Wednesday, September 18, 2019
Home > Berita > Sekjen PBB: Krisis Rohingya ‘Kesempatan Terakhir’ Bagi Aung San Suu Kyi

Sekjen PBB: Krisis Rohingya ‘Kesempatan Terakhir’ Bagi Aung San Suu Kyi

Peta Myanmar dan Bangladesh. (Ilustrasi BBC News)

Peta Myanmar dan Bangladesh. (Ilustrasi BBC News)

Sejumlah orang yang melarikan diri dari Rakhine mengatakan kepada BBC awal bulan ini tentang pembunuhan, pemerkosaan dan bahkan pembantaian yang terjadi terhadap warga Rohingya. Sementara di  Rakhine, seorang awak BBC menyaksikan rumah-rumah hangus dibakar.

 

Mimbar-Rakyat.com (London) – Pemimpin de facto Myanmar, Aung San Suu Kyi, memiliki “kesempatan terakhir” untuk menghentikan serangan tentara Myanmar yang telah memaksa ratusan ribu orang Muslimin Rohingya melarikan diri ke luar negeri.

 

Sekjen PBB Antonio Guterres mengatakan kepada BBC bahwa jika dia tidak bertindak sekarang maka “tragedi akan sangat mengerikan”. Menurut dia, PBB telah memperingatkan bahwa serangan tersebut dapat menyebabkan pembersihan etnis.

Sementara pihak Myanmar, seperti dilaporkan BBC News, Minggu (17/9), mengatakan bahwa pihaknya (melakukan serangan) menanggapi serangan mematikan bulan lalu oleh militan dan menyangkal hal tersebut menargetkan warga sipil Rohingya. Militer, disebutkan, meluncurkan operasinya setelah serangan terhadap polisi di negara bagian Rakhine utara.

Dalam sebuah wawancara dengan program BBC HARDtalk menjelang Majelis Umum PBB pekan ini, Guterres mengatakan Aung San Suu Kyi memiliki kesempatan terakhir untuk menghentikan serangan tersebut.

“Jika dia tidak membalikkan keadaan sekarang, maka saya pikir tragedi itu akan sangat mengerikan, dan sayangnya saya tidak melihat bagaimana ini bisa dibalik di masa depan.” Sekretaris Jenderal PBB itu menegaskan bahwa Rohingya harus diizinkan pulang ke rumah mereka.

Dia juga mengatakan bahwa militer Myanmar “masih berada di atas angin” di negara tersebut, menekan “untuk melakukan apa yang sedang dilakukan di lapangan” di Rakhine.

Aung San Suu Kyi – peraih Nobel Perdamaian yang menghabiskan waktu bertahun-tahun di bawah tahanan rumah di Myanmar yang dikelola junta (Burma) – sekarang menghadapi kritik terus menerus mengenai isu Rohingya.

Dia dipastikan tidak akan menghadiri Majelis Umum PBB di New York, dan telah mengklaim bahwa krisis tersebut sedang terdistorsi oleh “gunung es yang sangat besar dari kesalahan informasi”. Dia mengatakan ketegangan sedang dikipasi berita palsu yang mempromosikan kepentingan teroris.

Perkosaan

Pada tanggal 25 Agustus, militan Rohingya menyerang pos polisi di Rakhine utara, menewaskan 12 petugas keamanan. Alasan itu membuat militer Myanmar melakukan balasan dengan tindak kekerasan yang terkonsentrasi di daerah Rakhine.

Masyarakat Rohingya yang telah meninggalkan Myanmar sejak saat itu mengatakan militer menanggapi dengan sebuah kampanye yang brutal, membakar desa-desa dan menyerang warga sipil untuk mengusir mereka.

Rohingya, minoritas Muslim di Rakhine telah lama mengalami penganiayaan di Myanmar, yang dituding merupakan imigran ilegal. Sejumlah orang yang melarikan diri dari Rakhine mengatakan kepada BBC awal bulan ini tentang pembunuhan, pemerkosaan dan bahkan pembantaian yang terjadi terhadap masyarakat Rohingya. Sementara di  Rakhine, seorang awak BBC menyaksikan rumah-rumah hangus dibakar.

Sebuah laporan Human Rights Watch  yang dirilis Jumat lalu menuduh militer Myanmar melakukan “kampanye pembersihan etnis” dan sejumlah besar desa yang ditargetkan dengan serangan pembakaran.***(janet)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru