Saturday, February 22, 2020
Home > Berita > Tuan Guru Bajang: Melaksanakan shalat gerhana ciri orang beruntung

Tuan Guru Bajang: Melaksanakan shalat gerhana ciri orang beruntung

Gerhana bulan total. (sindonews)

MIMBAR-RAKYAT.com (Mataram) – Gubenur Nusa Tenggara Barat, TGH Muhammad Zainul Majdi menyatakan berkesempatan melaksanakan shalat gerhana bulan menandakan ciri orang yang beruntung.

“Salat gerhana bulan yang kita laksanakan merupakan sesuatu yang berharga kita laksanakan,” kata Muhammad Zainul Majdi saat melaksanakan shalat gerhana bulan di Masjid Hubbul Wathon Islamic Center di Mataram, Rabu malam.

Gubernur yang akrab dengan sebutan Tuan Guru Bajang (TGB) ini mengatakan tidak semua orang bisa melaksanakan shalat gerhana bulan. Karena salat gerhana bulan total sangat jarang terjadi.

“Jadi kita semua yang hadir pada malam ini termasuk orang yang beruntung,” katanya.

Shalat gerhana bulan di Masjid Hubbul Wathan Islamic Center di imami Dr. KH. Zaidi Abdab. Selain dihadiri Gubernur dan Wakil Gubernur NTB H Muhammad Amin. Pelaksanaan shalat gerhana bulan juga di ikuti ribuan jamaah yang memadati Masjid Hubbul Wathan Islamic Center di Mataram.

Gerhana bulan sendiri tidak terlihat di kota Mataram, karena terhalang awan dan turunnya air hujan sehingga warga tidak bisa melihat terjadinya gerhana bulan total.

Sama dengan ratusan warga yang telah memadati kawasan Pantai Sanur, Bali, Rabu malam, gagal mengamati peristiwa alam Gerhana Bulan Total karena langit di kawasan tersebut tertutup mendung.

Sejak sore hari, kawasan tersebut telah terlihat antusiasme warga untuk menyaksikan fenomena alam langka tersebut.

Tak hanya warga asal Denpasar, seperti dilansir antaranews,sejumlah wisatawan mancanegara juga terlihat berbaur dengan warga menunggu gerhana bulan total.

Sejumlah pehobi fotografi pun terlihat telah mempersiapkan alat-alat seperti tripod dan lensa tele untuk mengabadikan momen yang terakhir terjadi 152 tahun silam itu.

Namun, hingga waktu puncak gerhana yaitu 21.29 WITA, gerhana bulan tidak dapat teramati di Pantai Sanur, sehingga sebagian warga kecewa.

Vika Annisa salah seorang warga mengaku telah menantikan terjadinya fenomena alam yang jarang tersebut.  “Sejak sore, saya sudah kesini ingin melihat gerhana, tapi bagaimana, karena faktor alam diluar kuasa kita, ya sedikit kecewa sih,” katanya.

Hal itu juga diungkapkan Aris Budi, seorang pehobi fotografi yang datang ke Pantai Sanur bersama sejumlah rekan komunitasnya.

Sementara di berbagai tempat lain di Indonesia dan wilayah Jakarta, dengan antusias menikmati fenomena alam yang menakjubkan itu, termasuk di TMII.

Tempat wisata yang tutup setiap sore, hari itu sengaja dibuka hingga malam hari agar masyarakat berkesempatan melihat gerhana bulan total.

Di Museum PP-IPTEK Taman Mini Indonesia Indah, para pengunjung menantikan pengelola memberi mereka kesempatan memakai teleskop untuk menyaksikan fenomena alam ini.

Ratusan orang, kebanyakan datang bersama keluarga untuk menyaksikan fenomena alam yang baru pernah terjadi lagi setelah beberapa ratus tahun.

Wigiyati, salah seorang pengunjung asal Jakarta Timur, datang bersama 12 orang keluarganya demi menyaksikan langsung gerhana bulan total.

“Memang tertarik melihat gerhana. Kan 150 tahun sekali, kami berangkat hujan-hujanan,” katanya.

PP-IPTEK menyediakan tiga teleskop untuk melihat gerhana bulan, dua untuk umum dan satu untuk keperluan live streaming.  Pengunjung yang enggan mengantre melihat gerhana bulan dari teleskop dapat menyaksikan siaran langsung melalui layar yang disediakan di selasar museum.  (An/Kb)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru