntikan sebesar 1,1 miliar dolar AS atau sekitar Rp14,7 triliun dari Alibaba Group pada Agustus 2017.

Sebelumnya Tokopedia juga menerima pendanaan pada 2014 lalu dari Softbank Japan dan Sequoia Capital senilai 100 juta dollar AS atau Rp 1,3 triliun.

Traveloka, mendapatkan pendanaan dari perusahaan travel asal Amerika Serikat (AS) Expedia pada Juni 2017 senilai 350 juta dollar AS atau sekitar Rp 4,6 triliun. Dengan total pendanaan tersebut, Traveloka kini telah mencapai nilai valuasi lebih dari dua miliar dollar AS atau setara Rp 26,6 triliun.

Adapun CEO Bukalapak Achmad Zaky menyebut Bukalapak telah memiliki valuasi lebih dari Rp 13,5 triliun.

Pemerintah Indonesia menargetkan agar ada unicorn kelima hingga 2019 dan bagaimana mewujudkannya, itulah yang ditanyakan Jokowi kepada Prabowo pada Minggu malam (17/2) itu.

Lewat debat Capres itu, setidaknya masyarakat semakin banyak memahami apa yang dimaksud “unicorn”, “start-up”, dalam kancah ilmu perekonomian bangsa-sangsa dunia, termasuk tentu saja di Indonesia.  (Kb/An)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru