Wednesday, August 12, 2020
Home > Cerita > Sesal, Cerpen Kartika Permata

Sesal, Cerpen Kartika Permata

“Maaf Dit, tapi gue nggak bisa menerima perasaan lo.” ucapnya ketika kami duduk bersama

di ruang makan. “Perasaan gue ke lo saat ini, hanya bisa sayang sebagai teman dan nggak

bisa lebih.” lanjutnya lagi.

Ucapannya mengingatkanku pada ucapanku sekitar setahun lalu, ketika aku menolak

perasaannya. Kali ini, aku yang harus menerima perkataan itu kembali kepadaku.

***

Tantrina. Jiwanya yang begitu ceria, energinya yang seperti tidak pernah habis, entah

mengapa membuat tenagaku habis. Seperti ada dementor yang sedang menyerap energi

kebahagiaanku, jika aku berada di dekatnya. Mulutnya yang terkadang tidak ada filter,

membuatku perasaanku terkadang tercampur aduk dan puncak kemarahanku adalah akhir

tahun kemarin ketika Tantrina melewati batas. Aku mendiamkannya, dan memarahinya

untuk memuaskan egoku.

Namun Tuhan berencana lain. Di bulan ketiga tahun ini, aku terserang penyakit yang

mengharuskanku dirawat di rumah sakit. Tantrina lah yang bergerak dengan cepat dan gesit

membantuku. Mulai dari mencari rumah sakit, merawatku, menemaniku hingga mengurusi

administrasi rumah sakit. Sebuah hal yang bisa dilakukan oleh keluargaku, namun Ibu

sedang sakit juga sehingga dia tidak bisa setotal Tantrina.

***

Dua minggu lalu

“Kenapa Dit?” ucapnya ketika lewat di depan TV dan melihatku kerepotan memegang

sendok. “Mau gue suapin?” lanjutnya lagi.

“Iya Tan, boleh.”

Tantrina mulai menyuapiku. Ada sedikit perasaan seperti kurang ajar dalam diriku,

memintanya mengurangi makanan yang sudah diambil di sendok yang ingin ia berikan

padaku, “Gue capek ngunyahnya, Tan.” Tantrina hanya tertawa mendengar ucapanku.

Tidak ada sakit hati tampak dari wajahnya. Ia kemudian mengurangi porsi di sendok

tersebut, lalu menyuapiku lagi

Mata kami bertemu, dan ia tersenyum senang. “Gue seneng lo makannya banyak Dit. Kalau

begini, lo bisa pulih dengan cepat.” Mendengar senyum dan ucapan positifnya, membuatku

sontak menyunggingkan senyuman di wajahku. Sesuatu yang mungkin sudah jarang

kuberikan untuk Tantrina.

Aku mulai menggaruk-garuk kepala dan mulai melap wajahku dengan tissue. Tantrina yang

melihatnya langsung bertanya padaku, “Mau keramas dan cuci muka nggak Dit?”

“Mau Tan.. tapi tangan gue diinfus gini, gimana?” tanyaku bingung.

“Lo berdiri sambil nunduk gitu. Nanti gue yang cuciin kepala sama muka lo. Ketombe lo

udah banyak berjatuhan gitu.” ucapnya sambil mengambil bubur dan lauk untuk menyuapiku

lagi.

“Tan, makasih ya..” ucapku lirih. Ada rasa tidak enak yang menderu hatiku. Perbuatanku

yang tidak baik terhadap Tantrina hanya karena sikapnya yang tidak bisa aku

konfrontasikan, padahal ia sudah sangat baik terhadapku. Hidupku banyak berubah

semenjak mengenal dirinya. Tantrina kembali tersenyum lagi. Kali ini aku bisa melihat

kelelahan di wajahnya. Trina, aku rasa, aku mulai menyimpan rasa.

***

Dua minggu setelah aku menyampaikan perasaanku kepada Trina, semakin ada jarak di

antara kita. Aku mencoba lebih bersahabat dan peduli dengannya, namun ia hanya

tersenyum dan kebaikanku terpental begitu saja. Ia selalu menolak kebaikanku, membuatku

bingung sehingga aku memutuskan untuk bertemu dengan Kevin dan Valen yang notabene

juga mengenal Trina. Kami bertiga pun melakukan panggilan video dengan Cecilia, sahabat

Trina yang berada di New York.

“Sil, Trina nggak ada ngomong apa-apa sama lo?” ucapku kepada Cecil. Ada kegusaran di

wajahnya. Valen dan Kevin pun begitu. Seperti ada rahasia yang disembunyikan oleh

mereka bertiga mengenai Trina.

***

“Kenapa? Soal lo nembak dia? Ngapain sih Dit, kan taun lalu lo udah nolak dia. Lo kayak orang tolol yang jilat ludah lo sendiri deh.” ucap Cecil menghujam jantungku. Yep, benar adanya. “Yah, sekarang lo pikirin aja perasaan Trina. Apa aja yang udah lo lakuin ke dia, seberapa jahatnya lo sama dia dari tahun lalu. Trina itu terlalu baik buat lo yang brengsek,

Dit.” ucap Cecil tanpa ada rasa bersalah sama sekali.

Ada keheningan di antara kami berempat, sampai Valen akhirnya angkat bicara. “Trina sayang sama lo Dit, tapi dia nggak bisa sama lo karena dia udah sama Timothy.”

“SEJAK KAPAN?” ucapku terkejut. Trina yang begitu memperhatikanku dan terlihat

menyayangiku seperti kekasihnya, ternyata sudah memiliki orang lain yang ia cintai di

tempat ia menempuh pendidikan magisternya.

“Semenjak awal Maret kemarin, Dit. Dua minggu dia pacaran sama Timmy, lo masuk rumah

sakit dan dia murni bantuin lo karena disuruh sama direktur kita.” ucap Valen sambil

menunduk.

“Trina baik selama perawatan lo, karena dia udah anggap lo seperti kakaknya

sendiri.”

“Ya, lo telat Dit.” tambah Cecil. Ada keterkejutan dan kesedihan yang tercampur aduk di

dalam perasaanku. “Timothy nggak sekedar pacarin Trina. Awal Agustus nanti, Trina

lamaran Dit.”

“Trina nggak pernah cerita soal dia sama Timothy sama lo, karena jarak yang lo buat sama

dia begitu jelas. Garis yang lo buat ketika lo marah sama dia, benar-benar membuat dia

nggak ingin cerita ataupun menganggap lo lebih dari sekedar teman kerja, Dit.”

***

“Bersamamu yang kumau namun kenyataannya tak sejalan. Tuhan bila masih ku diberi

kesempatan, izinkan aku untuk mencintanya. Namun bila waktuku telah habis dengannya,

biar cinta hidup sekali ini saja…” Glenn Fredly – Sekali Ini Saja.

Trina, maaf. Aku menyesal.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru