Wednesday, May 27, 2020
Home > Berita > SELAMAT JALAN LEGENDA SEPAKBOLA SOFYAN HADI Oleh: Yon Moeis

SELAMAT JALAN LEGENDA SEPAKBOLA SOFYAN HADI Oleh: Yon Moeis

Legenda sepakbola nasional Sofyan Hadi. (ist)

MENDUNG yang bergelantung di atas langit Kota Bogor, yang terlihat sejak pagi tadi, tak akan pernah mampu menghapus jejak sepatu Sofyan Hadi. Meski ia telah pergi, tuk selama-lamanya, jejaknya tetap tersimpan di hati orang-orang yang mencintainya.

“Sofyan Hadi telah pergi. Kita kehilangan pemain yang berdedikasi tinggi. Pemain yang rendah hati, santun, dan lebih banyak bekerja sebagai pemain, ketimbang bicara. Saya bersedih atas kepergian Sofyan Hadi,” kata Risdianto.

Sofyan Hadi adalah keindahan masa lalu sepak bola Indonesia. Dulu, dia berada di lapangan tidak hanya berjejak di dua kakinya, tapi juga pada hatinya.

Dia gelandang cerdas dan sulit dilewati. Ia mengambil bola dengan sempurna dan tak akan pernah ingin menyakiti lawan. Akurasi umpannya terjaga dengan baik. Ia kawan dan bisa menjadi lawan yang menyenangkan.

Sofyan Hadi – ia lahir di Tabanan, Bali, 17 April 1951 – telah tiada.

Dia mengakhiri perjalanan panjangnya di sebuah rumah, di kawasan Ciomas, Bogor. Sofyan Hadi melewati hari-harinya bersama istri dan cucu-cucu tercinta. Ia tak lagi leluasa bergerak seperti dulu. Hanya untuk melangkah, kadang-kadang ia harus bertumpu pada tongkat tuk menopang tubuhnya.

Kanker tulang belakang telah “menghentikan” langkahnya tuk pergi ke lapangan sepak bola.

Teringat ketika saya singgah ke rumahnya, sebelum kami bersama-sama berangkat ke Yogyakarta. Waktu itu, saya bersama Erwiyantoro dan teman-teman, mengelar Charity Games 2016, tuk Sofyan Hadi, yang kami gelar di Solo dan Yogyakarta.

Di Yogya, saya melihat dengan jelas keindahan sepak bola itu di wajah Sofyan.

Ia tak segera menyerah dan ingin meneruskan keindahan-keindahan sepak bola itu di kaki-kaki pemain sepak bola generasi penerusnya. “Suatu saat saya ingin kembali ke lapangan tuk melatih dan mendidik anak-anak Indonesia,” kata Sofyan.

Sofyan Hadi sangat mencintai sepak bola, dunia yang telah membesarkan namanya.

Perjalanan sepak bola Sofyan begitu indah, panjang, dan menyenangkan. Ia dikenal sebagai pekerja keras. Setelah gantung sepatu pada akhir 1983, ia dipercaya melatih Yanita Utama, klub Galatama yang bermarkas di Bogor, dan mengantar klub ini juara pada musim kompetisi 1984 dan 1985.

Setelah Yanita Utama bubar, dan berganti nama menjadi Kramayudha Tiga Berlian (KTB), pemilik klub tetap mempercayakan posisi pelatih kepada Sofyan.

Dengan materi pemain seperti Herry Kiswanto, KTB kembali merengkuh juara dua tahun berturut-turut pada 1986-1987.

“Saya pelatih yang bisa mengantarkan klub juara empat tahun berturut-turut pada kompetisi yang ketat seperti tahun itu,” kata Sofyan yang menjadi langganan pemain nasional sepanjang 1970 – 1983.

Sofyan tak pernah memperlihatkan sedang sakit dan merasakan sakit yang belum juga tuntas.

Wajahnya sejuk. Tutur katanya halus. Dia memperlihatkan kedamaian di hatinya.

Saya terdiam sejenak ketika Sofyan terlihat menahan air mata. Sore itu, Sofyan bercerita drama adu pemalti tim nasional Indonesia yang dikalahkan Korea Utara di Pra Olimpiade 1976.

“Jika Andjas Asmara bisa mencetak gol, Indonesia lolos ke Olimpiade,” kata Sofyan.

“Mungkin, karena Tuhan belum mengabulkan. Sehingga, kembali memilih penembak keenam. Dan, lagi-lagi Suaeb Rizal sebagai penendang keenam kembali melesat keluar. Runtuhlah tim nasional Indonesia lolos ke Olimpiade,” kata Sofyan.

Sofyan juga sempat sejenak membalik kenangan ketika bermain di arena Perserikatan, yang ia sebut kenangan yang sulit ia lupakan; Persija Jakarta vs Persebaya Surabaya di final PSSI Perserikatan 1978 dengan skor akhir 3 – 1 untuk Persija.

“Dua gol yang saya cetak, dari kaki yang berbeda, kanan dan kiri. Dan, dua-duanya dari jarak jauh sekitar 30 meter dari kotak penalti,” kata Sofyan.

Air mata Sofyan Hadi tertahan di pelupuk matanya. Ia berusaha tegar ketika mulai bercerita kanker tulang belakang yang ia derita sejak pertengahan 2015, yang membuatnya harus lebih banyak istirahat dan selama 10 bulan ia tidur dengan posisi menengkurap.

“Sakit sekali, selama itu saya merasakan sakit, tak tahan merasakannya,” kata Sofyan.

Bang Sofyan Hadi selamat jalan. Tidur nyenyak legenda. Kita pasti bertemu lagi di sana! (istiqom/dirham)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru