Sunday, September 22, 2019
Home > Berita > Tuntut Ekonomi Pro Rakyat, Para Demonstran Dihadang Gas Air Mata di Paris

Tuntut Ekonomi Pro Rakyat, Para Demonstran Dihadang Gas Air Mata di Paris

Ribuan personel keamanan dikerahkan di Paris, Sabtu (8/12), untuk mengatasi para pengunjuk rasa. (Reuters/Al Jazeera)

Ribuan personel keamanan dikerahkan di Paris, Sabtu (8/12), untuk mengatasi para pengunjuk rasa. (Reuters/Al Jazeera)

Mimbar-Rakyat.com (Paris) – Polisi Prancis menembakkan gas air mata dan semprotan merica kepada kelompok pemrotes  keputusan pemerintah  yang merencanakan menerapkan kenaikan pajak dan harga bahan bakar, Sabtu (8/12), di Paris. Prancis.

Kelompok pendemo yang disebut sebagai kelompok  “rompi kuning”, sesuai dengan identitas mereka yang menggunakan rompi warna kuning, secara umum  menentang tingginya biaya hidup. Demikian dilaporkan Al Jazeera.

Seorang juru bicara polisi mengatakan kepada wartawan, ada sekitar 1.500 pengunjuk rasa di Champs Elysees dan pihak berwenang mengatakan 211 orang telah ditahan setelah polisi menemukan senjata seperti palu, alat bisbol, dan bola logam pada mereka.

Sekitar 89.000 petugas polisi telah dikerahkan di seluruh negeri. Dari jumlah ini, sekitar 8.000 telah dikerahkan di ibu kota untuk menghindari pengulangan kekacauan Sabtu lalu, ketika perusuh membakar mobil dan menjarah toko-toko dari bulevar Champs Elysees, dan merusak monumen Arc de Triomphe dengan grafiti yang diarahkan pada Presiden Emmanuel Macron.

Menara Eiffel dan tempat-tempat wisata lainnya di Paris ditutup pada hari Sabtu, toko-toko diminta untuk menghindari penjarahan.

Pemerintah Macron memperingatkan bahwa protes bisa dimanfaatkan massa yang “radikal dan memberontak” dan akan menjadi yang paling berbahaya, setelah tiga minggu terjadinya demonstrasi.

Perancis telah memutuskan menunda kenaikan pajak dan harga bahan bakar di tengah protes “rompi kuning” tersebut. Presiden telah mengumumkan awal pekan ini bahwa kenaikan yang direncanakan dalam pajak bensin dan solar, yang memicu protes, akan dibatalkan.

Namun para pemrotes mengatakan mereka akan tetap meneruskan unjuk rasa di Paris, dengan tuntutan ekonomi yang lebih luas, yang pro rakyat, termasuk pajak yang lebih rendah, gaji yang lebih tinggi, biaya energi yang lebih murah, ketentuan pensiun yang lebih baik dan bahkan pengunduran diri Presiden Prancis Macron.

Para pengunjuk rasa percaya bahwa mereka berjuang untuk keadilan. “Ada kebangkitan kemarahan rakyat dan itu disebabkan oleh satu alasan – kebijakan pemerintah yang hanya melihat mengambil dari orang miskin untuk tetap untuk orang kaya,” kata Taha Bouhafs, seorang aktivis di Paris, kepada Al Jazeera.

Perdana Menteri Edouard Philippe pada Jumat malam bertemu wakil delegasi “rompi kuning” .
Setelah pertemuan itu, seorang juru bicara gerakan, Christophe Chalencon, mengatakan Philippe telah “mendengarkan kami dan berjanji untuk memenuhi tuntutan kami kepada presiden”.

“Sekarang kami menunggu Tuan Macron. Saya berharap dia akan berbicara kepada orang-orang Perancis sebagai seorang ayah, dengan cinta dan rasa hormat dan bahwa dia akan mengambil keputusan yang kuat,” katanya.***(janet)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru