Monday, October 21, 2019
Home > Berita > Syamsul Anwar Harahap semakin besar

Syamsul Anwar Harahap semakin besar

Syamsul Anwar Harahap dan Sakti Saung Umbaran, lama tak bertemu, sekali jumpa "action" tinju. (arl)

Apanya yang besar? Tubuhnya!

“Ada seratus kilo?,” dijawabnya, “Ada mungkin.” Tapi ia kelihatan segar, masih gesit, sumringah dan bila dalam perbincangan kami ada kisah masa lalu yang lucu, ia pun tertawa ngakak.

Ketika berkunjung ke “markas”nya di Kota Tua, Kamis siang, rekan Saksi Saung Umbaran mantan wartawan Pos Kota, sengaja ngumpet dan menutup kepalanya menggunakan penutup kepala pada kaosnya.

Ketika Syamsul Anwar nongol, Sakti melakukan gerakan bertinju berulang-ulang, sehingga mantan juara tinju Asia itu terkejut.  Saat Sakti membuka tutup kepalanya, Syamsul ngakak berkepanjangan dan..mereka berpelukan, lama.

Saya dan Prayan dua tahun lalu berkunjung ke tempat itu, tapi Sakti sudah lama sekali tak bertemu dengan petinju asal Pematang Siantar itu.  Mungkin 30 tahun lebih. Syamsul memboyong kami ke rumah makan Putri Hasian, miliknya. Sembari makan, Syamsul nyerocos terus, bercerita tentang apa saja yang diingatnya.

Ingatan Sakti ternyata kuat sekali. Ia ingat kapan Syamsul menumbangkan Thomas Hearns, kapan diperdaya dan memperdaya temannya dan berbagai cerita lain, baik di atas ring mau pun di luar ring. Syamsul semakin bersemangat,  suaranya meninggi, sehingga orang-orang sedang makan beberapa kali melirik ke arah kami.

Syamsul pun malah ingat masa lalunya, ketika pernah ditanya oleh Presiden Soeharto apa yang diinginkannya, tetapi ia menampik dengan halus.  Pernah juga ditawari salah seorang petinggi bea siswa sekolah ke Amerika bidang sport-science, untuk menjadi menteri olahraga. “Ah saya gak pengen jadi menteri,” kata Syamsul, olahragawan terbaik 1978.

Bersama Syamsul Anwar Harahap, Sakti Saung Umbaran dan Prayan Purba di kantin milik Syamsul di Kota Tua, Jakarta. (voni/arl)

Pernah pula akan mendirikan semacam yayasan dana abadi untuk atlet, tetapi kandas di tengah jalan. Alasannya? Syamsul pun bercerita panjang lebar, beberapa di antaranya tak layak dituliskan di sini.

Ia kemudian menyebut beberapa nama tokoh tempo doeloe yang amat loyal dengan olahraga, yang pada ujungnya disebutnya, “Mungkin tidak akan lahir lagi orang-orang seperti mereka, yang amat tulus mendukung dan membina kemajuan olahraga nasional.”

Syamsul pun, hebatnya, bercerita tentang politik masa kini. “Negara kita ini tidak boleh makmur dan tidak boleh hancur”.  Why? Syamsul pun bercerita apa alasannya. Sesaat kemudian ia beralih berbicara tentang masalah ekonomi, baik nasional mau pun internasional.

Tapi jangan salah, ia pun bercerita pula tentang masalah pertanian di kampungnya, di Padang Bolak, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. “Menanami pohon di lahan kebun, kita harus banyak belajar dari pengalaman,” kata Syamsul, juara tinju kelas welter Asia pada 1976.

“Dulu saya pernah bertani pisang, habis dimakan monyet. Kemudian saya tanami tumbuhan lain dan dimakan babi. Nah sekarang saya tanam jengkol dan kemiri,” katanya, dengan memenambahkan,  jengkol banyak dicari orang dan kemiri bisa tumbuh ratusan tahun, dengan panen dua kali setahun, di lahannya seluas lima hektar itu.

Kami lama bicara ngalor-ngidul dan mendekati perpisahan, Sakti berujar, “Saya amat gembira, kali ini bisa shalat berjamaah bersama Syamsul,” disambut ngakak Syamsul, di kantin yang pengunjungya seolah tak putus.

Tempat Syamsul berusaha itu merupakan “one stop facilities”, ada rumah makan, ada kantin, ada mushola dan toilet, ada tempat penjualan cindera mata.  Di lantai atas tempat tinggalnya bersama keluarga.

“Dari toilet tempat orang buang air itu, saya pernah dalam sehari mendapatkan Rp11 juta rupiah dari pukul tujuh pagi hingga pukul tujuh pagi,” kata Syamsul, membuat melongo yang mendengar.

“Itu terjadi ketika Imlek.  Banyak sekali pengunjung karena hari libur umum.  Bila Tahun Baru atau akhir minggu menurun,” kata Syamsul.

Apa kunci keberhasilan Syamsul di “one stop facilities” itu?

“Karyawan saya jujur semua. Penjaga toilet itu rajin salat, puasa dan malam hari dia baca Al Quran. Kalau di kantin ini, saya suruh mereka kelola sendiri, jadi hanya bagi hasil,” kata Syamsul, yang lebih banyak berada di kampungnya di Sumatera Utara untuk mengurus ladangnya.

Ada istri dan dua bocah kecil bersamanya di Kota Tua.  “Semua yang saya peroleh sekarang merupakan rejeki mereka. Tugas saya membesarkan mereka,” tutur  Syamsul. Anak dari istri pertama, kini menjadi dosen, lurah dan camat.

Syamsul Anwar yang dekat dengan wartawan, setelah gantung sarung tinju, kerap menulis tentang tinju di berbagai media dan sebagai komentator televisi.

Baca juga  :

Bertemu Syamsul Anwar Harahap di Kota Tua

Ketika kami akan berpisah, Sakti meminta difoto bersama Syamsul, dengan pose gerakan tinju, kemudian kami pun bergantian berfoto dengannya, termasuk berfoto bersama.

Syamsul bersama teman-teman di Kota Tua. (arl)

Syamsul kelihatan amat gembira bertemu dengan teman-teman lama.  Jemarinya meremas kuat saat bersalaman dan lengannya merengkuh erat saat berpelukan.

Syamsul Anwar memang semakin besar: baik fisik, tekad, usaha, ladang dan amalnya.  (arl)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru