Sunday, September 22, 2019
Home > Cerita > Sufi Muda…Saya Lapar

Sufi Muda…Saya Lapar

Perjalanan sufi (sufimuda.net)

Perjalanan sufi (sufimuda.net)

Di kalangan sufi, rasa lapar merupakan hal biasa, karena itu merupakan bagian dari mujahadah, perang tanpa henti terhadap hawa nafsu. 

Lapar bukan hanya dirasakan ketika puasa wajib selama sebulan penuh di bulan suci Ramadan tapi juga di bulan-bulan lain.

Puasa sehari, mulai terbit fajar sampai terbenam matahari adalah puasa tahap awal, sebagai latihan bagi pemula untuk menapaki puasa-puasa selanjutnya yang lebih khusus dan memerlukan kesabaran dan ketabahan yang lebih.

Puasa Ramadan bertujuan untuk menjadikan orang bertaqwa, orang yang terbiasa dengan ibadah. Ketika taqwa telah dicapai maka baru orang tersebut bisa melaksanakan puasa-puasa khusus yang jumlah harinya lebih dari satu hari satu malam.

Bagi kalangan tertentu, bahkan lapar dalam satu hari itu bukanlah lapar yang sebenarnya. Salah seorang guru sufi pernah mendengar seseorang dari kaum sufi berkata, “Saya lapar”.

Maka Guru Sufi berkata, “Anda bohong”.

“Mengapa demikian?” Tanya orang tersebut.

“Sebab rasa lapar adalah salah satu rahasia dari rahasia-rahasia Allah yang tersimpan rapat di ‘Gudang-gudang’ simpanan Allah dan tidak akan diberikan kepada orang yang membocorkan rahasianya,” tutur Sang Guru.

Syekh Abu Nashr as-Sarraj bercerita: Ada seorang dari kaum sufi datang kepada seorang guru Sufi. Kemudian sang guru menyuguhkan makanan kepadanya. Lalu ia makan.

“Sejak berapa hari Anda tidak makan?” Tanya sang guru pada orang itu.

“Sejak lima hari,” jawabnya.

“Lapar yang Anda rasakan bukanlah lapar kefakiran. Akan tetapi lapar Anda adalah lapar karena bakhil. Bagaimana Anda bisa merasakan lapar sementara Anda masih berpakaian?” tutur sang guru.

Sahl pernah berkata, “Apabila kalian kenyang, maka mintalah lapar kepada Dzat Yang mengujimu dengan kekenyangan. Dan apabila kalian lapar, maka mintalah kenyang kepada Dzat Yang menguji dengan kelaparan. Apabila tidak demikian, maka kalian terus-menerus melampaui batas”.

Tidak ada orang yang diberi izin oleh Allah untuk meninggalkan puasa Ramadhan kecuali oleh sebab-sebab tertentu yang membuat dia tidak bisa berpuasa.

Oleh karenanya, syaum Ramadhan yang merupakan latihan lapar bagi kita semua bisa menjadi latihan untuk menapaki puasa-puasa lebih lanjut.

Guru Sufi memberi nasehat kepada murid-muridnya, “Kalau puasa sehari saja kalian tidak mampu laksanakan, bagaimana mungkin kalian bisa melanjutkan ke tingkat berikutnya?”

Ini tentu merupakan “puasa khusus”, bagi orang khusus, yang terus berpuasa dengan nurani dan jiwanya tidak hanya di bulan Ramadan.

Ini ibroh atau nasihat, mampukah kita?  (sufimuda.net/arl)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru