Thursday, July 09, 2020
Home > Cerita > Turbulensi

Turbulensi

PENDOPO berbentuk payung itu seperti jadi ruang peristirahatan pribadi bagiku. Aku suka menghabiskan waktu di sana sehabis lelah mengerjakan sesuatu di office, ruang kerja tak jauh dari perpustakaan universitas. Sejuk karena dikelilingi pohon yang rimbun. Angin selalu bertiup dari berbagai sudut.

Di hadapan, ada danau buatan, dengan teratai dan dedaunan hijau menutupi hampir seluruh pinggirannya. Aku masih terduduk sambil meluruskan kaki. Sepatu kanvas yang kuletakkan di rumput dekat tangga, agak kotor terkena tanah yang basah akibat sisa hujan tadi pagi. Ya, aku masih di sini. Menunggu gelap turun, menanti deru kendaraan yang lalu lalang dari gedung-gedung kampus yang terpencar di arena puluhan hektar, benar-benar menghilang dan tertinggal hanyalah keheningan serta nyanyian burung malam.

Kupejamkan mata untuk menghalau beragam bayangan yang mulai berdatangan membawa sendu. Denting bunyi ponsel mengabarkan seseorang mencariku. Mungkin mengajak duduk menikmati segelas kopi di kafe sudut kota. Aku sedang tak ingin bertemu siapa-siapa. Napasku sedang merindukanmu. Ya … merindukan dirimu. Siapakah engkau yang begitu berani memporak-porandakan hatiku? Apapun kesibukanku, selalu saja kau menyita separuh waktuku. Tidakkah kau sadar betapa menyebalkan dibebani rasa rindu padamu?

Napasku terasa sesak. Aku ingin pulang. Tak perduli ke mana. Jelasnya aku tak ingin di sini. Tempat apa ini? Langit menggulirkan awan serupa kabut tebal. Apakah engkau menyukai gumpalan mega berarak pelan? Aku tidak! Seringkali saat berada dalam pesawat terbang, aku menghawatirkan awan akan mengeras dan menjadi penyebab terjadinya goncangan. Aku takut membayangkan turbulensi. Tapi aku ingin menemuimu.

                                                                            ***
Siang tadi aku ke Bandara mengantarkan buku pada seorang kawan. Ia akan pulang ke negerinya dan benda kesayangannya itu tertinggal. Itu sebabnya aku menyusul dan mendapatinya sedang menunggu di depan salah satu kaunter penjualan tiket. Betapa ingin aku untuk ikut pulang.

Hari ini aku berada di teras perpustakaan. Seluruh meja ditempati mahasiswa dari negeri jauh. Begitu beratkah perjuangan mendapatkan ilmu? Di sebelahku, seorang mahasiswa Yaman sedang mengamati daftar referensi tesisnya. Di depan, pemuda berwajah Timur Tengah dengan ikat kepalanya terlihat tengah asyik menulis. Kertas-kertas bertebaran memenuhi meja berdiameter dua meter itu. Sore menjelang malam. Air hujan masih menetesi rerumputan.

Tidak biasanya aku mampu jauh darimu. Kali ini, tak ada pilihan lain. Tugas-tugasku menjadi perintang besar. Engkaupun seolah dikejar waktu. Aku memaklumi. Kesibukanmu memang padat sekali, tetapi kukira hubungan kita juga adalah hal paling penting. 

“Hei, Rika Fadhila. Jangan melamun!” tepukan Nizar di punggungku benar-benar membuat kaget.
“Aku tak melamun. Masa tidak kelihatan kalau aku sedang menulis?” aku berbalik menertawainya. Mahasiswa asal Padang ini memang manis dan menyenangkan.

“Ngapain sore-sore masih di kampus? Nggak penat?”

“Penat? Aku harus kelar. Kangen seseorang!”

Tawanya membahana. Merindukan seseorang bukan sesuatu yang aneh di kampus ini. Sebagian mahasiswa merupakan orang asing, yang rela jauh dari keluarga mereka untuk menuntut ilmu. Ada yang bisa pulang tiap bulan karena perjalanan udara hanya makan waktu dua-tiga jam. Tetapi ada pula yang paling banyak pulang setahun sekali karena negerinya jauh, ribuan kilometer harus ditempuh lama, dan dengan harga tiket tidak murah pula.

Berada jauh dari orang-orang yang telah terbiasa dekat dalam kehidupan kita memang tak pernah mudah. Apalagi dengan orang sebaik dirimu. Kegiatan paling sering kulakukan bila sedang tidak denganmu adalah mengenang kebersamaan. Terkadang menyebalkan bila mengingat kau tak pernah lelah menyuruhku kembali ke kampus agar cepat selesai. Artinya aku harus mengesampingkan ketakutan-ketakutanku menempuh perjalanan dengan pesawat terbang. Dalam hitungan normal, dua jam bukan rute yang panjang.

Tetapi besarnya pemberitaan media tentang kecelakaan pesawat di akhir tahun, membawa trauma bahkan phobia di hati banyak orang. Teringat di hari Jumat pagi, Widya meneleponku dari Indonesia.

“Non, aku balik ke kampus minggu depan. Penelitianku hampir rampung. Kamu naik pesawat apa kemarin?”
“Pakai pesawat Indonesia punya. Itupun sepanjang perjalanan aku memegang tasbih. Takut jatuh,” kataku sambil tertawa.

“Gila! Media juga sih! Pemberitaan tidak proporsional. Jadi takut dengan komulonimbus.” Widya berujar kesal.

                                                                   ***
Tiga hari setelah tahun baru, aku memang baru kembali ke kampus. Rute Jakarta-Singapura biasanya dilalui tanpa kekhawatiran. Beberapa tahun terakhir aku terbiasa berzikir sepanjang perjalanan untuk menenteramkan hati, dan ternyata berhasil. Kebiasaan ini bermula dari saran Afif, teman kuliahku yang mengatakan, “Daripada mendengar musik, lebih baik kau melafalkan asma Allah.”

Sejak saat itu, perangkat merah hitam dan menyimpan ratusan lagu, yang sebelumnya aku pakai untuk menghilangkan rasa jenuh, raib entah ke mana. Manfaat zikir sangat terasa. Salah satunya aku merasa makin religius. Jangan salah. Ritme tugas yang begitu tinggi menempatkanmu tak jauh dari intaian stres bahkan depresi. Bila tak mendekat dengan Sang Pencipta, otakmu bahkan tak mampu menanggung berbagai beban. Motto kampusku menuliskan dalam bahasa Melayu kental “Kerana Tuhan Untuk Manusia”. Orang-orang menafsirkannya berbeda tapi yang kuyakini adalah manusia memerlukan Tuhan ketika pasang surut datang. Baik saat susah ataupun senang melingkupi agar tak ada berlebihan dan tidak mendatangkan mudharat.

Perjalanan kemarin memang sangat jauh dari kata menyenangkan. Meski jam keberangkatan pesawat menjelang tengah hari, aku terbangun pukul dua pagi. Tak bisa tidur lagi. Mungkin karena aku terbang ke Changi. Persis sama dengan destinasi pesawat Airasia QZ 8501 yang naas dan tak pernah sampai itu.
Hujan deras menghalangi matahari tuk sekadar berucap selamat siang pada bumi saat pesawat take-off. Kabin tempat semua penumpang berkumpul, seolah beku tanpa senyuman. 

Ketika perjalanan sudah hampir seperdua, kulepaskan sabuk pengaman dari kursi dan berjalan ke toilet. Tanpa sengaja aku bertatapan dengan pramugari berparas manis itu. Kemurungannya tak tertutupi. Mungkin ia sedang mengingat tragedi dalam beberapa hari sebelumnya. Air mataku menitik. Seorang pemuda berwajah oriental mendongak memandangiku. Kukira, kacamata hitam tak mampu menutupi segala bentuk kekhawatiran.

Siapapun pasti khawatir. Puluhan jasad manusia berada di tengah laut. Taburan bunga dan untaian doa belum cukup menghapus duka bukan hanya bagi keluarga korban tetapi untuk semua yang mengetahui tragedi itu. Bahkan kaunter pemeriksaan paspor di Imigrasi Singapura yang biasanya tanpa kata-kata, menyapa dengan wajah muram.

“Dari Indonesia?” Lelaki berseragam hitam itu menatapku. Ia membaca penuh atensi pada sampul paspor dengan stiker kampus tempatku menuntut ilmu. “Hati-hati,” sambungnya penuh empati sembari mengembalikan pasporku.

“Terima kasih,” aku berlalu dan menarik napas getir. Wajah-wajah menyiratkan simpati yang dalam dan kekhawatiran akan cuaca, kesalahan manusia atau apapun penyebab insiden kemalangan. Tak ada yang mampu mengelak takdir.

Sore itu Singapura ditimpa tumpahan hujan dari langit. Angin kencang memaksa semua dedaunan mencengkeram sekuatnya agar tidak lepas dari dahan. Restoran cepat saji di bandara Changi hanya terisi hampir setengahnya. Suasana hening dan lengang. Sangat berbeda dari biasanya. Aku tak membawa apa-apa selain tas tangan berisi dompet, external storage, pulpen dan paspor serta berlembar-lembar kegamangan akan turbulensi.

Aku menghembuskan napas lalu berjalan ringan menggapai tangga berjalan yang akan membawa penumpang pesawat ke stasiun kecil di lantai dasar yang menyediakan kereta ke pusat kota. Sekilas mega masih menutup langit. Dua menit lagi train akan datang. Kukira tiket keretaku masih menyisakan empatbelas dollar. Cukuplah untuk sampai ke tujuan.

Tiba di kota, restoran India di seberang jalan tetap terlihat ramai. Di kursi paling depan pada sudut kanan, kita pernah makan bersama. Aku tak mengingat menu apa saja yang kita nikmati sambil sesekali berpegangan mesra waktu itu, tapi tak sedetikpun aku melupakan hangat pelukmu.

                                                                 ***

Entah berapa lama waktu kuhabiskan menulis sambil melamun. Hari sudah benar-benar hampir gelap. Suasana sekeliling pendopo sepi. Cuaca dingin dan tetes air ada yang menyiprat ke kaki. Gerimis.

Aku harus menutup laptop. Membereskan tas. Pesan yang masuk ke ponsel memaksaku untuk bergegas ke asrama. Bantuan makanan untuk korban banjir yang akan disumbangkan kampus, harus dikemas dalam wadah plastik berukuran sedang. Sedang apa engkau di sana?

                                                                  ***

Desember 2014

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru