Wednesday, October 16, 2019
Home > Cerita > Cerita Bale-Bale > Sepi itu Membunuh

Sepi itu Membunuh

Sepi itu Membunuh

Sepi itu Membunuh (suatuwaktu.wordpress.com

Kesepian itu membunuh. Demikian kesimpulan studi psikologi peneliti Brigham Young University, yang dilansir di jurnal Perspectives on Psychological Science, yang dikutip majalah Time di terbitan 20 Maret kemarin.

Kesepian, rasa sepi, terkucil dari masyarakat, diyakini sudah menjadi pembunuh yang sama bahayanya dengan kegemukan dan penyalahgunaan obat terlarang. Oleh karena itu kesepian sudah menjadi masalah kesehatan publik. Artinya, tanggungjawabnya sudah masuk ranah pemerintah. Dipikirkan, dicarikan solusi agar masyarakat tidak semakin sakit.
Sepi bukan lagi urusan individu, walaupun kesepian sering disebabkan sikap individualistis, egois, mau menang sendiri. Di negara-negara maju, ada pengaruh teknologi dalam menciptakan timbulnya kesepian. Misalnya saja ponsel pintar yang membuat seseorang asyik dengan dirinya sendiri dan tidak peduli lingkungan. Semua bisa dilakukan berkat bantuan alat canggih itu: memasan makanan, mengunduh musik dan lagu, berbincang dengan teman, ngerumpi lewat grup BBM, pamer diri dengan foto di instagram, whatsapp dll.
Dia seperti berkomunikasi tetapi sebenarnya dia terkurung baik secara fisik maupun psikis. Tidak ada proses tatap muka, berpandangan, saling tertawa, atau menikmati suasana segar di ruang terbuka.
Di samping itu individualitas tercipta karena sebagian besar generasi muda di AS misalnya, mulai dari kuliah sampai bekerja hidup sendiri di apartemen. Demi privacy, tidak mau lagi bergabung dengan keluarganya. Di satu sisi mungkin dia lebih bebas: menjalani hidup sesuai nilai-nilai yang dianggapnya paling cocok, bebas menerima tamu, atau melakukan kegiatan sesuai keinginannya seperti bermusik, mendekorasi kamar dsb. Di sisi lain, dia kehilangan kehangatan keluarga, dan juga orang yang bisa dimintai tolong kalau ada masalah, kehilangan sandaran.
Beruntunglah kita di Indonesia memiliki adat yang berbeda dengan di Barat sana, meskipun suasana individualisme sudah terasa khususnya di kota-kota besar, terutama Jakarta dan sekitarnya. Banyak sekali orang Jakarta dan pinggiran yang karena alasan kemacetan lalu lintas kini memilih menyewa atau membeli apartemen di tengah kota. Karenanya pertumbuhan apartemen juga besar sekali, termasuk terbesar dibandingkan kota-kota lain di dunia.
Gaya hidup apartemen ini memang sangat menjaga privasi, seseorang sulit untuk mengetahui siapa tetangganya, kecuali secara kebetulan jumpa di lift atau tempat parkir. Besarnya individualisme membuat kita mendengar berita beberapa kali apartemen dijadikan sebagai pabrik membuatan narkoba. Sebab penghuni tidak tahu apa yang dikerjakan tetangganya.
Di perumahan mewah pun hal serupa terjadi. Banyak yang tidak kenal tetangga. Khususnya mereka yang tidak mau bergaul, pergi ke luar dan datang ke rumah pada waktu yang tidak pas, tentu akan sulit untuk bertemu tetangga. Pagar yang tinggi, dengan alasan keamanan, membuat apa yang terjadi di sebelah, tidak teramati. Ini tentu berbeda dengan suasana sampai tahun 1980-an, ketika kebanyakan orang masih tinggal di perkampungan meski di tengah kota, sehingga di pagi hari saat akan bekerja atau pulang kerja, akan saling bertegur sapa dengan tetangga, entah di depan rumah, di jalan dan gang, atau di warung-warung.
Keadaan itu membuat orang merasa punya teman ngobrol, saling menceritakan kehidupannya—tentu tidak yang bersifat rahasia–, dan ini menjadi pelepasan, menimbulkan rasa lapang dada karena uneg-uneg yang menjadi ganjalan sudah keluar. Saling berbagi cerita, berbagi suka duka tentu memiliki efek negatif juga karena kadang ada kesan “ikut campur” urusan orang, bahkan ketika kita ingin memendamnya sendiri. Tetapi tentu saja lebih banyak efek positifnya dari sisi psikologis. Keadaan masyarakat kita yang memiki berbagai cara untuk berkumpul, seperti arisan, pengajian bersama, reuni, adalah kelebihan masyarakat yang suka guyub, suka gotong royong.
Di masyarakat kota dan generasi muda, keinginan untuk menyendiri, hidup eksklusif, tidak mau dicampuri pihak lain termasuk keluarga, sudah menjadi fenomena. Ini menjadi alarm bagi kita khususnya keluarga. Harus ada kesadaran bagi keluarga induk untuk tetap menjalin hubungan, apalagi di agama Islam misalnya silaturahmi tidak hanya dikaitkan dengan membina komunikasi bahkan juga kelancaran rezeki. Makin banyak bersilaturahim, diyakini rezeki seseorang akan makin mudah datang. Jadi, tidak ada alasan untuk menutup diri.
Kemajuan teknologi pun kalau disikapi dengan bijak tidak akan menimbukan orang-orang yang kesepian, karena semua toh sekadar alat sebab semua tergantung manusianya, the man behind the gaun. Sama seperti pisau yang bisa sangat bermanfaat tetapi di sisi lain juga menjadi senjata pembunuh yang berbahaya.
Tentu saja sesekali kita perlu menjalani sepi, seperti iktikaf di masjid, untuk menjalin hubungan intens dengan Sang Khalik, untuk semakin meyakini nikmat dan karuniaNya, di tengah hiruk pikuk kehidupan yang kadang membingungkan. Sepi yang seperti ini tentu melahirkan kembali jiwa yang bergairah, bukan menyebabkan kehilangan kendali. (Bung Hen)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru