Wednesday, August 12, 2020
Home > Gaya Hidup & Kesehatan > Sifat Arogan Karena Kelemahan Orang Saleh

Sifat Arogan Karena Kelemahan Orang Saleh

MIMBAR-RAKYAT.com (Jakarta) – Berbagai perilaku arogan yang dipertontonkan orang zalim di dunia kini akibat kelemahan orang saleh sehingga terjadi praktek buruk seperti korupsi, kolusi, nepotisme dan berbagai ketidakadilan yang melanda berbagai lapisan masyarakat.

“Karena itu orang beriman harus memilih orang shaleh yang memiliki visi dan misi kepemimpinan sebagaimana misi kepemimpinan nabi Ibrahim, yakni misi dakwah dan reformasi di semua sektor kehidupan,” kata Dr. H. Meizi Fachrizal Ahmad, M.Si di Jakarta, Minggu.

“Siapa saja memilih orang zalim sebagai pemimpinnya, maka ia ikut bertanggung jawab atas semua kezaliman pemimpin itu di hadapan mahkamah Allah SWT,” katanya ketika memberikan khutbah Idul Adha di Masjid Al Istiqomah di Kawi-Kawi Jalan Percetakan Negara Jakarta.

Fachrizal, salah satu pengurus bagian kesehatan Masjid Sunda Kelapa mengatakan, untuk memilih pemimpin saleh, harus dilihat dari catatan rekor kepribadiannya di masa lalu, secara vertikal ia harus baik hubungan ibadahnya kepada Allah SWT dan secara horisontal ia selalu berbuat adil dan bijaksana serta penuh kasih sayang dan berakhlak kepada sesama manusia.

“Belajar dari profil kehidupan Nabi Ibrahim AS. membuat kita harus memiliki kepedulian lebih besar terhadap kesinambungan generasi yang memperjuangkan tegaknya nilai kebenaran. Ini ditunjukkan ketika usia Nabi Ibrahim semakin tua, tapi kerinduannya pada generasi penerus perjuangan menjadi semakin besar, dan ia terus berdoa agar mendapat keturunan yang saleh,” katanya.

Keinginan Nabi Ibrahim untuk mendapatkan anak bukan karena untuk kesenangan duniawi semata, katanya, tetapi untuk mencari generasi yang akan melanjutkan perjuangan dan meneruskan dakwah tauhidnya.

Ini dibutuhkan, katanya, karena kondisi generasi muda sekarang ini cukup memprihatinkan, karena banyaknya kasus perzinahan, pemerkosaan, pembunuhan, perkelahian/tawuran, pencurian, narkoba, AIDS, dan berbagai kasus kriminal lain yang melanda generasi muda.

Fachrizal memberi contoh konsep Sa’I dari Syafa ke Marwa, berjalan pulang pergi sebanyak tujuh kali, sebagai pengabdian dan perhatian orang tua yang begitu besar kepada anaknya dan sekarang ada Hijir Ismail, tempat mulia di Ka’bah tempat Ismail dahulu diasuh, dididik dan dibesarkan dalam pangkuan ibundanya, Siti Hajar.

“Makanya untuk bisa melahirkan generasi yang saleh, maka yang harus menjadi saleh terlebih dahulu adalah kita sebagai orang tuanya. Sangat jarang terjadi orang tua mendambakan anaknya menjadi saleh sementara ia sendiri tidak saleh,” ujarnya.

Ia juga menambahkan, pelajaran dari profil Nabi Ibrahim AS. dan keluarganya adalah keharusan mempertahankan dan memperkokoh idealisme, ideologi Tauhid dengan hujjah, argumentasi atau alasan yang kuat, seperti ketika Nabi Ibrahim yang masih muda menghancurkan berhala yang biasa disembah masyarakat di sekitarnya.

“Dari sekian banyak ‘Ibrah dari pribadi Nabi Ibrahim dan keluarganya adalah pelajaran tentang kepemimpinan (Imamah). Di mana Allah telah memilih Nabi Ibrahim sebagai pemimpin bagi umat manusia atas berbagai prestasinya yang gemilang dalam banyak ujian yang telah dilaluinya,” kata Fachrizal. (KB)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru