Sunday, July 21, 2019
Home > Berita > Surat dari Pengungsi Suriah Kepada Donald Trump

Surat dari Pengungsi Suriah Kepada Donald Trump

Kondisi Suriah karya Abdulazez Dukhan. (Al Jazeera)

Kondisi Suriah karya Abdulazez Dukhan. (Al Jazeera)

Mimbar-Rakyat.com (Jakarta) – “Aku meninggalkan Suriah bersama keluarga empat tahun setelah revolusi dimulai. Tak seorang pun ingin meninggalkan (negerinya). Tapi apa yang bisa saya lakukan melawan tank? Apa yang bisa kita lakukan ketika kematian jatuh dari langit?”

Kalimat di atas merupakan isi surat seorang pengungsi asal Suriah bernama Abdulazez Dukhan dari tempat pengungsian yang ditujukan kepada presiden terpilih Amerika Serikat (AS), Donald Trump. Al Jazeera, Kamis (12/1) merilis surat tersebut, namun tidak menyebutkan dari Negara mana pemuda berusia 18 tahun itu menulis surat.

Isi surat terbuka itu intinya meminta perhatian dan bantuan Donald Trump, menyangkut nasib mereka. Surat juga disertai foto-foto tentang kondisi Suriah karya Abdulazez Dukhan.

Al Jazeera menampilkan surat tersebut cukup lengkap, setelah diedit. “Nama saya Abdulazez Dukhan. Saya berumur 18 tahun. Saya salah satu dari empat juta orang yang melarikan diri dari Suriah. Kami meninggalkan hati dan orang-orang yang dicintai – termasuk yang dikuburkan di suatu tempat di sepanjang jalan.”

Selanutnya disebutkan: Saya mengirimkan Anda surat ini untuk mengucapkan selamat atas jabatan presiden. Tapi juga untuk mengingatkan Anda berapa banyak kepedulian Anda dalam memutuskan masa depan kita. Kami mulai revolusi memegang mawar dan berharap dukungan dari masyarakat internasional. Tahun-tahun berlalu, mawar berubah menjadi senjata tetapi harapan untuk dukungan yang terus disampaikan tak kunjung datang membantu.

Isi surat selengkpanya, sbb; Apakah pendahulu Anda telah melakukan sesuatu untuk mengubah nasib kami? Saya tidak tahu. Tapi kami akan terus memiliki iman. Kata-kata Anda berarti bagi kami. Anda mungkin bisa mengubah masa depan kami semua.

Seperti banyak orang lain, kami pergi ke Turki dan dari sana ke Yunani. Kami bepergian, melihat kembali kota-kota kami, jalan-jalan dan rumah-rumah yang hancur. Kami lemah. Kami ingin dukungan masyarakat internasional dan kami tahu bahwa itu akan datang.

Sekarang saya adalah pengungsi. Hal yang paling sulit tentang hidup di kamp pengungsi adalah isolasi. Orang membangun dinding di sekitar kami dan negara-negara membangun dinding di sekitar dinding-dinding.

Presiden masa depan yang terhormat, perbatasan membunuh mimpi. Mungkin hari ini adalah hari terakhir saya sebagai pengungsi dan besok saya akan berada di suatu tempat yang aman di dunia. Mungkin aku akan kembali ke Suriah tercinta dan mulai membangun kembali. Mungkin aku masih bisa bermimpi untuk satu hari lagi.

Kami berharap ada seseorang mendengar kata-kata kami. Kami berharap Anda melakukannya.***(Janet)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru