Sunday, January 26, 2020
Home > Cerita > Secangkir Kopi Hitam

Secangkir Kopi Hitam

NAMANYA Maryam. Mengingatkan pada wanita mulia di zaman nabi yang biasa diperdengarkan ibuku menjelang tidur. Aku berjumpa dengannya di sebuah warung paling sederhana, pada salah satu sudut Negeri Jiran. Meski hanya berdinding plastik dan terlihat darurat, standar kebersihannya terjaga. Ketika duduk di sana, akan sangat mudah bertemu para pekerja kasar dari negeri sendiri. Menguping cerita mereka atau sesekali mengobrol membuatku mengetahui suka duka menjadi buruh migran di negeri jauh.

            Tinggal di apartemen berlantai empat, Maryam harus berbagi dengan sesama pekerja lainnya. Tapi betapa terkejutnya ketika ia mengatakan harus membaur bersama sembilan orang kawan. Tentu saja penuh sesak. Ruangan berkamar tiga tentu bukanlah tempat yang nyaman diisi banyak kepala. Namun, ia berkelit demi menghemat penghasilan agar dapat menyisihkan untuk keluarga di tanah air.

            “Saya udah terbiasa, Mas. Toh, kami hanya numpang tidur dan pagi-pagi harus berangkat kerja lagi,” dalihnya ketika aku menanyakan situasi rumahnya.

            “Memang boleh sama pengelola apartemen?”

            “Mereka tidak peduli. Sepanjang bayar sewa tidak telat.”

Wanita bertubuh besar berkulit putih, pemilik warung adalah orang Jawa Timur berparas ramah. Tak sekali pun ia terlihat duduk istirahat. Penggorengan besar silih berganti terisi adonan bakwan, pisang goreng dan irisan tempe berukuran lebar. Tangannya sangat cekatan seolah telah menggeluti pekerjaan itu selama bertahun-tahun. Kenyataannya memang begitu.

            “Lama tak nampak. Mas kemana saja?” sapaannya membuatku melebarkan senyum.

            “Ada. Biasa. Masih sibuk dengan kerjaan,” mataku mengedari sekeliling. Jusco, sebuah mal berukuran sedang terlihat dijejali pengunjung. Tak satu pun parkiran kosong. Sementara satu lagi di sebelah kanan terlihat biasa saja. Giant memang biasanya ramai di sore hari. Bila akhir pekan datang, teman-teman kadang berkunjung sekadar berburu film-film bagus, atau berbelanja mingguan. Mereka penyuka makanan cepat saji dan tidak betah duduk di warung tak berpendingin. Aku secara tak sengaja menemukan warung ini, karena bengkel langganan tempatku mengganti oli mesin, berada tepat di seberang jalan.

            “Bagaimana rasanya kuliah lagi, Mas?” celetukan Maryam membuatku menengadah.

            “Biasa saja. Memang kamu kuliah di mana dulu?” Di luar dugaanku, Maryam ternyata lulusan fakultas sastra, salah satu universitas swasta di Bandung.

            “Kenapa sampai harus kerja di sini?” Senyumnya memikat. Matanya menyimpan misteri serupa kedalaman laut. Ia terlihat cerdas dibanding pekerja yang kerap kutemui. Bicaranya teratur dan jelas dipahami.

            “Suatu saat, saya akan menemui Mas. Saya ingin bicara banyak.” Ia mencatat nomor teleponku dan beranjak pergi.

            Gerimis membasahi pelataran saat Maryam benar-benar datang menemuiku. Wajahnya ikut tersaput mendung.

            “Ada apa?” kuhela tangannya dan mengambil tempat duduk di sudut kafe kampus yang sepi. Pengunjung hanya tersisa satu dua. Sore hari memang bukan waktu tepat buat mencari makan. Meski berstatus bukan mahasiswi, sikapnya wajar dan tak canggung sedikit pun.

            “Saya ke sini bukan untuk bekerja seperti kawan-kawan lain. Empat bulan lari dari rumah,” tak ada kepura-puraan dalam nada bicaranya. Aku menunggu kelanjutan cerita itu.

“Saya menikam suami dan lari menghindar kejaran polisi dan keluarganya.”

            Aku hampir terlonjak mendengarnya. Bagaimana mungkin Maryam bisa melakukan itu? Sosoknya santun dengan tubuh sedikit ringkih.

            “Bagaimana bisa?” tanyaku hati-hati.

            Wanita ternyata mampu melakukan hal-hal di luar kesadaran ketika ambang batas pertahanan, bobol oleh rasa sakit. Terlahir dari keluarga berada, Maryam dibekali pendidikan cukup memadai dari kedua orang tuanya. Nasib dan jodoh mempertemukannya dengan Harris. Penjudi dan pemabuk ulung yang memberinya sepasang anak kembar.

            Ketika telah habis barang terjual, Maryam dan kedua anaknya harus hengkang dan terusir dari rumah pemberian orang tuanya. Entah bagaimana caranya, Harris telah menjual rumah itu tanpa sepengetahuan istrinya. Ketika debt collector berbadan besar mendatangi dengan tangan berkacak pinggang, Maryam luruh tak berdaya. Betapa Harris menjejalinya penderitaan demi penderitaan sementara Maryam tidak bekerja, karena waktunya tersita untuk mengurusi anaknya.

            “Andai hanya mabuk dan judi, alasan itu tak cukup untuk menikamnya,” suaranya sekering dedaunan yang terhempas angin selatan.

            “Reaksimu juga berlebihan, Maryam. Mengapa kau tak bisa menahan diri?” kureguk sajian Arabian Tea di gelas bening berukuran kecil. Kehangatannya mampu menawar kegetiran dan rasa dingin. Hujan masih menari. Limpahan air di teritis memperdengarkan musik sendu dan menyelinap ke palung tersepi di jiwa.

            Air matanya menetes. Aku bahkan melihat jelas terhirup di ujung bibir. Terdiam lama seolah aku hanya benda mati, Maryam melewatkan menit demi menit tanpa bicara. Aku menunggunya menenangkan diri. Ada rasa miris bercampur iba memandanginya. Rambut panjangnya mencapai pinggang. Wajahnya serupa kepolosan anak kecil tak berdosa.

            “Aku balik dulu, Mas. Hujan sudah reda,” perlahan Maryam berdiri. Tas hitamnya dicantolkan di pundak.

            “Ceritamu belum kelar, Maryam. Aku menunggu kelanjutannya,” aku ikut tegak dan meraih kunci kontak. “Kuantar kau pulang.”

            “Tidak sekarang. Aku belum siap,” jawabnya tanpa keraguan.

            Meski kadangkala perempuan sulit dimengerti, bayangan perlakuan lelaki yang menikahi Maryam membuatku berpikir keras. Bila judi dan mabuk berkepanjangan bukan alasan tuk mencederainya, sefatal apa kesalahannya? Maryam bukanlah tipikal pembohong. Aku membaca kejujuran di raut mukanya.

            Kesibukan menyeret pada aktivitas tak berkesudahan. Tenggelam dalam tumpukan tugas, menghadirkan jeda untuk mengingat permasalahan yang dialami Maryam. Seribu satu problema anak manusia mewarnai peradaban. Pikiranku menerka-nerka, tentang kegetiran hidupnya. Hingga suatu hari, kembali ia terduduk di depanku.

            “Aku harus kembali, Mas. Anak-anakku butuh ibunya,” ketegarannya mengagumkan.

            “Apa kau siap bertanggung jawab?” kutatap wajah tirusnya. Wanita kadangkala sangat tangguh di luar perkiraan. “Pikirkan secara jernih dan tak terburu-buru, Maryam.”

            Tiga centimeter badik tajam menancap jantung, nyawa Harris tak tertolong. Setiap perbuatan memiliki konsekwensi dan Maryam sangat menyadari itu. Tapi belum kelar semua cerita tentang alasan paling logis untuk melenyapkan satu denyut nadi, aku menggugat pengakuan.

            “Apalagi yang diperbuatnya padamu?”

Bus pekerja berwarna biru berlalu tanpa penumpang. Maryam mengamatinya getas. Tiga empat bulan bekerja pada sebuah kilang di kawasan industri Pasir Gudang, ia menunjukkan kesungguhannya sebagai ibu. Secara rutin, ia mengirimnya ke tanah air. Susu anaknya hanya boleh terbeli dari hasil keringat halal yang diperas sekuat tenaga. Saudara perempuan Maryam memegang teguh pesan itu dengan sungguh-sungguh.

            “Kau perempuan kuat, Maryam,” tanpa sungkan, aku mengapresiasi keteguhannya.

            “Hidup menuntut seperti itu. Tak ada jalan lain, bukan?”

            Berbeda dengan wanita yang pernah kutemui, Maryam ternyata sangat realistis. Bila makhluk cantik bernama perempuan biasanya mengedepankan perasaan dibanding logika, Maryam sedikit lain.

            “Apa kau siap dengan segala konsekwensi? Penjara misalnya?” Secangkir kopi hitam tanpa ampas melesat membasahi tenggorokan. Pahitnya tertinggal di langit-langit.

            “Sekelam apa hidup dalam penjara?” Pertanyaan itu tak mampu kujawab. Maryam menandaskan kopinya tanpa sisa.

            Tak mungkin menghiburnya dengan mengatakan hal-hal manis dalam bui. Meski berteman dengan segala macam karakter dan profesi, tidak pernah terdengar ada hal mengenakkan bila kemerdekaan terpasung. Hukum rimba, peredaran narkoba atau bermacam kekerasan seksual bagai siklus yang sulit dideteksi. Seorang alumni penjara, sahabat karibku, menghabiskan sebelas tahun di kamar berjeruji besi itu. Bila jam berkunjung tiba, aku kadang meluangkan waktu berada di sana. Para istri membawakan makanan kesukaan suaminya, ibu yang menangis mendekap anak lelakinya dan cerita tentang pemerasan oleh oknum tak jelas.

 

       “Hidup adalah tanggung jawab, Maryam.” Kutatap matanya sungguh-sungguh.

       “Saya mengerti,” senyumnya setegar Srikandi di pewayangan.

       “Kau belum cerita tentang kesalahan terbesarnya. Aku siap mendengar.”

       “Ia meniduri ibuku. Mati untuknya adalah yang terbaik.”

Hening melingkup bumi. Langit mencurahkan air hujan. Sederas-derasnya. ***

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru