Wednesday, October 16, 2019
Home > Berita > Tuanku Imam Bonjol Tertangkap Karena Ditipu

Tuanku Imam Bonjol Tertangkap Karena Ditipu

Makam Tuanku Imam Bonjol

Makam Tuanku Imam Bonjol

JUJUR, tanpa sak wasangka, tidak kenal takut, pejuang sejati demi bangsa dan agama, serta anti penjajahan. Itulah sekilas gambaran Tuanku Imam Bonjol. Tentunya banyak lagi sifat dan kelebihan yang dimilikinya, sehingga dihormati kawan dan kaumnya, serta sangat ditakuti musuh-musuhnya, tak terkecuali Belanda yang dilawannya.

Andai saja dia tidak memenuhi undangan penjajah Belanda untuk berunding. Jika saja dia tidak dibohongi atau ditipu oleh Belanda yang memasang strategi membenarkan segala cara, pasti Tuanku Imam Bonjol tidak akan tertangkap dan dibuang ke sejumlah tempat, hingga akhirnya meninggal di tempat pembuangan di Desa Lotta, Kecamatan Pineleng, Kabupaten Minahasa, (saat ini) berbatasan dengan Kota Manado.

Sumber di Wikipedia menyebutkan, pada bulan Oktober 1837, Tuanku Imam Bonjol diundang pihak Belanda ke Palupuah untuk berunding. Namun setiba di tempat itu dia langsung ditangkap. Undangan hanya siasaat licik dari penjajah, cara yang tidak dapat dibenarkan, termasuk dalam perang sekalipun.

Tuanku Imam Bonjol yang memiliki nama asli Muhammad Shahab lahir di Bonjol, Pasaman, Sumatera Barat, Indonesia, pada tahun 1772. Dia putra dari pasangan Bayanuddin (ayah) dan Hamatun (ibu). Ayahnya, Khatib Bayanuddin, merupakan seorang alim ulama yang berasal dari Sungai Rimbang, Suliki, Lima Puluh Kota.

Dia memperoleh beberapa gelar, Peto Syarif, Malin Basa, dan Tuanku Imam. Seorang tokoh adat dan agama. Tuanku nan Renceh dari Kamang, Agam, sebagai salah seorang pemimpin dari Harimau nan Salapan menunjuknya sebagai Imam (pemimpin) bagi kaum Padri di Bonjol, hingga akhirnya populer dengan sebutan Tuanku Imam Bonjol.

Sepak terjangnya berjuang di Sumatera Barat berakhir setelah ditangkap Belanda dan dibuang ke Cianjur, Jawa Barat. Kemudian dipindahkan ke Ambon dan akhirnya ke Lotta, Kecamatan Pineleng, Kabupaten Minahasa, sebuah desa yang berbatasan dengan Kota Manado. Di tempat pembuagan terakhir itu dia meninggal dunia pada tanggal 8 November 1864. Tuanku Imam Bonjol dimakamkan di tempat pengasingannya itu.

Dalam kesempatan ziarah ke makam Tuanku Imam Bonjol, di Minahasa, Sulawesi Utara, pertengahan Mei 2016, www.mimbar-rakyat.com menyaksikan komplek pemakanan Tuanku begitu asri. Satu-satunya makam yang ada di komplek yang cukup luas itu berada di bawah bangunan kokoh berbentuk rumah adat Minangkabau, atau rumah bagonjong cukup besar.

Makam Tuanku Imam Bonjol tak jauh dari jalan raya menuju Manado. Berbelok ke kanan memasuki jalan kecil sebelum masuk perbatasan Kota Manado, komplek makam yang berada di kiri jalan telah ramai dengan rumah penduduk. Di seberangan jalan, berhadapan persis dengan makam berdiri sebuah masjid yang diberi nama Masjid Tuanku Imam Bonjol.

***
Perlawanan yang dilakukan pasukan Padri cukup tangguh sehingga sangat menyulitkan Belanda menghadapinya. Belanda melakukan berbagai siasat, antara lain melalui Gubernur Jendral Johannes van den Bosch dia mengajak pemimpin Kaum Padri yang waktu itu telah dipimpin Tuanku Imam Bonjol untuk berdamai dengan maklumat Perjanjian Masang pada tahun 1824.

Itu satu-satunya pilihan, mengingat saat bersamaan Belanda di Batavia juga kehabisan dana dalam menghadapi peperangan di Jawa, yakni Perang Diponegoro. Namun perjanjian ini dilanggar sendiri oleh Belanda dengan menyerang nagari Pandai Sikek.

Imam Bonjol yang dikenal sebagai penguasa monarki Pagaruyung adalah seorang pemimpin dan pejuang yang berperang melawan Belanda dalam peperangan yang dikenal dengan nama Perang Padri pada tahun 1803-1838.

Almarhum juga juga seorang ulama yang memiliki cita-cita membersihkan praktek Islam tradisi, serta berupaya mencerdaskan rakyat sesuai wawasan Islam sunnah. Imam Bonjol menuntut ilmu agama di Aceh tahun 1800-1802.

Berkat perjuangannya, Tuanku Imam Bonjol pada tanggal 6 November 1973 resmi diangkat sebagai pahlawan nasional Indonesia berdasarkan SK Presiden RI Nomor 087/TK/Tahun 1973. Nama Tuanku Imam Bonjol juga diabadikan di ruang publik sebagai nama jalan hampir di seluruh nusantara, serta nama stadion, nama universitas. Sosok almarhum juga ditampilkan pada lembaran Rp 5.000 keluaran Bank Indonesia sejak 6 November 2001.

Mengutip Wikipedia, Perang Padri meninggalkan kenangan heroik sekaligus traumatis dalam memori bangsa. Selama sekitar 18 tahun pertama perang itu (1803-1821) praktis yang berperang adalah antara orang Minang dan Mandailing atau Batak umumnya.

Awal timbulnya peperangan didasari keiginan dikalangan pemimpin ulama di kerajaan Pagaruyung untuk menerapkan dan menjalankan syariat Islam sesuai dengan Ahlus Sunnah wal Jamaah (Sunni) yang berpegang teguh pada Al-Qur’an dan sunnah-sunnah Rasullullah shalallahu ‘alaihi wasallam.

Pemimpin ulama yang tergabung dalam Harimau nan Salapan meminta Tuanku Lintau mengajak Yang Dipertuan Pagaruyung beserta kaum Adat untuk meninggalkan beberapa kebiasaan yang tidak sesuai dengan Islam tradisi (bid’ah).

Dalam sejumlah perundingan tak tercapai kata sepakat antara kaum Padri dan kaum Adat. Seiring itu dibeberapa nagari dalam kerajaan Pagaruyung bergejolak, dan sampai akhirnya kaum Padri dibawah pimpinan Tuanku Pasaman menyerang Pagaruyung pada tahun 1815.

Tanggal 21 Februari 1821 dalam perjanjian yang ditandatangani di Padang, kaum Adat secara resmi bekerja sama dengan pemerintah Hindia-Belanda guna melawan kaum Padri. Sebagai kompensasi Belanda mendapat hak akses dan penguasaan atas wilayah darek (sekarang Agam dan sekitarnya). Perjanjian didukung keluarga dinasti kerajaan Pagaruyung di bawah pimpinan Sultan Tangkal Alam Bagagar yang waktu itu mengungsi ke Padang.

Dukungan Belanda antara lain adalah penyerangan ke Simawang dan Sulit Air dengan pasukan Kapten Goffinet dan Kapten Dienema awal April 1821 atas perintah Residen James du Puy di Padang. Waktu itu perlawanan yang dilakukan Padri cukup tangguh hingga menyulitkan Belanda. Belanda melalui Gubernur Jendral Johannes van den Bosch mengajak pemimpin kaum Padri yang dipimpin Tuanku Imam Bonjol untuk berdamai dengan maklumat Perjanjian Masang tahun 1824.

Berikutnya sejak awal 1833 terjadi perubahan menggembirakan, dimana kaum Adat bergabung dengan kaum Padri. Perang berubah menjadi perang antara persatuan kaum Adat dan kaum Paderi melawan Belanda. Kalangan lain yang semula anti kaum Padri juga bergabung melawan Belanda.

Pihak yang semula meminta bantuan Belanda menyadari bahwa cara itu ternyata menyengsarakan masyarakat Minangkabau sendiri. Bersatunya kaum Adat dan kaum Padri dimulai dengan adanya kompromi yang dikenal dengan nama Plakat Puncak Pato di Tabek Patah yang mewujudkan konsensus Adat basandi Syarak, Syarak basandi Kitabullah (Adat berdasarkan Agama, Agama berdasarkan Kitabullah (Al-Qur’an).

Namun Belanda tidak hendak menghentikan penjajahannya. Serangan terus dilancarkan, termasuk penyerangan dan pengepungan benteng kaum Padri di Bonjol dari segala jurusan selama sekitar enam bulan (16 Maret-17 Agustus 1837). Pasukan di bawah pimpinan jenderal dan para perwira Belanda itu sebagian besar adalah tentara asli pribumi asal sejumlah suku yang dilatih di Jawa.

Ada 148 perwira asal Eropa, 36 perwira pribumi, 1.103 tentara Eropa, 4.130 tentara pribumi, termasuk Sumenapsche hulptroepen hieronder begrepen (pasukan pembantu Sumenep, Madura). Serangan terhadap benteng Bonjol dimulai dengan mengirim tentara Belanda asal pribumi.

Pasukan Belanda terus didatangkan dari Batavia, seperti pada tanggal 20 Juli 1837 yang tiba dengan Kapal Perle di Padang. Mereka dipimpin Kapitein Sinninghe, beranggotakan sejumlah orang Eropa dan Afrika, 1 sergeant, 4 korporaals dan 112 flankeurs atau serdadu Afrika (sekarang Ghana dan Mali) yang direkrut Belanda.

Kehadiran bantuan dari Batavia membuat posisi pasukan Tuanku Imam Bonjol tambah sulit, namun mereka tak sudi menyerah kepada Belanda. Penjajah Belanda baru bisa menguasai Bonjol setelah tiga kali mengganti komandan perangnya.

Bonjol–sebuah negeri kecil dengan benteng dari tanah liat yang di sekitarnya dikelilingi oleh parit-parit—baru bisa dikuasai Belanda tanggal 16 Agustus 1837 setelah lama dikepung.

Namun Belanda tak kunjung mampu menaklukkan Tuanku Imam Bonjol. Imam Bonjol terus berjuang. Pada Oktober 1837 Tuanku Imam Bonjol diundang Belanda ke Palupuh untuk berunding. Namun perundingan hanya tipu daya dari Belanda, karena setiba di Palupuh Tuanku langsung ditangkap dan dibuang ke Cianjur, Jawa Barat.

Selanjutnya Tuanku Imam Bonjol dipindahkan ke Ambon, kemudian dipindahkan lagi ke Desa Lottak, Minahasa, Sulawesi Utara. Di tempat terakhir itu dia wafat pada tanggal 8 November 1864 dan dimakamkan di tempat pengasingannya tersebut.***(Berbagai Sumber/Djunaedi Tjundik)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru