Tuesday, November 12, 2019
Home > Cerita > SEPATU

SEPATU

“Kita adalah sepasang sepatu, selalu bersama tapi tak bisa bersatu…” sebuah lagu dari Tulus dengan judul Sepatu ini, melantun di radio pada mobil Andara.

Aku yang mendengar lagu ini, hanya bisa menghela nafas. Sementara Andara, ia hanya bisa tersenyum simpul melihat sikapku sambil menyetir menuju makam almarhum orang tua kami. Sepertinya, ia mengerti apa yang sedang ada di dalam kepalaku.

Minggu lalu, kami berdua memutuskan untuk ke makam orang tua masing-masing, yang memang satu taman pemakaman, hanya saja beda beberapa blok. Dan entah mengapa, dalam perjalanan ini, lagu tersebut melantun dengan seenaknya di radio, membuat aku dan Andara menjadi canggung.

“Boleh ganti nggak radionya?” tanyaku kepada Andara yang saat ini sedang mencoba mengambil recehan untuk membayar tol pada laci dekat dashboard mobil. Ia yang mendengar pertanyaanku, hanya menganggukan kepalanya. Tanda ia setuju untuk mengganti channel pada radio tersebut.

Aku lalu menggantinya pada satu channel yang biasa aku dengarkan dalam perjalanan menuju kantor atau tempat bertemu dengan klien. Dan channel pada radio tersebut sedang memutar lagu dari Coldplay.

“Nah, kalau ini kan lebih enak.” Ucapku pelan membuat Andara bertanya.

“Kenapa? Suka banget sama lagu ini emangnya?” tanyanya ketika ia telah selesai membayar uang tol dan kembali menyetir menuju pemakaman.

“Nggak juga sih, seenggaknya bukan lagu yang tadi.” Jawabku seadanya sambil memperhatikan jalanan. Aku sedikit tak bisa melihat ke arah depan, maupun ke arah Andara.

Sedikit canggung dan akan terlihat rona wajahku yang memerah.

“Oh, kirain karena apa.” Jawabnya singkat juga lalu kembali terfokus untuk menyetir di tol.

Dan aku, kembali terfokus dengan jalanan dan pikiranku yang sepertinya melayang terlalu jauh kepada masalah yang sebenarnya terbentang di antara kami berdua.

                                                                  * * *

Menginjak usia 23 tahun, lelaki yang bernama lengkap Andara Leviathan itu, kini sedang mengikuti pelatihan untuk menjadi pilot di Jakarta. Ia sengaja mengajakku untuk bertemu beberapa bulan ini. Karena, ketika hari ia akan bekerja sebagai pilot sebenarnya – kurang lebih sekitar setengah tahun lagi-, maka kesempatan kami untuk bertemu semakin jarang.

Entah apa yang ada di kepalanya, untuk mengajakku selalu bertemu di akhir pekan.

Meskipun tak rutin selama empat bulan terakhir -entah karena aku yang terlalu sibuk dengan urusan kantorku atau karena Andara tak bisa keluar-tetapi, ia tetap bersikukuh untuk menyempatkan bertemu. Entah ia mendatangi rumahku untuk sekedar berbicara sembari menyantap makanan yang ia bawa, atau sekedar menemaniku bekerja dari rumah dan ia akan menonton TV.

Sementara itu, ada baiknya aku memperkenalkan diriku. Namaku Athika Khairunnisa.

Biasanya, orang memanggilku Athika. Tetapi, khusus keluargaku sendiri, mereka biasa memanggilku Icha. Dan aku tidak begitu suka, jika ada orang luar yang memanggil dengan nama rumahku. Menyebalkan!

Kesibukanku tidak lain hanyalah mengurusi satu bisnis kecil dan satu perusahaan besar yang keduanya dibangun bersama teman-teman semasa perkuliahanku. Meski pada awalnya aku tidak menyangka, tetapi toh dijalani juga. Dan karena hal inilah, aku terlalu sibuk dan terkadang tidak bisa menyempatkan akhir pekan untuk bertemu Andara -untuk diri sendiri saja tidak ada, bagaimana untuk orang lain?

                                                                      * * *

Setelah urusan dengan pemakaman selesai, kami berdua memutuskan untuk melanjutkan pertemuan kami dengan makan siang di bilangan Kemang. Sebuah restoran yang mengkhususkan makanan pasta dengan harga bersahabat di kantong, menjadi pilihan kami.

Mataku tertuju pada Andara yang hari itu mengenakan kemeja hitam lengan panjang dan pas badan, dipadukan dengan jeans berwarna biru gelap dan sepatu Converse berwarna hitam.

Meski badannya tinggi sekali -kurang lebih sekitar 185cm- dan kakinya yang langsing, wajahnya masih seperti anak usia belasan.

“Cha?” tanya Andara ketika mendapatiku sedang melamun, setelah lelah menatap wajah dan penampilannya hari ini.

“Yes?” jawabku spontan. Andara hanya bisa tertawa kecil melihat sikapku.

“Kok malah bengong? Lagi bayangin siapa tuh?” tanyanya usil sambil menguraikan senyum lebar, hingga kawat giginya yang berlapis karet warna biru itu, terpampang jelas.

“Lagi mikirin kerjaan. Kebanyakan soalnya-” ucapku asal sambil mencoba mengambil telepon genggamku yang bergetar. “Tunggu sebentar ya, kayaknya ada telepon masuk deh,” lanjutku dan Andara hanya menganggukan kepalanya. Ia juga kontan mengambil telepon genggamnya dan menaruhnya di hadapanku, bersamaan dengan kunci mobilnya.

Setelah aku berhasil mengambil telepon genggamku, terlihat caller ID yang meneleponku saat ini. Levine. Aku yang melihatnya langsung menekan tombol decline.

“Kok nggak diangkat?” tanya Andara ketika ia sadar, aku menekan tombol menolak panggilan.

“Kebiasaan soalnya. Ini weekend tapi urusan kantor selalu aja mengganggu. Jadi decline aja deh.” Jawabku berbohong. Alasan utama adalah karena aku sedang bermasalah dengan manusia bernama Levine itu. Masalah personal di antara professional.

“Oh…” jawab Andara. “Cha, soal minggu lalu. Maaf ya. Aku nggak-” lanjut Andara yang segera kupotong.

“Nggak usah minta maaf. Nggak apa-apa kok.” Jawabku. Aku dan Andara terdiam untuk beberapa saat. Dan seketika, pikiranku melayang kepada hari Selasa pekan lalu.

Entah apa yang ada di pikirannya, Andara dengan lantang mengucapkan perasaannya sekali lagi kepadaku. Hal yang nggak pernah selesai-selesai dari zaman mereka SMA.

“Cha, salah nggak kalo aku sayang sama kamu?” tanya Andara ketika kami sedang duduk berdua di meja makan. Aku yang mendengarnya hanya menghela nafas.

“Salah ya?” tanyanya lagi. Aku yang sedang mencoba untuk mengunyah makanan, menjadi terdiam.

“Nggak salah kalau punya perasaan sama orang. Tapi apa nggak bisa menakar-nakar, siapa yang mau kamu sayang?” tanyaku padanya.

“Ya udah nyamannya sama kamu dari dulu.” Jawabnya singkat.

“Nyamannya dari dulu, terus nggak nyoba cari cewek lain?” tanyaku sambil bangkit dari kursiku dan menaruh piring pada bak cuci.

“Enggak.” Jawabnya singkat lagi.

Aku tahu, Andara memang selalu sendiri semenjak ia menyatakan perasaannya pertama kali kepadaku. Ia lebih suka menyibukkan dirinya di sekolah dengan pelajaran dan ekstrakurikuler basket & futsal. Dan ketika ada waktu senggang, ia lebih memilih jalan-jalan sendiri ataupun pergi bersama teman seangkatannya.

“Kenapa? Masih banyak pasti cewek yang mau sama kamu kok. Kenapa nggak dicoba aja?” tanyaku sambil mencuci piring dan gelas kotor yang cukup menumpuk di bak cuci ini.

“Hatiku masih untuk orang yang sama. Belum bisa berubah.” Jawabnya lagi. Aku yang mendengarnya hanya bisa menghela napas.

“Cha? Ngelamunin apaan lagi?” tanya Andara yang mendapatiku melamun untuk kedua kalinya.

“Kejadian minggu lalu.” Jawabku singkat. Andara yang mendengar jawabanku, sedikit terkejut.

“Nggak usah dipikirin lagi. I’m trying to get over you.” Jawabnya sambil menegakkan duduknya, menyadari bahwa pesanan kami sudah datang.

Pelayan tersebut menaruh makanan kami di meja untuk empat orang ini. Aku mencoba mengalihkan pikiranku dengan menghirup dalam-dalam wangi makanan yang kupesan. Tapi nampaknya, emosi ini mengalihkan nafsu makanku.

“Well, that’s good.” Jawabku melanjutkan pernyataan dari Andara. Meskipun sebenarnya, aku sedikit kecewa.

Ketika mencoba menyantap makanan kami, Andara memegang tanganku yang kebetulan berada di ujung meja. “Kepikiran bagian apanya, Cha?” tanyanya.

Aku yang terkejut mendapati Andara memegang tanganku dan menyerangku dengan pertanyaannya, langsung mengangkat wajahku dan mendapati matanya sedang menatapku dalam-dalam.

Aku melepaskan tanganku dari tangannya, dan memulai angkat bicara. “Aku nggak kepikiran. Cuma ngerasain ada beberapa hal yang nggak seharusnya aja.”

“Maksudnya?” tanya Andara lalu mengambil garpu dan menyendokkan fettuccini carbonara yang ia pesan tadi.

“Iya soal minggu lalu. Gimana kalau aku merasakan yang sama, ke kamu?” tanyaku kini mengejutkan Andara yang sedang menelan makanannya.

“I will be the happiest man ever.” Jawabnya lalu mengelap mulutnya dengan tissue yang berada di sebelah kanan meja. Lalu, diminumnya strawberry orange squash untuk melegakan tenggorokannya yang mendadak kering.

“Tapi meskipun merasakan hal yang sama, kita nggak bisa sama-sama.” Jawabku menyadarkan realita kepada Andara.

“Lalu, kita harus bagaimana?” tanya Andara. Aku yang mendengarnya, hanya bisa menghela nafas. Seketika, nafsu makanku menjadi hilang.

                                                                 * * *

Jalanan begitu padat sehingga membuat perjalanan yang biasa harus kami tempuh hanya 30 menit, kini bisa memakan waktu sekitar hampir dua jam. Andara yang terlihat letih menyetir, sesekali memegang tanganku yang selalu saja melihat ke arah luar mobil. Memandangi banyaknya mobil yang ingin sekali keluar pada akhir pekan. Aku hanya bisa tersenyum ketika ia menggenggam tanganku.

“Boleh nyalain radio nggak?” tanya Andara membuatku menolehkan kepalaku dari menghadap jendela mobil, lalu menatap wajahnya. Aku hanya mengangguk. Tangan yang ia gunakan untuk menggengam tanganku, kini ia pindahkan pada tombol untuk menyalakan radio.

Dan entah, apa rencana Tuhan hari ini, sebuah intro lagu dari Tulus dengan judul Sepatu tersebut, muncul lagi di radio. Kali ini, di channel kesukaanku. Andara yang mengetahui aku tidak begitu menyukai lagu tersebut, langsung menggantinya.

“Nggak usah diganti, nggak apa kok.” Jawabku lalu mengganti kembali ke channel favoritku tersebut. Lagu berjudul Sepatu tersebut, kini melantun dengan indahnya dalam perjalanan kami.

Dan Andara mencoba menyanyikan bagian refrain lagu tersebut. “Kita sadar ingin bersama, tapi tak bisa apa-apa.. Terasa lengkap bila kita bersama, terasa sedih bila kita di rak erbeda-” nyanyinya dengan suara yang sedikit ngebass dan aku yang mendengarnya hanya bisa tertawa.

“Iya iya, terus kita harus bagaimana dong?” tanyaku kepadanya yang sedang menyanyikan lagu tersebut. Andara hanya bisa tertawa. Dan ketika lagu tersebut ingin mencapai akhirnya, “Mungkin, ini jawabannya,” lanjutku lagi.

Andara yang mendengar ucapanku hanya bisa menunjukkan wajah yang kebingungan. Dan seketika aku menyanyikan bait terakhir lagu tersebut.

“Cinta memang banyak bentuknya. Mungkin tak semua, bisa bersatu-” nyanyiku sambil melihat ke arah Andara. Dan kami berdua hanya bisa tersenyum satu sama lain lalu tertawa geli.

“Seandainya kamu bukan anak dari adik tiri ayahku, mungkin apa yang aku impikan dari dulu untuk bersamamu, bisa terwujudkan untuk selamanya,” ucap Andara ketika kami berdua selesai tertawa, menciptakan keheningan selama perjalan pulang kami.

                                                               ***

Jakarta, Februari 2015.
(Penulis cerpen adalah Kartika Permata – mahasiswi Swiss Germain University, BSD City)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru