Sunday, November 17, 2019
Home > Berita > Setelah 13 Tahun Bergelut dengan Gizi Buruk, Remaja Fitriani Baru Mendapat Perhatian Khusus Bupati Pandeglang, Berat Badan Tinggal 10 Kilogram

Setelah 13 Tahun Bergelut dengan Gizi Buruk, Remaja Fitriani Baru Mendapat Perhatian Khusus Bupati Pandeglang, Berat Badan Tinggal 10 Kilogram

Fitriani, gizi buruh, tubuhnya semakin kurus. (ist)

MIMBAR-RAKYAT.Com (Pandeglang) – Remaja berusia 14 tahun, Fitriani, warga Kampung Talun RT 02/RW 05, Desa/Kecamatan Jiput, Kabupaten Pandeglang, Banten menderita gizi buruk hingga tidak berdaya.

Setelah 13 tahun lebih melawan penyakit Malnutrisi Energi Protein (MEP) berat, putri pasangan Otoh Suriadi, 45, dan Saibah (Alm) yang didiagnosa gizi buruk sejak berusia 8 bulan itu, kini berat badannya hanya tinggal 10 kilogram.

Ayah Fitri, Otoh menceritakan, saat lahir tidak ada kelainan yang dialami anak wanitanya itu. Namun seiring berjalannya waktu, kondisi tubuh Fitriani tidak berkembang seperti anak bayi pada umumnya. Pada awalnya, dia menganggap Fitriani hanya mengalami keterlambatan pertumbuhan.

Pihak Puskesmas Jiput, sempat memberi penanganan dengan memberi makanan tambahan. Namun karena kondisi anaknya tidak kunjung membaik, Fitriani dirujuk ke RSUD Berkah Pandeglang.

“Mulai ada gejala itu ketika berusia 8 bulan, dan diagnosa gizi buruk. Tahun 2009 pernah dibawa ke RSUD Pandeglang, tak lama kemudian dibawa ke RSCM (Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo) atas bantuan dari perusahaan di Jakarta,” kata Otoh, Minggu (5/2).

Namun bukannya mendapatkan penanganan medis, kata dia, anaknya itu justru direkomendasikan dirawat di RSUD Serang karena dianggap sudah membaik. Setelah itu, keluarga akhirnya memutuskan untuk membawa Fitriyani pulang.

“Sehari di RSCM, lalu dialihkan ke RSUD Serang selama 13 hari. Di RSCM dokter bilang ada kelainan syaraf di otak Fitriani,” tuturnya.

Sejak saat itu, kondisi Fitriani justru semakin memburuk. Namun ironisnya, sejak itu tidak ada lagi penanganan khusus untuk kesembuhan Fitri. Padahal, jarak rumahnya dengan Puskesmas Jiput hanya sekitar 100 meter. Namun, penanganan yang dilakukan petugas Posyandu hanya berupa kontroling, itu pun tidak rutin setiap bulan.

“Sudah lebih dari 5 tahun tidak ada penanganan khusus lagi. Dari Posyandu paling hanya kontrol saja, itu pun tidak rutin. Malah baru sebulan lalu, dapat bantuan lagi berupa makanan tambahan, susu, dan uang tunai sebesar Rp 100.000,” tuturnya.

Dengan segala upaya itu, Otoh pun pasrah dengan kondisi Fitriyani. Namun, dia masih berharap ada pihak yang bisa membantu kesembuhan anaknya. Sebagai buruh tani, dia tidak memiliki cukup uang untuk membawanya kembali ke rumah sakit. “Saya berharap Fitriani bisa sembuh, biar bisa jalan lagi,” ucapnya.

Bupati Pandeglang, Irna Narulita mengatakan, prihatin atas kondisi kesehatan Fitriani. Istri Dimyati Natakusuma ini berjanji akan menangani khusus putri dari pasangan Otoh Suriadi dan Saibah. Irna mengaku sudah memerintahkan UPT Kesehatan, puskesmas dan Dinkes agar memberikan perhatian khusus kepada Fitri (panggilan Fitriani).

“Ini sudah menjadi tugas Ibu (Irna menyebut dirinya) untuk memberikan perhatian khusus kepada Fitriani,” ungkap Irna saat menjenguk Fitriani. Dalam kunjungannya Bupati memberikan bantuan uang tunai untuk pengobatan dan merehab rumah. (joh)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru