Sunday, September 22, 2019
Home > Gaya Hidup & Kesehatan > Sean Gelael, Rio Haryanto dan Puasa Atlet Oleh A.R. Loebis

Sean Gelael, Rio Haryanto dan Puasa Atlet Oleh A.R. Loebis

Rio Haryanto dan Sean Gelael. (tribunnews)

MIMBAR-RAKYAT.com (Jakarta) – Bertepatan dengan bulan suci Ramadan 1437 H, Sean Gelael akan membalap GP2 di Sirkuit Baku City di Azerbaijan pada 17-19 Juni 2016 dan di Red Bull Ring Austria pada 1-3 Juli dan setiap tahun ia mengalami hal seperti ini. 

Pada 2015, pebalap dari Jakarta itu membalap di Red Bull Ring, Austria, sebagai putaran kelima Kejuaraan Formula Renault 3.5, bertepatan dengan masa puasa Ramadan.  Pada Ramadan  tahun sebelumnya, Sean berlomba di Moscow Raceway.

Dua pemuda Indonesia, Sean Gelael dan Rio Haryanto, yang menekuni kancah balap internasional, dikenal amat alim dalam menjalankan perintah agama.

Rio membalap F1 saat Ramadan pada 12 Juni 2016 di  GP Kanada (Sirkuit Gilles Villeneuve), 19 Juni di GP Eropa / Azerbaijan (Sirkuit Baku) dan pada 3 Juli di GP Austria (Red Bull Ring).

Nah, puasa sudah menjadi kebiasaan dan diketahui umum, dapat dilakukan siapa pun, termasuk para atlet. Ada atlet yang mengganti puasanya pada bulan lain, ada pula yang tetap menjalankan ibadah  itu kendati sedang berlaga, tergantung dari cabang apa yang digelutinya.

Ini pernah dimasalahkan pada Olimpiade London yang bertepatan dengan Ramadhan.  Para ahli medis mengatakan, – tertera pada artikel penulis “Sean dan Puasa Atlet” 2015 – secara teoretis pengurangan asupan makanan selama Ramadan mengurangi kinerja hati dan cadangan  glikogen dalam otot. Kondisi ini berpotensi menyebabkan penurunan kinerja, terutama dalam olahraga yang membutuhkan kekuatan otot (termasuk balapan).

Mengantisipasi potensi masalah ini, kelompok kerja International Olympic Committee’s (IOC) mengadakan pertemuan pada 2009 untuk mengkajinya. Mereka sampai pada kesimpulan bahwa puasa Ramadan bisa menjadi masalah bagi beberapa atlet dalam beberapa cabang olahraga, namun, dampak keseluruhan masih belum jelas.

Ronald Maughan, seorang ilmuwan olahraga dari Loughborough University Inggris yang memimpin kelompok kerja IOC, setuju beberapa perubahan fisik mungkin akan terjadi tapi ia juga mencatat bahwa selama bulan suci, manfaat disiplin mental dan spiritual mempunyai efek yang tidak boleh diremehkan.

“Beberapa atlet Muslim mengatakan mereka tampil lebih baik selama bulan Ramadan bahkan jika mereka berpuasa mereka lebih terfokus dan karena itu waktu yang sangat spiritual bagi mereka,” katanya, “Iman mereka memberi mereka kekuatan dan Ramadan merupakan bagian integral iman itu.”

Maughan memimpin tim ilmuwan meneliti lebih dari 400 artikel penelitian tentang Ramadhan dan efeknya bagi para atlet. Mereka menemukan bahwa “tanggapan yang sebenarnya cukup beragam, tergantung pada budaya dan tingkat individu dan jenis keterlibatan sang atlet.”

“Seringkali ada sedikit penurunan kinerja, khususnya dalam kegiatan yang membutuhkan kontraksi otot yang kuat dan atau berulang,” demikian penjelasan dalam British Journal of Sports Medicine (BJSM).

Dalam konteks ini, misalnya saja pada kinerja gerakan olahraga singkat yang umum (seperti lompat jongkok atau skuat, gerakan pemanasan intens yang statis maupun dinamis, kontraksi pada saat angkat beban, dll) atau pada olahraga berdurasi sangat pendek (misalnya lari 5 meter, 10 meter, 20 meter, dll) akan tetap merekomendasikan latihan maksimal yang dipertahankan selama bulan Ramadan.

Tapi pada sudi lainnya, disebutkan puasa Ramadan berkontribusi pada penurunan kapasitas aerobik, ketahanan, dan kemampuan untuk melakukan latihan pada 75% dari maksimal VO2 max.

Pada atlet sepakbola, ada juga studi yang dilaporkan adanya penurunan dalam komponen umum kebugaran (kecepatan, kelincahan, dan daya tahan) dan uji keterampilan individual (seperti dribel) pada saat berpuasa.

Sepakbola tidak selalu sama dengan olahraga lain, alasan penurunan tersebut mungkin akibat dari kurangnya asupan cairan dan makanan, ditambah juga berkurangnya jam tidur, di mana kemudian akan berdampak pada kelelahan.

Sedangkan penelitian lain pada 2008 menunjukkan tidak ada dampak jelas dalam kecepatan, kekuatan, kelincahan, daya tahan, dan keterampilan individual pada saat puasa Ramadan. Bahkan pada studi lainnya ditemukan bahwa puasa Ramadan tidak mempengaruhi kinerja fisik atlet, kinerja sebenarnya malah meningkat.

Ada lagi penelitian yang dilakukan untuk menyelidiki dampak puasa Ramadan pada kekuatan anaerobik, kapasitas anaerobik, dan tingkat penghapusan laktat (indikator kelelahan, biasanya berupa rasa pegal) pada pelari, pelempar (atletik), dan pegulat.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa puasa Ramadan tidak menghasilkan dampak buruk pada komposisi tubuh, kekuatan anaerobik, kapasitas anaerobik, dan metabolisme asam laktat selama, dan setelah latihan intensitas tinggi jika tidak ada perubahan total asupan kalori harian (makanan dan cairan), dan tidak ada perubahan total jam tidur, atau jika semuanya dipertahankan seperti sebelum Ramadan.

Pada  Olimpiade 2012 di London, Uni Emirat Arab memperkenankan tim sepak bola tidak berpuasa saat harus menjalani kompetisi.

Mereka diberi keringanan untuk membayar utang puasa di hari lain. “Tidak akan ada tekanan pada pemain untuk berpuasa sejak Mufti  Besar Dubai Sheikh Ahmed Al Haddad mengatakan pemain yang tidak berpuasa dapat menggantinya setelah pertandingan,” kata pelatih sepak bola Olimpiade UEA, Mahdi Ali ketika itu.

Putaran kedua Piala Dunia 2014 di Brazil, juga dilaksanakan dalam bulan Ramahan dan sebagian pemain Prancis, Jerman, Swiss, Belgia, Aljazair dan Nigeria beragama Islam, sehingga mereka menghadapi pilihan sulit antara menjalankan ibadah puasa atau bermain sepak bola.

Tapi badan sepak bola dunia FIFA dengan tegas mengatakan mereka sudah melakukan kajian mendalam tentang atlet sepak bola yang bertanding selama bulan suci, dan dipastikan mereka tidak akan mengalami gangguan atau bahaya apa pun dalam kondisi fisik mereka.

“Kami sudah melakukan kajian yang lengkap dan mendalam mengenai para pemain selama bulan Ramadhan. Kesimpulannya adalah jika puasa di bulan Ramadan diikuti dengan benar, tidak bakal ada penurunan pada kinerja fisik para pemain. Kami sudah melakukan penelitian mendalam dan tidak ada sesuatu pun yang mengkhawatirkan kami,” ujar Kepala Bidang Medis FIFA, Jiri Dvorak ketika itu.

“Para pemain yang sedang menjalani ibadah puasa Ramadan selalu memiliki ketentuan untuk meminta pengecualian dan menjalani Ramadhan pada waktu yang lebih tepat. Inilah yang saya pelajari dari para pemimpin agama Islam di Aljazair,” ujarnya.
Puasa tidak masalah
Michel D’Hooghe, ketua komite medis FIFA, mengatakan kepada wartawan, “Puasa Ramadhan seharusnya tidak menjadi masalah dan kami mengalami hal yang sama pada Olimpiade London dua tahun lalu.” Piala Dunia 1986 Meksiko juga diadakan pada Ramadhan.

Permainan sepak bola amat menguras tenaga apalagi bermain pada iklim Brazil yang amat panas dan lembab. Pasalnya, cukup sulit bagi mereka untuk tetap bermain dalam keadaan puasa, mengingat sepak bola menguras tenaga yang maksimal.

Emma Gardner, ahli gizi di English Institute of Sport, mengomentari, para atlet berpuasa harus mempertahankan tingkat kebutuhan hidrasi setiap hari, dan kedua mencoba untuk mempertahankan tingkat atau level kebutuhan energi mereka.

“Massa otot juga merupakan masalah. Penelitian menunjukkan bahwa orang dapat kehilangan massa otot melalui periode di awal Ramadhan,” ungkap Emma.

Sean dan Ibunda Rini Gelael, yang dengan serius memberi pembelajaran di bidang agama kepada putranya. (seangp)
Sean dan Ibunda Rini Gelael, yang dengan serius memberi pembelajaran di bidang agama kepada putranya. (seangp)

Pernyataan Emma agak berbeda dengan komentar Jiri Dvorak yang mengatakan pemain tidak cepat mengalami penurunan kondisi fisik mereka, meski dalam kondisi berpuasa.

“Kami telah membuat studi ekstensif pemain selama bulan Ramadhan. Kesimpulannya, jika Ramadhan diikuti dengan tepat, tidak akan ada penurunan kinerja fisik pemain,” kata Dvorak kepada wartawan.

Dr Ryanita Sandjaya, dalam artikel kesehatan di laman (tanyadok.com) menjelaskan untuk tetap mempertahankan massa otot, para atlet harus berbuka puasa dengan mengonsumsi karbohidrat dan protein dalam jumlah tinggi.

“Hal itu bertujuan untuk memberi nutrisi pada jaringan otot dan sel-sel tubuh lainnya serta menghindari penurunan massa otot akibat lapar yang berlebihan. Menu makan sahur harus memenuhi kecukupan gizi, yaitu komposisi karbohidrat, protein dan lemak harus seimbang, 15% protein, 20-25% lemak dan sisanya karbohidrat,” tutur Ryanita.

“Karena, kekurangan protein dapat menyebabkan banyak protein tubuh yang dipecah saat olahraga. Padahal protein penting untuk proses metabolisme sel-sel otak dan saraf,” ujarnya.

Tim kesehatan dan kebugaran Prancis juga sudah memperhitungkan hal itu, sehingga mereka sudah mempersiapkan program untuk para pemain muslim mereka.

“Pada prinsipnya kami memperbolehkan mereka berpuasa di hari latihan, karena mereka adalah atlet profesional dan kami tahu kondisi fisik mereka sangat bugar, sehingga tidak akan timbul masalah  kalau mereka berpuasa. Kami menghargai keyakinan  mereka,” kata Eric Bedouet, pelatih kebugaran Les Bleus.

Para pemain Muslim yang ketika itu berada di Piala Dunia Brazil, di antaranya, adalah “playmaker” Jerman, Mesut Ozil keturunan Turki, pemeluk Islam sejak kecil, Samir Nasri (Prancis) berdarah Aljazair, Mamadou Sakhi (Prancis), Moussa Sissoko (Prancis), Yaya Toure (Pantai Gading) adik Kolo Toure yang dikenal amat taat beragama.

Sean bersama ayahnya Ricardo Gelael. Kuliah atau balap? Ya..Sean menjalani keduanya. (seangp)
Sean bersama ayahnya Ricardo Gelael. Kuliah atau balap? Ya..Sean menjalani keduanya. (seangp)

Pemain lain adalah Karim Benzema (Prancis) yang tetap puasa kendati sedang mengikuti kompetisi, Marouane Fellaini (Belgia), Sami Khedira, pemain tengah Real Madrid ini pindah dari VBF Stuttgart pada 2010, dan di Brasil ia memperkuat Jerman dan beberapa pemain lainnya.

Kolo Toure, menyatakan akan tetap berpuasa meski harus bertanding saat Ramadhan. Bagi pemain seperti Kolo Toure, puasa bisa tetap dijalankan meski harus bermain bola dalam kompetisi yang ketat.

“Dengan puasa Anda membersihkan tubuh Anda juga dan Anda merasa lebih kuat setelah Ramadhan. Saya pikir itu menakjubkan, bagaimana Ramadhan dapat membuat Anda benar-benar kuat,” tutur Toure.

Tentang puasa atlet itu, striker Chelsea, Demba Ba, yang selalu merayakan golnya dengan cara bersujud di lapangan rumput mengatakan, “Agamaku adalah hal terpenting dalam hidup ini. Ya, Islam jauh lebih penting dari sepak bola,” tutur sang pemain kepada BBC.

Pebalap FIA Formula GP2 Zimbabwe, Axcil Jefferies, seperti dilansir ciibroadcasting.com, menyatakan, ia tetap menjalankan ibadah puasa kendati sedang berlomba pada musim 2015.

Latihan fisik tetap dibutuhkan kendati sedang menjalankan ibadah puasa. (seangp)
Latihan fisik tetap dibutuhkan kendati sedang menjalankan ibadah puasa. (seangp)

“Banyak kegiatanku pada bulan Ramadan dan banyak perjalanan ke berbagai negara. Tapi aku tetap menjalankan ibadah  puasa,” kata Axil, pebalap formula berusia 21 tahun yang pertama dari Zimbabwe dan kedua dari Afrika, setelah Ricardo Teixeira.

Nah, bagi atlet yang harus meninggalkan puasa Ramadan, ada keringanan untuk menggantikannya (qadha’) pada hari lain, sebanyak hari yang ditinggalkannya.

Dalam surah Al-Baqarah : 184, tertulis “Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.

Pembalap muda Rio Haryanto dan Sean Gelael yang sedang dalam menjalankan tugasnya demi negara dan bangsa, — dan jika meninggalkan puasanya – maka mereka dapat menggantikannya pada hari dan bulan lain, karena termasuk sedang dalam “perjalanan”.

Tapi Rio dan Sean biasanya tetap menjalankan ibadah shaum Ramadan. Selamat berlomba putra bangsa. (arl/mimbar-rakyat.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru