Monday, August 19, 2019
Home > Berita > Tak Dipinjami Ambulans Puskesmas, Pasien Solihin ke Rumah Sakit Naik Mobil Bak Terbuka

Tak Dipinjami Ambulans Puskesmas, Pasien Solihin ke Rumah Sakit Naik Mobil Bak Terbuka

Solihin dibawa mobil bak terbuka. (ist)

MIMBAR-RAKYAT.Com (Serang) – Nasib Solihin, 36, bikin hati miris. Warga Kampung Pasir Gadung, Desa Sangiang, Kecamatan Mancak, Kabupaten Serang ini begitu sulit mendapatkan pelayanan kesehatan. Padahal kondisinya mengkhawatirkan.

Meski mobil ambulans operasional Puskesmas Mancak berjejer, Solihin tidak diberikan pinjaman untuk membawanya ke rumah sakit.

Guna menyelamatkan nyawanya, pihak keluarga terpaksa menyewa mobil bak terbuka yang biasa mengangkut material bangunan untuk membawa pasien ke rumah aakit terdekat.

Anton Daeng Harahap, 31, kerabat pasien, mengaku mengurus Solihin untuk mendapatkan perawatan medis. Sebelumnya, Anton menceritakan bahwa Solihin sempat dirawat di rumah sakit di kawasan Kalideres, Jakarta Barat, akibat kecelakaan lalulintas.

Di Kalideres, Solihin dirawat lebih dari satu bulan. Setelah dokter menyarankan bisa menjalani rawat jalan ke rumah sakit terdekat, pasien dibawa pulang oleh keluarganya ke Mancak.

Dua pekan di rumah, kondisi Solihin terus memburuk. Solihin tidak bisa buang air kecil dan buang air besar.

Akhirnya keluarga memutuskan untuk membawa pasien ke rumah sakit untuk mendapatkan rawat jalan. Oleh pihak rumah sakit, keluarga disarankan untuk meminta rujukan ke Puskesmas terdekat.

“Pasien dibawa ke Puskesmas Mancak dengan menggunakan ambulans puskesmas untuk mendapat rujukan. Di Puskesmas tidak ada tindakan medis apa pun,” kata Anton kepada wartawan. Lelah menunggu selama 4 jam dengan kondisi pasien yang mulai lemah, keluarga akhirnya memutus meminjam ambulans untuk membawa pasien ke rumah sakit terdekat.

“Tapi dokter tidak mengizinkan. Padahal ada tiga ambulans parkir di situ. Alasannya ambulans hanya bisa digunakan untuk pasien yang menjalani rawat jalan di Puskesmas. Malahan pihak puskesmas meminta saya untuk menghubungi ambulans salahs atu partai,” kata Anton.

“Atas saran puskesmas, kami cari ambulans milik partai namun juga sibuk dengan urusan lain,” ujarnya.

Setelah kehabisan akal, Anton mengaku menuju Polsek Mancak. Di sana berharap mendapat pinjaman kendaraan operasional kepolisian. Namun harapan pupus karena Kapolsek Mancak tidak ada di tempat.

“Pak Kapolsek kelelahan dan istirahat di rumah karena malamnya baru ada giat sampai pagi,” ujarnya menirukan keterangan anggota.

Makin terdesak oleh keadaan pasien yang terus memburuk karena menahan sakit, keluarga akhirnya memutuskan untuk menyewa kendaraan bak terbuka pengangkut pasir di material terdekat. “Saya sewa dan langsung saya bawa ke Puskesmas Mancak,” jelas Anton.

Tiba di Puskesmas Mancak, pasien yang tak bisa duduk ini langsung diangkat ke atas losbak. Setelah itu baru sopir ambulans di Puskesmas Mancak iba dan meminta untuk dipindahkan ke ambulans. “Saya sudah kadung membawa bak terbuka langsung bawa ke Rumah Sakit Krakatau Medika Cilegon,” tuturnya.

Saat ini, pasien sudah mendapat perawatan di Ruang Melati. Hingga berita ini diturunkan wartawan masih berupaya mendapat keterangan resmi dari Puskesmas Mancak dan Dinas Kesehatan Kabupaten Serang.

Puskesmas Mancak dituding telah menelantarkan pasien Solihin. Selain tidak mendapatkan tindakan medis, pihak puskesmas juga tidak meminjamkan kendaraan operasional untuk mengantarnya ke rumah sakit rujukan. Padahal dalam garasi puskesmas berjejer tiga mobil ambulan.

Demi menyelamatkan nyawa Solihin, pihak keluarga terpaksa menyewa mobil bak terbuka yang biasa mengangkut material bangunan untuk membawa Solihin ke rumah sakit terdekat.

Terkait kejadian itu, dr Frankie Sudiono, dokter Puskesmas Mancak, Jumat (2/2) memberi penjelasan bahwa Solihin datang ke Puskesmas dengan memakai ambulans. Saat datang di puskesmas, pasien menjalani tahap observasi dan dinilai masih stabil. Dokter juga menyarankan agar dilakukan perawatan.

Karena harus dirawat, Frankie sempat bertanya masalah pembiayaan. Ternyata pasien juga memiliki BPJS. Ia juga menjelaskan soal aturan rujukan. Karena bila ada pasien rujukan yang datang dari puskesmas, ia juga harus menelepon pihak rumah sakit terlebih dahulu.

Menurutnya, saat itu pihak keluarga belum menentukan pilihan ke rumah sakit mana. Pihak keluarga yang juga menemani pasien mencari alternatif ambulans dari partai.

“Saya jawab boleh, dengan catatan kalau tidak didampingi tenaga medis, kita tak bisa memberi pelayanan medis,” katanya kepada wartawan.

Pihak puskesmas menurut Frankie juga sudah meminta menunggu di IGD puskesmas. Namun, entah kenapa pasien kemudian dibawa keluarga menggunakan kendaraan pick up.

(Baca: Tak Dipinjami Ambulans Puskesmas, Solihin Diangkut Mobil Bak Terbuka)

Ia mengaku, tidak ada larangan bagi pasien menggunakan ambulans. Tapi, memang harus mengikuti alur rujukan. Harus ada konsultasi dengan dokter di IGD rumah sakit yang dituju. Karena jika penuh, ia akan mencari rumah sakit lain.

Frankie mengaku, saat keluarga kemudian menggunakam kendaraan bak terbuka ke rumah sakit di Cilegon, pihak perawat juga sudah melarang. Keluarga juga sudah meminta agar menunggu ambulans dari partai.

“Saya sudah sarankan tapi menunggu konsultasi dulu sampai ACC (disetujui) rumah sakit. Saya tidak menyinggung biaya ambulans. mau bayar mau tidak,” katanya.

Hari ini pihak puskesmas juga mendatangi kediaman keluarga pasien. “Tadi kita ke rumah keluarga pasien. Kita silaturahmi,” ujarnya. (joh)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru