Saturday, October 21, 2017
Home > Berita > Sean Gelael, rahasia Socrates dan seni perang Sun Tzu Oleh A.R. Loebis

Sean Gelael, rahasia Socrates dan seni perang Sun Tzu Oleh A.R. Loebis

Sean Gelael berseragam tim Scuderia Toro Rosso. (kompas)

MIMBAR-RAKYAT.com (Jakarta) – Apa hubungan Sean Gelael dengan filsuf Yunani Socrates yang hidup di jaman baheula (477-399 SM) serta ahli strategi perang China kuno, Sun Tzu kelahiran Shantung (551- 479 SM) ?

Rentang waktu kehidupan ketiga orang itu cukup jauh, -terlalu muskil menghubung-hubungkan mereka – tapi ada inti kehidupan yang ditanamkan Socrates dan Sun Tzu yang masih relevan hingga masa kini.

Apa inti kehidupan yang amat penting itu?

Mencapai tingkat kesadaran untuk “menggapai bintang di langit” dan memiliki strategi untuk mengenal diri sendiri – sebagai suatu kearifan sebelum mengenal lingkungan, untuk selanjutnya beradaptasi dan menguasai enerjinya.

Hal ini pernah penulis ungkapkan pada 2014, ketika Sean Gelael masih berusia 17 tahun dan  mengedepankan motto “Heading to the Top”, menjelang  musim kedua perlombaan FIA F3 Eropa, sampai akhirnya ia melewatinya dan naik jenjang ke level yang lebih tinggi.

Dalam tempo tiga tahun, Sean sudah berlaga di ajang Kejuaraan Formula 2, bahkan sudah dipercaya sebagai “test driver” pada tim F1 Scuderia Toro Rosso. Ia diyakini akan tampil di ajang laga F1 dalam satu atau dua tahun mendatang.

Apa sebenarnya kisah mencapai kesadaran yang dicontohkan Socrates? Mari kita simak sesaat uraian di bawah ini:

Suatu ketika seorang pemuda bertanya pada Socrates tentang apa itu keberhasilan dan bagaimana cara mencapainya. Socrates mengatakan pada si anak muda, bila ia ingin mengetahui rahasia sukses, ia harus datang menemuinya esok pagi di dekat sungai.  

Keesokan paginya si anak muda datang ke sungai dan menemui Socrates yang sudah menunggunya. Mereka berdua melangkah masuk kedalam sungai. Saat air sungai setinggi dada, tiba-tiba Socrates membenamkan kepala pemuda itu kedalam sungai. 

Pemuda itu meronta-ronta berusaha melepaskan diri, namun Socrates terlalu kuat baginya. Socrates terus membenamkan kepala si pemuda. Saat hampir lemas, ditariknya kepala pemuda itu ke atas. Hal pertama yang dilakukan pemuda itu adalah menghirup udara dengan dengan menarik nafas  sangat panjang.  

Sebelum pemuda itu sempat berkata-kata, Socrates bertanya, “Apa yang paling kau inginkan saat keluar dari air ?”  

Terengah-engah si pemuda menjawab, “Menghirup udara”. Sambil tersenyum Socrates menjawab, “Itulah rahasia sukses ! ketika engkau menginginkan keberhasilan seperti mendapatkan udara maka engkau akan berusaha keras mendapatkan dan pasti engkau dapatkan, sesungguhnya tidak ada rahasia lain”. 

Apa arti dan makna uraian di atas? 

Keberhasilan berawal dari niat,  usaha, kemauan, kerja keras dan itu semua bersumber dari jiwa atau keinginan dari nurani yang paling dalam.  Meronta-ronta untuk mendapatkan udara, berlari kencang untuk menyentuh finish, bersaing ketat untuk menang. Apa yang ada di rongga mata dan jiwa adalah podium, sebagai udara, dan untuk mendapatkannya perlu usaha ekstra keras. 

Perbuatan Socrates itu adalah perwujudan dari falsafah hidup, merupakan kesadaran tentang alam maujud yang merupakan hakikat ilmu yang menjadi penuntun untuk pelaksanaan atas pemahaman yang menjadi keyakinan per orangan maupun kelompok.

Nah, apa pula strategi perang Sun Tzu yang sebaiknya diadopsi seorang atlet sebelum masuk ke arena laga,  untuk strategi saat bertanding?

Ahli strategi perang China kuno, Sun Tzu, dalam The Art of War, menyatakan,  bahwa kemenangan diraih bukan dengan menaikkan kekurangan, tetapi menyempurnakan kekuatan.

Dalam tuntunan penting Sun Tzu, disebutkan, “Bila Anda mengenal lawan Anda, Anda tidak perlu khawatir dengan hasil ratusan pertempuran. Bila Anda mengenal diri Anda sendiri dan tidak mengenal lawan Anda, setiap kemenangan yang Anda peroleh juga seperti mengalami kekalahan. Bila Anda tidak tahu siapa diri Anda dan diri lawan Anda, maka Anda akan selalu kalah dalam tiap pertarungan.” 

Inti cerita Socrates dan Sun Tzu,  adalah membentuk kesadaran untuk maju menuju stasiun terdepan dari perjalanan cita-cita dan bagaimana cara untuk maju, dengan kata lain adanya “passion” untuk komit dengan diri sendiri dalam usaha “heading to the top”.

Sean, kelahiran 1 November 1996, yang mulai mengenal kendaraan bermotor sejak usia delapan tahun, merupakan sosok utuh seorang pebalap. Ia replika para juara lainnya yang mengawali kiprahnya di dunia otomotif sejak usia amat dini. Pada usia 10 tahun tampil sebagai juara nasional navigator reli mobil dan mendapat penghargaan MURI dunia, tentu merupakan hal fantastis.

Kita melirik sejenak larik rap F3 Carnival karangan Sean, putera Ricardo dan Rini Gelael, mengatakan,

//What’s my mission?// Been drawing racing cars with a can of crayon// Found out my passion, settin’ big ambitions// Flamin’ the pistons in the top step of the podium with two blondes// ….You wanna mess with a racing driver who survives//…It’s Sean GP and KFC and all y’all see me flee//.

Larik dari lirik lagu ini adalah “misi”, “niat”, “ambisi” untuk melangkah ke podium dan para pengamat melihat ia bersama anggota tim “Jagonya Ayam” melayang cepat ke angkasa. Ini adalah puisi sebagai sentuhan dari bawah sadar untuk meraih kemenangan. Ini adalah inti “heading to the top”.  Ini adalah udara segar Socrates sebagai kebutuhan utama dalam kehidupan.

Keinginan untuk maju dan memajukan itu, tidak saja atas diri sendiri, tetapi juga bagi para pebalap lain seusianya yang tersirat dari ungkapan “We do not earn from drivers, but we create earning for them”.

Dalam merintis karir, Sean Gelael Gelael pernah bermitra dengan teman setimnya di Jagonya Ayam, di antaranya Tom Bloqvist (Inggris), Antonio Giovinazzi (Italia), Tom Dillmann (Prancis), Mitch Evans dan pada 2017 bersama Norman Nato. Sean dan Nato berlaga di ajang Formula 2 membawa bendera Pertamina Arden dan bertarung sebanyak 11 putaran.

Antonio kini tampil sebagai “reserved driver” dalam tim F1 Scuderian Ferrari, Tom Blomqvist pada 2017 mendukung tim pabrik DTM BMW, Tom Dillmann juara F V8 3.5 pada 2016, Mitch berlaga di FE 2017 mendukung tim pabrik Jaguar.

Pantas di F1

Tentang Sean Gelael, bos Scuderia Toro Rosso, Franz Tost, ketika datang ke Jakarta mengatakan, pihaknya sudah lama mengikuti perkembangan Sean Gelael.

“Saya merasa Sean pantas membalap di ajang F1 dengan syarat ia bekerja lebih keras,” kata Tost, sembari menunjukkan grafik waktu test Sean yang tidak jauh berbeda dengan pebalap F1 dari tim lain yang juga melakukan latihan.

Ia menambahkan, manajemen Toro Rosso masih terus mengamati kemajuan Sean pada dua test drive   berikutnya di Hungaria dan Abu Dhabi. Pemilik tim Arden, Garry Horner, pun memberi komentar.  Garry adalah ayah kandung bos tim F1 Red Bull, Christian Horner, dan menurut dia dipilihnya Sean sebagai pebalap penguji di tim Toro Rosso merupakan kepercayaan besar.

Ia mengatakan, Sean dinilai memiliki intelejensi tinggi dan ia dapat mengenal karakter mobil dengan   baik dan banyak memberikan input yang benar kepada engineering dan tim mekanik.

Kata kuncinya adalah “kepercayaan” dan hal ini pasti tidak disia-siakan Sean Gelael, yang tetap berpegang teguh dengan cita-citanya sejak masa kanak-kanak.

Nah, berdasar catatan, dari 12 pebalap yang mengikuti sesi latihan “test driver” di Bahrain, catatan waktu Sean menempati urutan kedelapan. Adapun waktu tercepat pada sesi latihan hari pertama dibuat pebalap Mercedes Lewis Hamilton dengan torehan waktu satu menit 32,798 detik.

“Saya merasa Sean pantas membalap di ajang F1 dengan syarat ia bekerja lebih keras,” kata Tost, sembari menunjukkan grafik waktu test Sean yang tidak jauh berbeda dengan pebalap F1 dari tim lain yang juga melakukan latihan.

Ya, ini kata kuci lainnya, “kerja lebih keras”, dan Sean Gelael menyatakan siap untuk melakukan hal itu.

“Perjalanan saya masih panjang. Saya harus kerja lebih keras. Saya gembira dapat kepercayaan sebagai penguji di Scuderia Toro Rosso.  Cita-cita saya sejak kecil jadi pebalap tenar, membalap di ajang F1,” tutur Sean.

Manajemen Toro Rosso masih terus mengamati kemajuan Sean pada dua test drive berikutnya di Hungaria dan Abu Dhabi.

Selain itu, Sean dan teman setimnya di Pertamina Arden, Norman Nato, harus fokus pada lomba F2 yang sudah dimulai di Bahrain pada 14-16 April dan putaran keduanya di Barcelon, 12-14 Mei 2017.

Sebagai akumulasi keinginan Sean mencapai cita-citanya, tidak salah bila ia membayangkan sedang meminta nasihat tentang keberhasilan kepada Socrates menyangkut peningkatan kadar kesadaran dan berguru kepada Sun Tzu tentang strategi di lapangan.

Dari ini semua – yang paling penting – adalah menyadari adanya Garuda di dada dan berlomba demi Merah Putih dan Indonesia Raya.

Selamat berjuang Sean Gelael, doa kami bersamamu.  (arl)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hallo kawan, silahkan klik tombol Like / Follow untuk mendapatkan berita dan tulisan terbaru