Friday, February 28, 2020
Home > Berita > Singapura dipimpin presiden wanita muslimah

Singapura dipimpin presiden wanita muslimah

Singapura tak lama lagi dipimpin presiden wanita muslimah, Halimah Yacob. (gemarakyat)

MIMBAR-RAKYAT.com (Singapura) – Singapura akan dipimpin presiden baru dan satu hal yang paling menarik, negara itu untuk pertama kalinya dipimpin presiden wanita yang juga seorang muslimah.

Mantan Ketua Parlemen Singapura Halimah Yacob dipastikan menjadi presiden muslimah pertama di negara itu setelah menjadi satu-satunya kandidat yang memenuhi syarat pemilu presiden 2017.

Pemilu presiden Singapura sedianya digelar pekan kedua September 2017, namun karena   Halimah menjadi kandidat tunggal, ia dipastikan jadi presiden tanpa pemungutan suara.

Kandidat lain rival Halimah, Mohamed Salleh Marican dan Farid Khan, gagal memenuhi syarat meski nominasi presiden resmi ditutup Rabu (13/9/2017).

Halimah jadi sorotan dunia, karena dia dari etnis Melayu yang selama ini langka jadi pemimpin negeri Singa itu.

Politisi Melayu muslim ini lahir 23 Agustus 1954. Dia pernah menjadi anggota  People’s Action Party (PAP) atau Partai Aksi Rakyat yang kemudian menjadi Ketua Parlemen dari Januari 2013 sampai Agustus 2017.

Pada 7 Agustus 2017, dia mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Ketua Parlemen dan anggota PAP karena menjadi kandidat untuk pemilihan presiden Singapura 2017.

Halimah dididik di Singapore Chinese Girls’ School dan Tanjong Katong Girls’ School, sebelum melanjutkan ke University of Singapore di mana dia menyelesaikan gelar LLB (Bachelor Legum Of Law) pada 1978.

Pada 2001, dia menyelesaikan gelar LLM (The Master of Laws) di National University of Singapore, dan mendapat gelar Doktor Kehormatan dari National University of Singapore pada tanggal 7 Juli 2016.

Perempuan ini pernah bekerja sebagai praktisi hukum di Kongres Serikat Perdagangan Nasional pada tahun 1992. Dia ditunjuk sebagai direktur Institut Studi Ketenagakerjaan Singapura (sekarang dikenal sebagai Institut Studi Ketenagakerjaan Ong Teng Cheong) pada tahun 1999.

Halimah memasuki politik pada tahun 2001 saat dia terpilih sebagai anggota parlemen untuk Konstituensi Perwakilan Jurong Group (GRC). Pada pemilu 2015, Halimah adalah satu-satunya calon minoritas untuk PAP.

Perempuan ini dikenal aktif berkampanye melawan kelompok Islam radikal. Dia kerap mengecam kelompok Islamic State of Iraq and Syria (ISIS).

”Saya berjanji untuk melakukan yang terbaik yang bisa saya lakukan untuk melayani masyarakat Singapura dan itu tidak berubah, apakah ada pemilu  atau tidak ada pemilu,” katanya, kemarin.

”Semangat dan komitmen saya untuk melayani rakyat Singapura tetap sama. Saya tetap berkomitmen penuh untuk melayani Singapura,” ujarnya.

Wanita berusia 63 ini menjadi orang Melayu kedua yang menjadi presiden setelah Yusof Ishak yang merupakan presiden pertama Singapura dari 1965-1970.

Posisi Presiden Singapura adalah seremonial namun jauh lebih kuat dari presiden seremonial di negara lain.

Presiden Singapura mempunyai hak veto terhadap simpanan keuangan negara dan anggaran negara, penunjukan pejabat publik seperti Ketua Mahkamah Agung (MA), Jaksa Agung, Panglima Angkatan Bersenjata dan Kepala Staf Tiga Angkatan.

Presiden juga dapat memveto Rancangan Undang-Undang (RUU) yang diajukan parlemen.

Bukan sekali ini pilpres Singapura berlangsung walkover. Pilpres 1999 dan 2005 juga dimenangkan mantan Duta Besar Singapura untuk AS, SR Nathan tanpa kontes.

Halimah dijadwalkan dilantik pada Rabu (13/9/2017 malam.  (An/Kb)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru