Friday, September 21, 2018
Home > Cerita > Tromol Mesjid Cerpen A.R. Loebis

Tromol Mesjid Cerpen A.R. Loebis

Ilustrasi - Kotak amal di mesjid.

Masyarakat di kawasan tempatku bermukim gempar Senin pagi.  Pasalnya kotak tromol mesjid amblas isinya. Kegemparan ini terasa semakin menyesakkan, karena kejadiannya bertepatan dengan hari raya Idul Fitri.

Berikut ini kejadiannya.

Sekitar satu jam setelah usai solat hari raya, terdengar suara-suara berisik dari arah mesjid, yang letaknya tak jauh dari rumahku.

Aku saat itu sedang menerima tamu, yang terus mengalir datang ke rumah, maklum lah aku salah seorang yang dituakan di sekitar kampungku.  Tetamu sedang bersalaman, suasana amat ramai, apalagi banyak anak-anak di antara tamu, untuk mendapatkan angpau. 

Tapi suara saling sambut di luar rumah, mengalahkan suara para tamu yang datang.  Aku keluar rumah dan melihat di pelataran aula mesjid banyak orang, utamanya para remaja.

“Ada apa?”

“Tromol mesjid  isinya habis pak.”

“Lho, kemana?”

“Gak tau pak haji. Tutup atasnya sudah terbuka. Sepertinya gemboknya dirusak,” kata salah seorang remaja.

“Pak Ali gak melihatnya? Isinya banyak kah,” saya bertanya kepada marbot mesjid.

“Sudah sekitar tiga perempat tromol pak. Banyak pula uang besarnya,” kata Ali. Ukuran tromol kaca itu cukup besar dan tinggi.  Di sebelahnya ada dua kotak kecil dan tidak diutak-atik.

“Siapa tadi yang ada di sini  usai solat?”

“Kita semua remaja di sini pak haji. Tapi tak lama kemudian kita keliling kampung,” kata Idrus, ketua remaja mesjid yang menceritakan ia bersama rekannya keliling kampung guna menyalami orang-orang tua, seperti yang dilakukan mereka setiap hari raya.

Ali pun menuturkan, usai solat ia membersihkan lokasi bekas tempat solat Idul Fitri dan setelah itu ia ke aula dan melihat kotak itu masih berisi. Ia lupa mengunci pintu aula, sebaliknya bergegas mengejar para remaja untuk ikut saling bersalaman dengan masyarakat wilayah situ.

Ia menceritakan, sebenarnya dalam seminggu terakhir ia sudah ingin membuka tromol itu, yang digunakan untuk pembangunan mesjid. Namun niatnya itu tidak jadi terlaksana karena kesibukannya menjelang hari raya.

Setelah melakukan konsolidasi dengan beberapa pengurus mesjid dan para remaja, diputuskan agar insiden itu dilaporkan kepada polisi. Tiga orang diutus untukramelaporkannya, termasuk Pak Ali.

Polisi pun datang  memeriksa tempat kejadian perkara sekaligus melihat kotak tromol yang kaca bagian atasnya pecah.  Kedua polisi yang datang menanyai beberapa orang kendati tiga pelapor sudah ditanyai di kantor polisi. Kotak tromol itu dibawa polisi sebagai barang bukti.

Petang harinya, beredar berita bahwa ada seorang  anak kecil melihat seseorang keluar dari aula masjid pada pagi hari. Ciri-ciri yang disebutkan si anak pun menjadi bahan pada sebagian orang untuk dicocok-cocokkan dengan yang mirip.

Isu dengan cepat berkembang dan sudah menjadi sas sus dalam tempo singkat.

oOo

Malam hari aku tercenung membayangkan tromol masjid yang isinya ludes itu.

Entah siapa yang membongkar dan menguras isinya. Di hari mulia ini ia begitu berani masuk ke aula masjid dan mengikuti ajakan setan yang merasuk ke dalam pikiran dan jiwanya untuk melakukan keburukan itu.

Apakah ia berdosa sebesar dosa orang yang korupsi ratusan juta bahkan milyaran rupiah itu? Padahal aku paling faham,  isi kotak itu didominasi recehan dua ribuan rupiah. Bahkan tidak jarang ada yang lecek atau dilipat sekecil-kecilnya.

Aku kerap ketika membuka tromol spontan mengucap Alhamdulillah, semoga yang memasukkan uang ke dalam tromol ini mendapat rejeki berlimpah. Ucapan spontan itu keluar bila melihat uang biru atau merah, alias limapuluh ribuan dan ratus ribuan. Yang warna merah biasanya tak lebih dari satu, itu pun terkadang. Kalau yang biru ya ada beberapa lembar.

Di mata Allah, apakah penginfak uang lecek itu sama hadiah pahalanya dengan yang memasukkan uang warna merah atau biru? Ah, pasti tergantung keikhlasan dan niat mereka.  Bukankah iman itu tergantung dari niatnya?

Wih, aku tak berhak menjatuhkan vonis. Ini merupakan catatan dan sudah ada yang membukukannya.  Pasti ada catatan tentang niat dan keikhlasan. Aku hanya mencatat jumlah total dan memasukkannya ke dalam buku kas. Toh hanya Allah yang mengetahui tangan siapa saja yang memasukkan uang receh atau yang warna merah dan biru itu.

Jangan-jangan penginfak recehan itu memang sedang tidak memiliki uang.  Atau bisa juga ia memilih uang paling kecil dan lecek untuk tromol masjid.  Bisa jadi uang merah dan biru itu hasil perbuatan yang tidak disukai Allah, mungkin hasil korupsi, atau menodong, atau mencuri, atau yang lainnya.

Bisa jadi, penginfak uang lecek itu yang mendapat imbalan hadiah dari Allah, sedangkan pemberi  warna merah atau biru tidak mendapat ganjaran apa pun.  Jadi besar kecil infak tidak bisa diukur dari materi yang kelihatan mata raga.  Besar kecil infak atau sodakoh itu pasti tidak dapat diukur oleh manusia. Ini yang selama ini luput dari perhatianku.

oOo

Ah, kasihan mereka sudah kubuat susah di hari lebaran ini.

Aku tidak punya apa pun pada hari raya ini, padahal sudah sebulan ini aku berusaha mencari uang ke sana kemari , untuk membeli pakaian anakku. 

“Pa, si Ani tadi bertanya lagi kapan mau dibeliin baju baru. Katanya temannya sebelah rumah sudah punya dua baju baru. Tolong dong  Pa. Aku juga mau beli kacang dan pernah untuk tamu kita.  Juga seekor ayam untuk santapan kita usai solat,” kata istrinya. 

Terakhir istrinya ngomong seperti itu sekitar seminggu lalu. Hingga solat Idul Fitri, aku tidak juga mendapat uang. Sudah tiga bulan ini aku tidak bekerja, karena uang honor menyapu jalan sudah ludes untuk membayar hutang.  

Aku sudah menyabet uang ummat di masjid. Betul kata orang, kalau ada kesempatan, setan semakin gampang masuk. Uang ini tak banyak, tapi apakah mau kuberikan pada istriku? Ah, masak ia membeli baju dan makanan pas hari lebaran. Kasihan, mereka makan hanya dengan telor goreng, Untung tadi ada tetangga yang ngirim rendang.  Untung pula si Ani tidak terlalu maksa beli baju baru. 

Ah, Allah, mau kukemanakan uang ini. Mana mungkin kukembalikan ke dalam tromol. Pasti ada yang melihat. Mau kukemanakan muka ini. Padahal aku setiap waktu bersama mereka berjamaah di masjid. 

Ketika istri dan anakku bersilaturahim ke rumah tetangga, aku beringsut ke kamar dan membuka lipatan koran yang didalamnya penuh uang tromol tadi. Ada beberapa uang ratusan ribu, selebihnya limapuluh ribuan dan paling banyak uanga dua ribuan, di antaranya banyak yang lecek. 

Kelihatannya cukup untuk membeli baju untuk anakku dan tentu saja berlebih kalau hanya untuk membeli makanan untuk kami bertiga.

Aku merasa pusing..kleyengan. Kubungkus kembali uang itudan kutaruh di tempat tersembunyi. 

Aku harus mengembalikan ini. Aku malu dilihat Allah. Bagaimana nanti perasaanku bila melihat anakku memakai baju dari uang ini, apalagi bila kami memakannya?  Menyimpannya pun aku sudah tidak sanggup.

Usai solat Isya,  bungkus berisi uang itu kulemparkan ke pelataran rumah bendahara masjid. Ah plong dan leganya hati ini. 

oOo

Pada hari kedua  Idul Fitri,  ketika membuka pintu saat akan berjamaah subuh, aku melihat rongsokan koran di pelataran rumah.

Aku ingin membuangnya ke tempat sampah, tapi kelihatannya ada isinya. Jangan-jangan kotoran. Siapa yang tega membuang sampah ke rumah saya.

Eh, ketika kubuka, lembaran uang berhamburan. Aku kaget dan belum menduga itu uang masjid. Tapi akhirnya kuambil keputusan, ini pasti uang tromol masjid, apalagi di antara uang itu ada potongan-potongan kertas berlogo masjid, seperti kerap dimasukkan anak-anak ke dalam tromol.

Aku merasa lega. Semoga orang yang berniat jahat ini mendapat pengampunan dari Allah. Di hari yang mulia ini, ada seseorang yang mendapat kemuliaan dari Allah, mengembalikan kesadarannya yang sempat digenggam iblis.

Aku kembali tercenung. Begitu banyak dimensi kemanusiaan yang mencuat dari dan pada tromol masjid.

oOo

Jakarta, Desember 2016.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru