Friday, November 22, 2019
Home > Berita > Sirkuit Baku City Tantangan Berat Bagi Semua Tim

Sirkuit Baku City Tantangan Berat Bagi Semua Tim

Sean Gelael siap beradu cepat di Sirkuit Baku, Azerbaijan, namun Dewi Fortuna belum berpihak pada dia. Rekannya Nato tampil sebagai juara pertama. (mimbar-rakyat.com)

MIMBAR-RAKYAT.com (Baku City) – Karakteristik Sirkuit Baku City yang rumit menjadi tantangan berat untuk semua tim pada laga F2 yang diikuti Sean Gelael akhir minggu ini, bertepatan dengan akhir puasa Ramadan serta hari raya Idul Fitri 1348 H, Sabtu dan Minggu.

Tim mekanis dipaksa bekerja keras untuk mencari setelan mobil yang pas untuk pebalap dan kombinasi antara lintasan lurus yang panjang dan beberapa tikungan dengan lintasan sempit, adalah tantangan yang harus bisa ditaklukkan pebalap.

Tak hanya untuk balapan Formula 1, situasi ini juga berlaku untuk balapan F2 yang akan digelar hampir bersamaan pada hari Sabtu dan Minggu pekan ini. Setelan mobil menjadi salah satu kunci kemenangan tim, selain keandalan pebalap dan kondisi balapan.

Panjang lintasan Sirkuit Baku City mencapai 6,006 kilometer dengan 20 tikungan, dan terdapat lintasan lurus sepanjang 2,2 kilometer. Lintasan ini selebar 13 meter, tetapi di antara tikungan tujuh dan delapan, lintasan menyempit menjadi 7,6 meter. Di titik inilah tantangan tersulit bagi pebalap.

Sebagian besar tim akan memakai setelan mobil lowdownforce. Ini menarik. Pertarungan tidak hanya milik pebalap, tetapi juga para mekanis.

”Sirkuit Baku tricky bagi semua pebalap karena biasanya lintasan baru yang jarang dipakai balapan masih licin,” kata pebalap Indonesia Sean Gelael, yang akan membawa bendera tim Pertamina Arden yang didukung tim Jagonya Ayam KFC Indonesia.

Pada balapan kali ini Sean akan didampingi oleh engineer baru Manuel Aboy sebagai bagian dari penyegaran di tubuh tim Pertamina Arden. Menurut Aboy, amat penting menyiapkan mobil yang andal sehingga Sean bisa fokus untuk tampil dengan optimal.

Musim lalu, Sean mendapat hasil positif pada balapan pertama (Feature). Meski memulai balapan dari posisi ke-20, Sean bisa finis di urutan ketujuh sekaligus meraih poin pertamanya di ajang yang sebelumnya bernama GP2. Sayang, pada balapan kedua (Sprint) Sean tak bisa melanjutkan balapan karena mobilnya ditabrak pebalap lain.

Selain Sean, Tim Pertamina Arden juga mengandalkan Norman Nato. Pebalap asal Perancis ini juga bertekad mengambil poin lagi setelah dua kegagalan beruntun di Barcelona dan Monaco. Sean dan Nato sudah mempelajari karakter sirkuit dan mereka sudah membuat persiapan yang matang.

CEO F2, Bruno Michel mengatakan, balapan di Baku City sama menariknya dengan balapan di Monako. ”Ini tantangan berat bagi mekanis untuk menyiapkan setelan mobil yang pas.

Di satu sisi, ada lintasan lurus yang memungkinkan mobil dipacu kencang, tetapi di sisi lain ada tikungan tajam beruntun yang mengharuskan mobil memperlambat kecepatannya. Ini akan menjadi balapan yang seru,” kata Bruno.

Mario Isola, Head of Car Racing Pirreli menilai, meskipun sirkuit Baku City memiliki kemiripan karakteristik dengan Monaco, ada beberapa perbedaan penting, yang paling terasa adalah kecepatan yang lebih tinggi.

Dengan lebih banyak energi melalui ban, ditambah potensi suhu tinggi, ini berarti tim dihadapkan pada pilihan mengambil ban medium dan juga supersoft.

“Strategi pemilihan ban sangat penting. Pebalap juga harus mampu menjaga degradasi ban. Musim lalu, balapan berlangsung seru dan sepertinya mobil pengaman juga akan banyak masuk lintasan,” ujar Isola.   (sp/arl)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru