Monday, December 16, 2019
Home > Global > Tangan Jokowi Berdarah

Tangan Jokowi Berdarah

cover-depa courier-mail

cover-depa courier-mail

MIMBAR-RAKYAT.com (Jakarta) – Tangan Jokowi Berdarah. Nyinyirnya media asing dan para pemimpin negara lain terhadap kebijakan Indonesia terhadap terpidana mati yang dilaksanakan untuk 8 terpidana sekaligus, adalah saat yang tepat untuk unjuk jati diri sebagai bangsa yang bermartabat.

Media Australia, seperi biasa selalu tidak bersahabat . Kali ini ekseskusi yang dilaksanakan serempak pada 8 terpidana mati menjadi sasaran kritikan tajam. Alih-alih dilakuikan dengan santun.  Rabu (29/4), lalu salah satu media negara Kanguru media tersebuThe Courier Mail,  menampilkan foto sadia yang menggambarkan  Presiden Indonesia, Joko Widodo dengan tangan berlumuran darah. Presiden dikesankan sebagai pembunuh dengan mengilustrasikan Presiden Joko Widodo dengan tangan berlumuran darah.

Tangan Jokowi Berdarah

The Courier Mail yang terbit di Brisbane mewakili media Australia yang rata-rata berkomentar keras atas eksekusi para gembong narkoba . Judul headline koran tersebut, Bloody Hands (‘Tangan Yang Berdarah) dikuatkan lagi dengan pengantar redaksinya, Courier Mail  menyebut, Indonesia telah melaksanakan eksekusi mati dengan kejam. Hukuman mati dilaksanakan di depan regu juru tembak sesuai dengan kaidah internasional.

Hukuman  mati terhadap  mereka ,terpidana kasus narkoba itu dilakukan pada Rabu (29/4) dini hari, pukul 00.25. Kedelapannya adalah Andrew Chan (Australia), Myuran Sukumaran (Australia), Raheem Agbaje Salami (Nigeria), Zainal Abidin (Indonesia), Rodrigo Gularte (Brasil), Silvester Obiekwe Nwaolise alias Mustofa (Nigeria), dan Martin Anderson alias Belo (Ghana), Okwudili Oyatanze (Nigeria)

Sekjen PBB

Sekjen PBB, Ban Ki Moon dan sejumlah pemimpin negara lain juga nyinyir. PBB yang dikatakan Jokowi kini tak berdaya bersuara keras menentang eksekusi delapan narapidana narkoba di Indonesia. Hukuman mati tidak lagi ‘memiliki tempat’ di abad ke-21. Ban pun bahkan mengutuk pelaksanaan eksekusi mati itu. Namun bagi Indonesia, menurut para pengamat, adalah saat yang tepat untuk unjuk diri sebagai bangsa yang bermartabat yang tidask tunduk pada tekanan opini asing. (ais)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru