Thursday, September 19, 2019
Home > Berita > Tulisan Tentang Guru Harian Kompas Raih Anugerah Adinegoro

Tulisan Tentang Guru Harian Kompas Raih Anugerah Adinegoro

Piala untuk pemenang Anugerah jurnalistik Adinegoro, di tangan ketua panitia penjurian, Maria Andriana.

MIMBAR-RAKYAT.com (Jakarta) – Berita tentang guru berjudul “Kecukupan guru masih semu, beban para guru di daerah tertinggal” yang disiarkan harian Kompas pada 23 – 26 November 2015 meraih Anugerah Adinegoro 2015 kategori berita berkedalaman.

Dewan juri terdiri atas para wartawan senior yaitu Marah Sakti Siregar, Banjar Chaeruddin dan Endy Bayuni memberi nilai total 250,5 untuk karya dari tim wartawan Kompas tersebut, unggul dari 107 karya yang masuk, dalam sidang di Jakarta, Kamis.

“Karya yang menang ini memperlihatkan bahwa Indonesia masih menghadapi masalah guru, bukan saja soal kecukupan tenaga guru melainkan juga soal kesejahteraan dan penyebarannya dengan penyajian yang cukup bagus sehingga tulisan ini layak menjadi pemenang,” kata Endy Bayuni yang memberi nilai paling tinggi pada karya tersebut.

Menurut Banjar Chaeruddin, tulisan ini direncanakan dan digarap dengan baik, serta menunjukkan kepekaan penulisnya terhadap masalah yang terjadi di lingkungannya dan diangkat sebagai berita.

Marah Sakti Siregar  mengatakan bahwa karya tulis yang masuk tahun ini cukup banyak, 107 dibanding 59 karya yang masuk pada tahun lalu dan nilai tinggi diberikan pada karya berjudul “Nenek moyangku orang seniman” dari majalah Tempo, karena ceritanya mempunyai daya tarik yang kuat, mengungkap manusia purba Indonesia.

Pemenang Anugerah Adinegoro mendapat hadiah uang tunai Rp50.000.000,-, tropi dan piagam yang akan dibagikan pada puncak acara Hari Pers Nasional 2016 di Lombok, Nusa Tenggara Barat pada 9 Februari.

Menurut Endy Bayuni, karya jurnalistik yang disertakan di dalam lomba masih mempunyai banyak kekurangan karena masih lebih mengandalkan laporan pandangan mata serta pendapat orang lain dan belum banyak menyampaikan data sebagai persyaratan berita berkedalaman.

Beberapa tulisan cukup bagus dan bisa mengikat pembaca untuk membaca hingga selesai dan menyajikan cerita yang menarik dengan tema yang cukup beragam.

Latar belakang

Anugerah Adinegoro merupakan penghargaan jurnalistik yang diselenggarakan oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dan dilaksanakan berkaitan dengan Hari Pers Nasional (HPN) setiap tahun.

Nama Adinegoro diabadikan untuk Anugerah Karya Jurnalistik karena Adinegoro dipandang sebagai tokoh pejuang dan perintis pers yang dalam kehidupannya tidak dapat dipisahkan dari perjalanan pers nasional. Djamaluddin Gelar Datuk Maradjo Sutan, nama asli Adinegoro pada 14 Agustus 1904, lahir di Tawali, Sawahlunto-Sumatra Barat.

Adinegoro adalah orang Indonesia pertama yang secara formal mempelajari ilmu publisistik di  Jerman, selain mempelajari geografi, geopolistik, dan kartografi.

Anugerah Jurnalistik Adinegoro

Lomba Karya Jurnalistik Adinegoro dimulai sejak tahun 1974. Saat itu diselenggarakan oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) cabang Jakarta Raya, kemudian pada 1994 dialihkan dan diselenggarakan oleh PWI Pusat dan menjadi rangkaian kegiatan Hari Pers Nasional. Sementara PWI Jaya kemudian mengabadikan nama MH. Thamrin sebagai nama lomba karya jurnalistik

Anugerah Jurnalistik Adinegoro, pada awalnya dikhususkan untuk anggota PWI dan yang dilombakan adalah karya tulis bidang pembangunan dalam kurun waktu satu tahun. Pemenang karya tulis mendapat anugerah berupa trofi Adinegoro, piagam, serta hadiah uang berupa cek. Pemenangnya hanya satu orang.

Pada 1997, selain Anugerah Adinegoro juga diselenggarakan Lomba Karya Tulis Anugerah Zulharmans untuk bidang Film, Musik, dan Pariwisata. Kedua Anugerah itu sempat terhenti tiga tahun (2006-2008) karena karya tulis untuk bidang pembangunan sangat sedikit, di samping faktor lainnya.

Barulah pada tahun 2009, Anugerah Jurnalistik Adinegoro dimulai kembali, tetapi bukan untuk bidang pembangunan, melainkan untuk karya jurnalistik dalam tema Kemanusiaan dan Demokrasi, karya jurnalistik foto untuk tema Kemanusiaan dan Demokrasi, serta untuk karya tulis Tajuk Rencana Media Massa.  (SP/arl)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru