Saturday, April 04, 2020
Home > Internasional > Snowden : ISIS Adalah Ciptaan Amerika, Israel Dan Inggris

Snowden : ISIS Adalah Ciptaan Amerika, Israel Dan Inggris

MIMBAR-RAKYAT.com ( Jakarta) – Lembaga intelejen di tiga negara Amerika, Inggris dan Israel  menciptakan sebuah organisasi teroris untuk menarik semua ekstrimis dunia dalam satu wadah.
 Mantan agen rahasia yang kini membelot , karyawan di US National Security Agency (NSA), Edward Snowden,  dari tempat persembunyiannya  mengungkapkan bahwa Inggris, Amerika Serikat dan Israel telah bekerja sama untuk menciptakan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

Strategi ini kata Snowden, dikenal dengan operasi “sarang lebah”. Dokumen NSA menunjukkan operasi “sarang lebah” bertujuan melindungi entitas Zionis dengan menciptakan slogan-slogan agama dan Islam.

Menurut dokumen yang dirilis oleh Snowden kepada pers Barat, mengutip kesepakatan para telik sandi 3 negara itu,  satu-satunya solusi untuk melindungi negara Yahudi itu adalah dengan menciptakan musuh di dekat perbatasannya. Bocoran ini mengungkapkan bahwa pemimpin ISIS dan Abu Bakar Al-Baghdadi mengambil pelatihan militer intensif selama satu tahun di tangan Mossad, selain program dalam teologi.

Abu Bakar Al Bagfady tercatat memang pernah ditahan oleh Amerika, selama hamper setahun pada tahun 2004. Apakah penahanan itu hanya kamuflase untuk mendoktrin  dan mencuci otaknya, tidak jelas. Yang jelas kini Abu Bakr Albagdady sudah dinobatkan sebagai khalifah pemimpin g tertinggi begara Islam Irak dan Sueiah ( ISIS).

Mossad merupakan agen intelijen nasional Israel. Mossad dibentuk dengan tugas utama adalah mengumpulkan informasi intelijen, penyusupan, dan kontra-terorisme. Fokus utamanya adalah negara-negara dan organisasi Arab.

Pengaruhnya di Indoneia

Menurut Direktur Institute for Policy Analysis of Conflict, Sidney Jones merujuk dari jumlah pendukung ISIS di Indonesia  , maka jumlah pendukung ISIS masih lebih kecil dibandingkan pendukung kelompok teroris jaringan Al-Qaeda, Al Nusra, atau Front Pembela Rakyat Suriah yang menentang kepemimpinan Presiden Suriah Bashar al-Assad.

Namun, kata Sidney, besarnya jumlah pendukung ISIS di Indonesia dapat diperkirakan dari jumlah anggota dan pendukung setiap kelompok ekstremis yang telah mendeklarasikan diri sebagai pendukung Baghdadi.

Di Indonesia, dukungan terbuka kepada ISIS dan Baghdadi pertama kali muncul pada Sabtu, 8 Februari 2014. Ratusan orang mendeklarasikan dukungannya ke ISIS di halaman kampus Universitas Islam Negeri Ciputat, Tangerang. “Mereka bangga mengumumkan bahwa dalam pertemuan itu mereka berhasil mengumpulkan dana sekitar Rp 41 juta,” ujar Sidney.

Di situs berita pendukung ISIS, Al-mustaqbal.net, pada Jumat, 7 Juli 2014, dilaporkan tentang pembaitan ratusan orang untuk mendukung Baghdadi dan ISIS di auditorium Syahida Inn, Kampus II UIN Ciputat. Mereka datang dari berbagai daerah yakni Jabodetabek, Banten, Sukabumi, Cianjur, Lampung, Riau, dan Batam.

Setelah itu, pembaiatan untuk mendukung ISIS juga terjadi di Solo dan Malang, Jawa Timur. Sidney menjelaskan pendukung ISIS juga sudah muncul di Aceh, Medan, Bima, dan Poso. Pemimpin kelompok teroris di Poso, Sulawesi Tengah, Santoso alias Abu Wardah, dibaiat sebagai pendukung ISIS pada tanggal 1 Juli 2014.

Adapun tanggal 29 Juni 2014 bertepatan dengan Ramadan, kata Sidney, Abu Wardah mendeklarisakan diri berada dalam Daulah Islamiyah yang menjadi dasar perjuangan ISIS dibawah kepimpinan Abu Bakr El Baghdady.

Mengenai pola rekrutmen anggota atau pendukung ISIS lebih banyak menggunakan sosial media seperti Facebook dan Twitter daripada mendekati kampus-kampus atau organisasi-organisasi gerakan ekstremis. “Mereka betul-betul ahli memakai sosial media,” ujar Sidney. Bahkan mereka mendirikan media online untuk memberitakan kegiatan ISIS di berbagai negara.

Menjadi pemimpin

Setelah invasi AS terhadap Irak di tahun 2003, Baghdady dan beberapa rekannya mendirikan Jamaat Jaysh Ahl al-Sunnah wa-l-Jamaah (JJASJ), Angkatan Bersenjata Kelompok Warga Sunni, yang beroperasi dari Samarra, Diyala, dan Baghdad. Di dalam kelompok ini, Baghdady menjadi pemimpin dewan hukum. Pasukan pimpinan AS menangkap menahannya dari bulan Februari-Desember 2004, tetapi membebaskannya karena Baghdadi tidak dianggap sebagai ancaman tingkat tinggi. Diduga penahanan ini hanya sebagai kamuflase untuk “menggarap” Baghdady.

Mengikuti jejak Al Qaeda di Tanah Dua Sungai mengubah nama menjadi Majlis Shura al-Mujahidin (Dewan Syura Mujahidin) pada permulaan tahun 2006, pimpinan JJASJ menyatakan dukungannya dan penggabungan diri.

Di dalam struktur baru, Baghdady bergabung dalam dewan hukum, tetapi tidak lama kemudian organisasi mengumumkan perubahan nama kembali di akhir tahun 2006 menjadi Negara Islam Irak (ISI). Baghdady menjadi pengurus umum dewan hukum provinsi di dalam “negara” baru disamping anggota dewan penasehat senior ISI.

Ketika pimpinan ISI, Abu Umar al-Baghdadi, meninggal pada April 2010, Abu Bakr al-Baghdadi menggantikannya. (Ais)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru