Saturday, April 04, 2020
Home > Cerita > Senandung Hujan Cerpen Tika Permata

Senandung Hujan Cerpen Tika Permata

Senandung hujan

Senandung hujan (theindonesianwriters.wordpress.com)

Hujan rintik turun membasahi bumi yang telah lama kering oleh panasnya matahari di musim panas ini. Di stasiun kota, aku menunggumu kembali. Menunggu kereta datang silih berganti, mengharapkan sosokmu segera hadir di antara keramaian ini. 

Entah mengapa aku selalu merasa sepi, tanpa kehadiranmu di sini. Meskipun penduduk di sini begitu ramah kepadaku dan mampu melupakan kesendirianku, tetapi tanpamu aku hanyalah seperti butiran-butiran air hujan yang kini terus menerus turun di kota ini.

Setelah sekian menit aku menunggu, kereta yang kau tumpangi telah datang di stasiun antarkota yang bangunannya modern ini. Ratusan orang keluar dari kereta itu dan aku menunggumu dengan harap-harap cemas. Dan perlahan, di lintasan 3 tempat menunggu, aku melihatmu keluar dari gerbong nomor satu. Dengan gayamu yang khas, kau berjalan perlahan ke arahku. Namun kulihat, ada yang berbeda dari wajahmu.

“Selamat datang kembali!” jawabku menghampirimu. Kau hanya tersenyum simpul.
“Bagaimana kabarmu, sekembalinya dari negara tetangga?” tanyaku lagi.
“Baik-baik saja. Hanya saja, aku berharap ada sedikit matahari di sini. Nyatanya, sama saja ketika aku berada di sana…” jawabnya lirih sambil menenteng koper berukuran sedang.
“Yang penting kau selamat sampai di sini. Mungkin matahari akan menampakkan dirinya esok hari.” Jawabku mencoba positif. “Kau sedikit berbeda, ada sesuatu yang mengganggumu?” lanjutku lagi.

Kami berdua lalu berjalan ke arah halte bus. Namun nampaknya, hujan masih mendera kota ini dan semakin deras.
“Bagaimana dengan secangkir kopi di kafe itu?” tanyanya sambil menunjuk kafe kecil di sisi luar stasiun tersebut.
“Baiklah—apapun yang kau mau,” jawabku. “Lagipula, hujan nampaknya masih lama. Ada baiknya menunggu terlebih dahulu.”
Ketika kami berdua mengambil tempat duduk dan memesan kopi dan penganan kecil sebagai tambahan, ia kembali melamun memandangi hujan dari balik jendela di kafe tersebut.
“Ada yang mengganggumu?” tanyaku. Ia kemudian berpaling kepadaku.
“Tidak ada. Aku hanya lelah dengan hujan dan segala halnya,” jawabnya sambil menyeruput kopi hitam kental dari cangkirnya.
“Hujan selalu mengingatkanku akan hal-hal yang mengecewakanku.” Lanjutnya lagi sambil meraih croissant yang berisi tuna dan keju itu.

Aku hanya terdiam. Tak bisa aku membantah ucapannya. Ya dia tampaknya memang sedang kelelahan akibat perjalanan panjang berjam-jam yang juga pernah aku rasakan. Tetapi seketika aku seperti mendapat sebuah pencerahan.

“Pernahkah kau berpikir tentang hujan tidak pernah lelah, meski ia tau bahwa betapa sakit rasanya untuk jatuh ke bumi terus menerus?” ucapku sambil menatap wajahnya.
Kugenggam tangannya yang ia istirahatkan pada meja kecil berbentuk bundar ini.
“Mungkin harusnya kau seperti hujan, ia tak pernah takut untuk jatuh membasahi bumi ini, meski ia tau rasa sakitnya jatuh terhempas berkali-kali,” ucapku.

“Kau selalu saja bisa membuat hal negative menjadi positif.” Jawabnya sambil membalas pegangan tanganku dan tersenyum. Lesung pipit muncul di kedua pipinya.

“Tak selalu. Tetapi, ketika kau butuh hal seperti itu, aku berusaha untuk menjadi seperti itu.” jawabku sambil melihat ke arah luar jendela. “Hujannya sudah mulai reda, kau mau pulang sekarang?” tanyaku lagi.
Ia hanya mengangguk dan segera berdiri, merapikan bajunya.
Sembari mengangkat kopernya, ia mengulurkan tangan untuk membantuku berdiri.
“Mari, Tuan Puteri,” candanya seperti biasa. Mampu membuatku merona merah, ditambah udara dingin yang menerpaku. Lalu kami berdua berjalan menuju halte bus, dan menunggu bus yang akan berhenti tepat sepuluh meter dari rumah kami.
“Kau tau, apa yang aku suka dari hujan?” tanyaku kepadanya.

Ia yang sedari tadi menggenggam tanganku dan koper pada tangan sebelahnya, menengok ke arahku. Ia hanya memunculkan wajah penuh tanya. Aku mengarahkan wajahku kepadanya.

“Hujan itu sama sepertimu. Menghidupkan hatiku yang dulu sempat kering dan mati. Dan memberikan kedamaian, jika kau benar-benar menikmatinya,” jawabku sambil memeluk lengannya yang besar.
Ia hanya tertawa mendengar penjelasanku.

“Kau ini!,” balasnya lalu membalas pelukanku.
Pelukan yang mampu hangatkan diriku dari dinginnya hujan hari ini, hingga bus kami datang dan mengantar kami pulang.

Kau dengar itu hujan? Tak selamanya kau bencana. Bagiku, kau adalah sebuah keindahan Tuhan, bagi mereka yang mencintai ketenangan.

***

Mei 2015

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru