Friday, December 06, 2019
Home > Cerita > Sepak Bola Kita

Sepak Bola Kita

Sepak Bola Kita

Sepak Bola Kita (spirit.co.id)

Pasti di antara kita ada membaca di media cetak atau media digital ataupun menonton dan mendengarkan di televisi serta radio tentang persoalan sepak bola yang kini sedang hot. Yaitu perseteruan antara PSSI dan Kementeri Negara dan Pemuda Olahraga, yang berujung pada berhentinya kompetisi sepak bola profesional alias liga. 

Jadi pertandingan-pertandingan yang sudah dijadwalkan tidak lagi digelar karena berbagai persoalan. Awalnya karena sulit mendapat izin dan akhirnya PSSI membuat keputusan, menghentikan kompetisi sekalian.

Kompas membuat tulisan Kamis bagaimana nasib beberapa pemain profesional, sebagaimana juga banyak diberitakan media lain. Mereka menjadi pengangguran, kehilangan pendapatan, dan dibelit berbagai persoalan. Mulai dari terancamnya dapur, susahnya melakukan cicilan, mengurangi belanja yang tidak perlu, dan kalau tidak ada kompetisi berkepanjangan, ya dililit utang. Entahlah.

Tentu kita harus membayangkan bagaimana pemain yang sudah menghitung gaji bulanan, bonus, dsb tiba-tiba kehilangan pendapatan total.

Dalam sebuah diskusi ada yang mengatakan penghentian kompetisi adalah kejahatan ekonomi karena membuat ratusan ribu orang terkena dampak ekonomis di seluruh Tanah Air. Mungkin agak berlebihan, tetapi sudah pasti ada banyak yang merasakan langsung, mulai dari pembuat dan penjual kaus, tukang makanan di stadion, jasa sewa angkutan bagi pemain, dan berbagai jasa lain seperti laundry, hotel, catering, dll.

Tentu apa yang terjadi sekarang tidak berdiri sendiri, ada akarnya. Publik menyaksikan betapa persepakbolaan kita sudah lama aburadul. Kita mengetahui dari media ada pemain asing yang dikontrak klub meninggal dunia dalam kemiskinan karena gajinya tidak dibayar, ada pemain yang terpaksa berjualan agar bisa menutupi kekurangan uang, dan banyak kasus pemain yang tidak digaji berbulan-bulan.

Kita juga masih ingat sepakbola gajah dua klub yang berlomba-lomba ingin kalah sehingga menjebol gawang sendiri berkali-kali. Begitu juga isyu pengaturan skor yang banyak orang menyebutnya tetapi tidak pernah berani membuktikannya di depan penegak hukum, bukan hanya di pertandingan liga tetapi menyangkut tim nasional.

Upaya pemerintah dalam hal ini Menpora untuk membenahi keadaan itu tidak berjalan mulus karena komunikasi dengan PSSI tidak berjalan baik, seperti bertepuk sebelah tangan. Di satu sisi pemerintah merasa memiliki hak dan kewajiban melakukan perbaikan dan mencoba menegakkan aturan yang ada, di sisi lain PSSI merasa merekalah yang berhak mengatur diri sendiri sesuai dengan aturan organisasi olahraga internasional lainnya. Terjadi deadlock, walaupun dua pihak yakin mereka bertindak demi rakyat pencinta sepak bola dan demi bangsa dan negara.

Entah bagaimana hasil dari perseteruan ini akan berakhir. Tanggal 29 Mei dalam kongres FIFA sebagai induk organisasi sepakbola antarbangsa, soal ini akan dibahas, khususnya karena FIFA menganggap pemerintah mengintervensi. Bisa jadi PSSI akan diskors dan tidak boleh melakukan kegiatan internasional selama beberapa waktu. Walaupun kita akan bertanya kok kasus sepakbola gajah, ketidak-beresan pengelolaan klub yang membuat pemainnya sampai mati atau sengsara, tidak pernah berbuah teguran kepada PSSI dari FIFA. Ada apa? Kok hanya mengancam pemerintah dan memanjakan PSSI?

Apakah upaya perbaikan oleh pemerintah yang justu sebenarnya penegakan aturan (law enforcement) yang dibuat FIFA dan PSSI sendiri dianggap intervensi?

Ada yang berpendapat, lebih baik PSSI diskors saja agar sekalian dibenahi dari dasar, seperti membuat rumah baru. Dengan pengurus baru, aturan baru yang tegas sehingga klub tidak seenak perutnya dan pemangku kepentingan yang terlibat mafia sepakbola dihukum seumur hidup tidak boleh bergelut di sepakbola, agar PSSI menjadi milik rakyat dalam arti sebenar-benarnya dan bukan hanya menjadi bancakan kalangan elit, dengan kompetisi yang beraturan, pembinaan usia dini oleh klub, maka persepakbolaan Indonesia akan maju.

Tetapi ada yang mengatakan, politik bumi hangus terlalu berisiko karena seperti mengabaikan orang-orang yang mengandalkan hidupnya dari sepakbola dan tanpa bisa ikut serta dalam kompetisi dan kejuaraan internasional, akan membuat susah untuk start lagi.

Entahlah yang mana yang benar.

Saya sih hanya ingin agar prestasi Indonesia kembali disegani setidaknya di kawasan Asia dan pertandingan yang kita tonton di stadion atau televisi memang benar-benar dilakukan serius, fair play. Bukan menjalankan skenario para penjudi bola.  (Bung Hen)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru