Monday, September 23, 2019
Home > Berita > Suami Tembak Istri PNS Cantik, Masih Bungkam Soal Asal Usul Senjata Api

Suami Tembak Istri PNS Cantik, Masih Bungkam Soal Asal Usul Senjata Api

Indria Kameswari. (ist)

MIMBAR-RAKYAT.Com (Bogor) – MA, tersangka pembunuh istrinya seorang PNS cantik Indria Kameswari, 38, masih bungkam soal asal usul senjata api yang digunakan menghabisi sang istri beranak satu itu.

Kapolres Bogor, AKBP Andi M Dicky, Selasa (5/9) mengatakan, dalam pemeriksaan MA mengaku menembak istrinya. Hanya saja, keberadaan dan asal muasal senjata api (senpi) belum bisa dipastikan karena dia belum mau buka mulut.

“Pistol itu sampai saat ini masih dicari, yang bersangkutan mengakui menembak tapi tak bersikap kooperatif memberitahu dimana menyembunyikan senpi,” katanya kepada wartawan di Polres Bogor. Padahal kalau tidak kooperatif malah memberatkan.

Keterangan saksi mulai dari tetangga hingga putri korban yang juga anak kandung tersangka sudah cukup baik.

“Motif pembunuhan) cekcok keluarga,” ujarnya. “Tapi belum didalami cekcok yang seperti apa, ini akan diperiksa intensif.”

MA ditangkap di Kepri. Dia kabur setelah menembak mati Indria Kameswari, istrinya, di rumah mereka di Cijeruk, Bogor, pada Jumat (1/9).

 

KTP PALSU
Sementara Ditreskrimum Polda Jawa Barat juga masih melakukan penyelidikan terkait tewasnya PNS Diklat Badan Narkotika Nasional (BNN) Lido ini. Dari hasil olah TKP pihak kepolisian menemukan foto copy KTP palsu milik suami korban.

“Jadi nama sebenarnya suami korban adalah MA, itu yang tertera di KTP aslinya. Kemudian kami temukan juga foto copy KTP palsu atas nama H MAM di lokasi. Jadi KTP asli dan palsu ini hanya beda namanya saja, foto dan alamat tinggalnya sama di wilayah Warakas, Tanjung Priok, Jakarta Utara,” kata Ditreskrimum Polda Jawa Barat Kombes Umar S Fana, Senin (4/9).

Menurut dia, MA ditangkap di Kota Kepulauan Riau saat bersembunyi di rumah sepupunya, diduga itu dilakukan usai membunuh istrinya. Saat ditangkap, petugas tidak menemukan senjata api yang diduga digunakan untuk menghabisi nyawa korban.

BELA DIRI
Semenatara dua kakak MA, 38, datang ke Polres Bogor pada Senin, menyerahkan bukti-bukti bagaimana kekejaman Indria Kameswari atas suaminya MA.

Dari berbagai rekaman pertengkaran yang diputar ke media, umpatan dan kata-kata binatang kerap dilontarkan korban.

Menurut Hj. Siti Nurhaini, 43, kakak tersangka dan Hj. Siti Nurjanah, 44, sang kakak yang lain, kejadian tewasnya Indriani, karena adiknya berusaha membela diri.

MA merupakan anak ketujuh dari sembilan saudara, terus tersiksa dengan gaya hidup istrinya selama lima tahun menikah. Indria kerap meminta mobil mewah dan rumah bagus dan besar.

Malik yang berprofesi sebagai kontraktor berusaha memenuhi permintaan istrinya. Namun karena proses kepemilikan rumah dan mobil yang membutuhkan waktu, membuat Indria tak sabar hingga setiap harinya selalu diwarnai keributan.

“Indria itu istri yang keras kepala dan suka menganiaya suami. Dia maunya mobil mewah dan rumah bagus. Bahkan sertifikat rumah ibu di Jakarta dipalsukan Indria untuk dijual,” kata Hj. Siti Nurhaini kepada wartawan di ruang Media Center Polres Bogor.

Beberapa bukti yang dibawa keluarga, di antaranya hasil visum luka MA usai dipukul Indria hingga rekaman dan surat kuasa palsu penjualan rumah orangtua di Warakas Jakarta Utara.

“Konflik rumah tangga mereka, awalnya saya sering kasih masukan ke adik, kalau rumah tangga sering cekcok nggak baik. Bahkan MA sering dipukul. Namun karena adik saya sangat cinta sama Indria, maka dia tetap bertahan, walau kerap disiksa,” ujarnya.

Dalam rekaman yang diputar, MA sering diumpat dengan nama binatang. “Kalau nggak dipenuhi kemauan gua dan buat apa gua susah, gua selingkuh. Ngapain hidup susah sama lo. Gua cantik bisa nyari yang lebih baik. Jangan macam-macam, saya pegawai BNN dan kenal banyak pejabat,” kata Indria ke suaminya yang terekam.

Indria yang sudah empat kali menikah, belum bekerja di BNN saat menikah dengan Malik lima tahun lalu dan dikaruniai seorang anak bernama Mutiara 4 tahun.

Hj. Siti mengaku, terakhir berkomunikasi dengan adiknya Kamis (31/8/2017). Saat itu dia datang ke Warakas untuk mengambil sertifikat rumah ibunya atas perintah Indria.

“Kami keluarga minta maaf atas kejadian ini. Bahwa Indria sudah meninggal dunia benar. Tapi kejadian ini bukan direncanakan tapi spontan karena adik saya diperlakukan istrinya seperti binatang. Adik saya benar sudah duda sekali menikah,” kata Hj. Siti.

Keluarga meminta, agar kasus ini tak ditutupi, termasuk siapa pemilik pistol yang ada di rumah kontrakan Indria. “Adik saya tak punya pistol. Kalau benar Bu Indria meninggal dunia karena tembakan peluru, maka harus dicari siapa pemilik pistol dan kenapa bisa ada di rumah kontrakan adik saya,” katanya. (joh)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru