Sunday, February 23, 2020
Home > Cerita > Stasiun (Baru) oleh Hendry CH Bangun

Stasiun (Baru) oleh Hendry CH Bangun

Stasiun sudah sepi. Lantai marmer berwarna putih, cermerlang ditimpa lampu neon yang menyala di berbagai sudut. Bangunan baru itu terang. Di sisi di kiri kanan masih terdengar suara kendaraan yang lalu lalang. Baik yang ke arah Utara maupun Selatan. Tinggal satu kereta yang akan datang dan mengantarkan para penumpang ke rumah mereka, atau tepatnya ke stasiun terdekat dengan rumah mereka. Kereta terakhir menjelang tengah malam.

Entah berapa lama lagi kereta datang hanya Tuhan yang tahu. Ya, walaupun jadwalnya sudah terpampang di sisi loket pembelian tiket, hampir pasti tidak pernah tepat waktu di di menit yang sama dengan jadwal. Dan penumpang sudah maklum. Karena bagaimanapun ini Indonesia bung. Terlambat itu sudah biasa. Tinggal berapa lamanya. 

Tiba-tiba Yudhi ingat karikatur sebuah harian yang terbit beberapa lalu soal terlambat ini. Soal penetapan Kapolri, terlambat. Soal penerbangan Lion Air, terlambat. Soal eksekusi terpidana mati narkoba, terlambat. Jadi kalau kereta, atau tepatnya KRL terlambat, itu wajar sekali.

Walaupun demikian, kecuali terjadi hal-hal luar biasa, keterlambatan KRL tidak pernah bikin sakit kepala seperti Lion Air yang pertengahan Februari lalu sampai terlambat belasan jam. Paling lama terlambatnya sekitar setengah jam. Biasanya 5-15 menit. Itu jurusan Tanah Abang-Maja, Serpong, atau Parung Panjang, yang dia naiki. Yudhi sudah maklum, sebab jalur ini dilewati keretapi jarah jauh Merak-Madiun atau Kediri, adapula Duri-Rangkas Bitung, selain keretapi batubara dan keretapi barang, yang pantang berhenti di stasiun tempat dia pergi atau pulang.

Hanya saja, pembenahan stasiun keretapi yang berbarengan dengan perbaikan perjalanan dan sistem keretapi membuat dia dan penumpang lain sedikit sengsara. Dulu, kalau haus atau lapar, dia tinggal nongkrong di kios dalam stasiun atau di balik pagar untuk beli minuman botol, lontong atau mie rebus. Sekarang semua tidak ada lagi. Makanya dia berusaha tidak lupa membawa minuman botol ketika berangkat dari rumah atau pulang dari kantor. Berusaha pula tidak lapar karena untuk mendapatkan kudapan, dia harus ke luar stasiun karena kios stasiun sudah bebas dari tempat jualan pedagang kecil. Apalagi di dalam kereta seperti ketika kereta odong-odong masih membolehkan pedagang asongan dan pengamen beraksi. Berangkat pagi dia bisa membeli arem-arem, ketan lapis gula merah, lepat, atau asinan yang dibawa pedagang untuk dijual di Tanah Abang, sebagai bekal untuk dikudap di kantor.

“Repot juga ya kalau haus begini,” keluh seorang penumpang yang nafasnya agak memburu, mungkin karena bergegas ke stasiun takut ketinggalan kereta.

“Memang susah Pak, nggak seperti dulu,” timpal Yudhi. “Dulu mau beli koran ada, kehujanan pun yang jual payung juga ada. Sekarang bersiiiih semua.”

Seperti malam ini, Yudhi merasakan sepi, sepi yang kosong. Memandang bulan sebenarnya bisa membuat dia membayangkan hal-hal yang menyenangkan, tapi karena tidak ada perangsang dia jadi kehilangan semangat. Kalau dulu, warung-warung kecil kerap memperdengarkan lagu-lagu yang menghentakkan kaki. Irama dangdut bisa terdengar dari beberapa tempat. Di sana terdengar suara merdu Evie Tamala atau Ikke Nurjanah, di warung lain ada nyanyian Meggi Z atau Mansyur. Betapa menggembirakan. Dalam keadaan seperti itu, jiwanya seperti melayang-layang. Malam tidak lagi terasa hampa, ada impuls-impuls yang menggerakkan gairahnya. 

Orang-orang tetap hidup walaupun malam sudah hampir mencapai puncaknya.

Yudhi sering melihat ibu-ibu penjaga warung yang terkantuk-kantuk mendengarkan lagu kesayangan mereka, dan segera terbangun begitu ada yang meminjam korek api, beli rokok, ataupun teh botol dingin. Lagu menjadi teman setia tidak hanya bagi dia, tetapi penumpang yang mungkin dilanda berbagai masalah di kantornya atau di rumah. Nyanyian merdu mengubah suasana jadi sahdu, rindu, gembira, bersemangat, atau mungin seseorang senyum-senyum sendiri membayangkan kenangan manisnya. Itulah agaknya yang membedakan stasiun keretapi di Jakarta dulu, dengan stasiun-stasiun kereta lain yang pernah dikunjunginya.

Yudhi karena pekerjaannya sempat memanfaatkan transportasi mahal seperti KRL di berbagai kota besar dunia. Entah di New York atau Paris, di Tokyo atau Hongkong, tidak ada suasana menyenangkan seperti yang didapatnya dari warung-warung di stasiun. Suasana nyaman, akrab, penuh cengkerama, dan menggugah perasaan. Dunia begitu lengkap. Dan kini telah hilang karena pengaturan manajemen baru keretapi di Jabodetabek. 

                                                                 ***

“Apa kabar Boss, tumben pulang malam banget,” kata Somad ketika Yudhi berjalan menuju stasiun pada suatu malam.

“Seragam apa itu yang dipakai?,” balas Yudhi.
“Saya jadi tukang parkir stasiun sekarang. Sudah dua bulan.”
“Oh pantas jarang saya lihat di pangkalan,” kata Yudhi lagi.
“Lumayan, dapat gaji UMR. Kerjanya sif-sifan. Kadang masuk pagi, kadang masuk malam. Ini pas malam,” katanya.

Somad bercerita, ketika terjadi pembenahan stasiun, semua kios di dalam dan yang menempel ke stasiun dibongkar. Tanah yang ada lalu dilapangkan dan dijadikan parkir untuk sepeda motor dan mobil. Sebagai penjaga direkrutlah orang-orang yang ada di sekitar stasiun, termasuk dirinya yang selama ini menjadi tukang ojek. Tidak semua mau karena menjadi penjaga parkir harus mau disiplin bekerja dalam waktu yang ditentukan. Bekerja 12 jam nonstop, enam hari dalam seminggu. Libur satu hari. Namun gaji cukup besar, take home pay bisa 2,5 juta sebulan.

“Ali nggak mau jadi tukang parkir?”
“Dia ogah, Pak. Enakan ngojek katanya. Iya sih kalau lagi bagus, sehari bisa dapat 100 ribu lebih. Tapi kadang bisa juga di bawah itu. Kalau jadi pegawe seperti saya, tiap bulan dapat gaji tetap,” katanya dengan penuh bangga.
“Benar tuh. Enakan jadi karyawan, hidupnya lebih teratur lagi,” timpal Yudhi. “Kerja yang benar Bang Somad, keluarga juga senang abang pulangnya teratur.”

Iya, seingat Yudhi, Ali yang juga salah satu pengojek yang dia gunakan jasanya, hanya bisa pulang ke rumah dan bertemu anak istrinya di kawasan Parung, Bogor, sepekan sekali. Biasanya Jumat tengah malam sehabis bekerja dia akan pulang lalu kembali ke kawasan Kebayoran Lama pada hari Minggu malam atau Senin subuh. Sehari-hari dia numpang tidur di rumah orangtuanya yang dulu dia tempati sewaktu masih bujangan.

“Trus yang pada jualan di stasiun seperti Bu Rohmah atau Pak Juned dagang dimana?”
“Nggak tahu deh Pak. Yang bisa cari modal mau nyewa dekat kantor RW dan pindahin kiosnya ke sana. Soalnya sudah punya langganan katanya, jadi warungnya pasti banyak yang beli,” kata Somad.
“Iya nih, saya juga suka repot. Nggak bisa minum kopi pas lagi mau,” kata Yudhi.

Dia ingat pada suatu malam, hidup benar-benar terasa nikmat ketika dia minum secangkir kopi susu yang diseduh sambil menunggu kereta yang entah kenapa terlambat lebih setengah jam. Atau pernah juga, begitu turun dari keretapi dia harus membeli payung karena hujan deras yang membuat topi yang dikenakannya tidak lagi cukup untuk menghindari basah. Dengan harga Rp 25.000 dia hanya kecipratan sedikit air ketika sampai di kantor yang jaraknya kira-kira satu kilometer. 

                                                          ***

Keretapi telah membuat hidup Yudhi lebih sehat. Kini setidaknya dia berjalan kaki sekian ratus meter setiap hari. Di usia yang hampir senja, otot-otot kakinya bekerja lagi secara aktif setiap hari. Kadang kalau waktu sudah mepet, dia akan berjalan setengah lari agar tidak tertinggal kereta. Kalau sudah begitu maka nafasnya akan tersengal-sengal, paru-parunya bekerja keras dan oksigen akan masuk semakin banyak. Dadanya akan terasa lega. Otot kakinya mengeras. Dia merasa segar.

Dulu dia selalu mengendarai mobil ke dan dari kantor. Berjam-jam waktu dia habiskan duduk dan menyetir. Padahal di kantor dia berjam-jam pula harus duduk di depan komputer mejanya. Hanya sedikit bergerak kalau ke toilet, atau mushala, atau ke kantin. Di rumah, dia hanya berjalan sekian meter ke garasi, dan begitu tiba di tempat bekerja, hanya berjalan sekian meter pula masuk ke dalam gedung. Sering dia merasa pegal, atau agak sesak nafas. Perutnya pun agak buncit. 

Manfaat lain yang juga didapat, menghemat luar biasa. Dengan naik keretapi dia hanya keluar uang sekitar Rp 25.000 untuk transport. Sedangkan bila menggunakan mobil, selain bensin yang mencapai kira-kira 120 liter per bulan dia harus pula keluar uang pula untuk biaya jalan tol yang bisa mencapai Rp 25.000 perhari. Lumayan Yudhi bisa menghemat sekitar Rp 1 juta.

Kalaupun dia galau sekarang, itu lebih karena dia tidak bisa lagi merasakan kehidupan merakyat di stasiun yang dulu dia selalu nikmati. Hidup orang-orang kecil yang selalu penuh kegembiraan di tengah pelik dan rumitnya hidup. Suasana tanp gengsi, tanpa basa-basi, yang menjadi penyeimbang kehidupan teratur yang dia jalani sehari-hari di kantor dan pergaulan, menjadi bumbu hidup yang membahagiakan Yudhi. 

Kini suasana sudah berubah. Lebih beraturan, walaupun menurut dia menjadi lebih kering dan kosong.
Apa boleh buat. Itulah hidup. Kita tidak kuasa menolak perubahan. Mungkin dia harus mencari suasana stasiunnya di tempat lain. Di pasar yang kerap dia lewati misalnya.. 

                                                              ****
Palmerah, Februari 2015

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru